Aku mau kalian vote bab ini dulu terus follow ig aku @wiwirmdni21
Selamat membaca..
Hendra Pradiningrat memasuki ruang BK dengan langkah cepat dan wajah yang penuh kemarahan. Nina, istrinya, mengikutinya dengan tatapan cemas namun tetap menjaga sikap yang tenang.
"Liona!" teriak Hendra begitu masuk ke dalam ruangan. Suaranya memenuhi ruangan BK yang sepi itu.
Liona yang sedang duduk di depan meja BK mengangkat kepalanya perlahan. "Ayah.." balasnya dengan suara tenang. Tidak ada rasa takut dan menyesal di wajahnya.
"Apa yang terjadi, Liona? Apa yang telah kamu lakukan pada Ilona?" Hendra mendekati meja dengan langkah berat. Wajahnya merah padam karena amarahnya yang memuncak.
Liona tersenyum sinis. "Ilona? Oh, hanya sedikit interaksi sosial, Ayah. Dia hanya sedikit terganggu karena kebenaran."
"Jangan main-main, Liona!" Nina mencoba meredakan situasi, tetapi suaranya terdengar gemetar.
"Siapa juga yang main-main?" Liona meliriknya tajam.
Nina menatapnya nyalang. "Ilona itu adikmu, seharusnya kau bersikap baik padanya."
"Ilona bukan adik gue, gue anak terakhir. Lo ngerti Nina?" Liona menatap wanita itu tajam.
"LIONAAA!!!"
Plak
Hendra dengan emosi yang meluap menampar Liona kasar. Tanpa rasa kasihan, tangan besar itu dengan ringan terangkat hanya untuk melukai Liona.
"Bapak Hendra saya mohon untuk tidak bermain kasar.." kata Pak Bisma melerai.
Liona menatapnya nyalang. "Silahkan, kalau perlu pakai belati sekalian buat bunuh gue." kata gadis itu dingin.
"Sekarang, katakan padaku, Liona. Apa yang telah kamu lakukan?" Hendra mengulangi pertanyaannya dengan nada yang semakin meninggi.
Liona mengangkat bahu dengan santai. "Gue cuma ngasih tahu Ilona soal beberapa hal yang kayaknya dia lupa sampaikan ke Ayah."
"Apa maksudmu, Liona?" tanya Hendra dengan suara parau.
Liona menatap tajam ke arah Hendra. "Ayah tau, rahasia keluarga kita memang sangat menarik untuk dibahas."
Hendra mengerutkan kening, jelas bingung dengan apa yang dikatakan Liona. Nina mencoba memegang tangan Hendra, tetapi dia menepis dengan gerakan kasar.
***
Sementara itu, di ruangan tersembunyi Arion di dalam sekolah, dia duduk sendirian di depan layar monitor CCTV. Tampilan dari beberapa sudut sekolah memenuhi layar, termasuk ruang BK yang sedang dihadiri oleh Hendra, Nina, dan Liona.
Arion menatap layar dengan wajah datar, memperhatikan kejadian di ruang BK dengan seksama. Dia melihat bagaimana Hendra memasuki ruangan dengan ekspresi marah, diikuti oleh Nina yang cemas. Liona, duduk dengan tenang di hadapan meja BK, tampaknya tidak tergoyahkan oleh kemarahan Hendra.
Tiba-tiba, Hendra mengeluarkan teriakan keras yang terdengar dari layar.
Arion mengangkat alisnya sedikit, menunjukkan sedikit kekaguman akan keberanian Liona dalam menghadapi situasi sulit seperti ini.
Arion menyadari bahwa Liona adalah sosok yang tidak mudah ditebak, dengan kecerdasan dan ketegasannya yang membuatnya menonjol di antara siswa lainnya.
Meskipun tidak sepenuhnya setuju dengan cara Liona berurusan dengan masalah, Arion merasa tertantang oleh kompleksitas karakternya.
"Sama sekali tidak memiliki kesamaan dengan Ayahnya sendiri." kata Arion memperhatikan Hendra yang menampar Liona.
"Shit!" desis lelaki itu bersamaan dengan suara menggema tamparan itu.
Sementara disisi Liona. Gadis itu mengusap pipinya yang terasa kebas, perih dan panas. "Pak Bisma?"
"Ah iya nak Liona?" guru yang dipanggil Liona itu menoleh.
"Berapa kali aku melakukan kesalahan selama bersekolah disini?" tanya Liona tanpa melihat guru itu.
"Baru kali ini, saya pun bingung dengan perubahan nak Liona dalam menangani masalah-"
"Itu namanya muak, Pak." kata Liona menatap tajam guru itu.
Semuanya terdiam hingga Liona kembali mengeluarkan suara. "Berapa kali saya melaporkan tindakan bullying selama setahun terakhir?"
Para guru itu pun terdiam. Aduan bully seringkali Liona katakan. Namun tidak ada yang peduli.
"Tidak tau kan? kalian tidak tau karna ada begitu banyak aduan yang saya masukkan namun tak ada dari kalian yang berani bertindak." Liona menghela nafas.
"Namun karna masalah sepele seperti ini kalian gercep sekali, ada apa sebenarnya? Sekolah ini cacat dan jangan libatkan siswa untuk cacat juga."
"SEPELE KATAMU?! KAKI ILONA PUTRI SAYA BAHKAN PATAH GARA-GARA KAMU? SIALAN!!" teriak Nina memarahi Liona.
"Syukur dong gue nggak bikin dia beneran patah, gak usah lebay." kata Liona tersenyum sinis.
Nina menarik kerah baju Liona. "Jangan main-main terhadap saya, kamu mengerti?" bisiknya dengan tatapan tajam.
Liona mengangkat tangannya dengan raut pasrah namun bibirnya tersenyum miring. "Mengerti, mengerti..."
Nina menghempaskan tangannya kasar. "Sekarang kamu harus bertanggung jawab atas Ilona!"
"Heum? Memangnya saya menghamili Ilona?" Liona mengangguk-angguk kemudian tertawa. "Atau Ilona sedang hamil?"
Plak
"Tutup mulutmu jalang sialan!!" bentak Nina marah, wajahnya merah padam emosi.
"Nina!" tegur Hendra pelan. Lelaki itu menatap beberapa guru yang menatap istrinya itu kaget.
"Bitch? That's you!" Liona tertawa menatap Nina. Lucu sekali wanita ini.
"Hendra! Anak ini benar-benar keterlaluan dan kamu tau itu!!" Nina menatap suaminya dengan jengah. "Apakah dia benar-benar anakmu?!"
"Gue juga ragu soal itu." Liona menyaut dengan mata berbinar. "Ternyata kita memiliki kesamaan ya, Nina?"
"Bisa diam? Kau hanya memperkeruh suasana!"
"Bagaimana aku bisa terdiam sedangkan disini akulah pemeran utama?" Liona tersenyum tengil.
Nina menggerutukan giginya dengan emosi yang hampir mencapai puncaknya. "Anak ini benar-benar berubah."
"Nak Liona, kami mengundangmu ke sini sebagai tersangka. Bapak mohon kamu duduk diam dan jawab pertanyaan dari kami."
"Oke." Liona kembali duduk dengan nyaman. Terdengar sedikit geraman saat merasa kepalanya pening luar biasa.
"Sebelum itu Ilona akan kami panggil untuk dimintai keterangan." Salah satu guru keluar untuk menjemput Ilona di UKS.
Didepan ruangan BK ada banyak sekali siswa yang ingin tau apa yang terjadi.
***
"Pokoknya saya nggak mau tau, Bu! Liona harus di sanksi seberat-beratnya!!" Ilona datang sambil menggerutu dengan kaki pincang.
Liona terkekeh. "Lo cocok pake kruk."
"LIONA!" bentak Hendra.
"Emang tengorokan kalian nggak sakit teriak mulu? Gue didepan kalian. Kalian bisik-bisik juga gue denger." Liona menatap datar Ayahnya itu. "Stop menyakiti diri-sendiri," Karna itu tugas gue.
Ilona duduk diantara kedua orang tuanya, Hendra dan Nina. Liona berdecak, selalu karna Ilona.
"Ayah, kaki aku sakit..."
"Kita ke rumah sakit setelah ini ya?"
Ilona mengangguk lemah. "Ayah nggak terima kan aku diginiin sama kak Liona?"
Hendra mengangguk kemudian mengusap kepala Ilona pelan.
"Nak Ilona, apa sebelumnya kamu beradu argumen dengan Liona?"
Ilona mengangguk. "Awalnya aku cuma mau gabung di mejanya kak Liona, tapi dia nggak terima..."
"Kuah bakso di baju kamu apakah Liona penyebabnya?"
"Iya, Pak. Dia langsung nyiram saya!"
"Kan lo duluan yang mulai jadi kalo gue bales nggak salah dong?" kata Liona santai.
"Liona, kamu bisa diem dulu?" pinta Hendra muak.
"Apakah kamu memancing emosi Liona?" kata Pak Bisma dengan pandangan bertanya.
"Nggak pak, Liona langsung nyiram saya pake jus terus nyiram perut saya pake kuah bakso yang masih panas, pak. Cuma gara-gara dia nggak suka saya ikut gabung di mejanya."
"Oke, ngibul aja terus. Dasar playing victim." kata Liona menatapnya datar.
"Nggak pak, saya nggak ngarang!"
"Emang sejak kapang lo nggak ngarang? Curiga dewasanya sukses nulis novel. Lo kan suka halu."
"BERISIK, BISA DIEM NGGAK SIH LO?!" bentak Ilona menunjuk-nunjuk wajah Liona.
"Lo yang mulai, lo yang panas." kata Liona tanpa beban.
#Tbc
1098 kata. Secuil jejak anda, means a lot_
Follow ig: @wiwirmdni21
Follow juga akun wattpad cerita ini yaa..
VOTE DAN KOMEN YAAA SUPAYA UP NYA NGGAK LAMA..
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!