Aku mau kalian Vote cerita ini dulu yaa kemudian follow ig @wiwirmdni21
Happy Reading!!
Liona menarik dagu Ilona untuk menghadap ke arahnya. Liona tersenyum tipis ketika gadis di depannya tampak berusaha menghindar. Digenggamnya erat dagu itu kuat dengan kuku yang kian menekan kuat kulit Ilona.
"Stop gangguin gue pelacur sialan." bisik Liona di telinga Ilona. "Lo nggak tau kan sebahaya apa jejak digital? Dan gue punya semua jejak digital lo."
Ilona membulatkan matanya. Gadis itu memberontak dengan wajah pucat. "Apa yang lo maksud?!"
Liona semakin menekan kukunya di dagu gadis itu. Ia menyeringai, "Lo nggak paham? Apa gue sebarin dulu baru lo sadar?" katanya sambil senyum. "Anak dari hubungan gelap Hendra Pradiningdrat dengan Sarnina Winata ternyata pernah tidur dengan saudaranya sendiri."
"Akhhhhh!" pekik Ilona keras. "TOLOOONGG SESEORANG TOLONGG!!" teriaknya tiba-tiba.
Liona bahkan sampai mengerutkan dahinya bingung. Namun di detik berikutnya ia kembali menyeringai. "Dasar playing victim."
"KALIAN BERDUA!!" teriak suara Pak Bisma dari belakang kerumunan siswa.
"PAK TOLONG SAYA PAK.." teriak Ilona dengan air mata di pipinya.
Liona terkekeh kemudian beranjak. "Tolongin nih pak, kasian anaknya lagi sekarat." katanya enteng.
Ilona menangis ketika Pak Bisma mendekat. Liona menatapnya jengah, kemudian tanpa rasa ragu ia menginjak pergelangan kaki Ilona kuat hingga sedikit menimbulkan suara geseran tulang disana.
"Akhhhhhhh!!! BRENSEKKKK LO LIONAA!!!" teriak Ilona dengan wajah memerah menahan sakit.
Liona tersenyum lebar. "Apa? padahal gue nggak ngelakuin apapun?" katanya. Ia puas, sangat puas.
"KALIAN BERHENTI SEKARANG!!" teriak Pak Bisma membantu Ilona berdiri.
"Aku nggak bisa berdiri pak, Liona injak kaki saya." adu Ilona.
Liona mengangkat bahu tidak peduli. Dia berani melakukannya karna sudah pasti dia yang akan jadi tersangka dengan bukti kuat kuah bakso di seragam Ilona.
"Ikut ke ruang BK kamu!" perintah Pak Bisma dengan mata nyalang.
"Iya Pak." kata Liona santai kemudian berjalan pergi.
"Sialan." gumam Ilona dengan tatajam tajamnya menatap punggung Liona yang semakin jauh.
"Kamu tidak apa Ilona?"
"Aku nggak mau tau pokoknya si Liona harus dapet hukuman berat Pak!!" kata Ilona menggebu.
"Kami telpon orang tua kalian dulu ya?"
Ilona mengangguk lemah kemudian berusaha berdiri dibantu Pak Bisma.
***
Liona menatap lapangan dari rooftop sekolah dengan pandangan datar. Tepat saat itu juga dia melihat Hendra dan Nina yang baru sampai berjalan beriringan kearah ruang BK.
"Ck, giliran putri kesayangan mereka kompak gini datangnya." desis Liona.
Cklekk
Suara pintu terbuka dari arah lain membuat Liona menoleh. Gadis itu menyadari jika disana terdapat ruangan kecil seperti gudang yang pintunya sedikit terbuka.
"Hh? Perasaan nggak ada deh ruangan kayak gini disini? Atau emang akunya aja yang nggak merhatiin?" gumam Liona berjalan mendekat.
"Kayaknya gudang.." gumam Liona mendorong pintu itu.
"Lo ngapain disini?" suara dari arah belakang membuat Liona refleks berbalik dan sedikit menjauh.
Orang itu mengangkat alisnya sebelah dengan kening berkerut. "Kaget banget?" kekehnya.
"Arion?" cicit Liona menatap cowok dengan jaket hitam itu curiga. "Kenapa lo bisa disini?"
"Harusnya gue yang nanya, Hazel Elnara." Arion bersandar di pintu, menatap Liona datar.
Liona menatap sekitarnya. Sial, ini bukan gudang tapi seperti ruangan pribadi dengan kasur di dalamnya juga komputer diatas meja. Tak lupa sebuah samsak tinju di tengah ruangan itu.
Liona menatap Arion dengan tatapan menyelidik. "Ini semua milik lo?"
Arion mengangguk. "Punya gue."
"Tapi inikan kawasan sekolah, kok bisa?"
"Sekolah lo ini punya kakek gue, jadi bebas, sekalian mantau warisan sih." kata Arion santai kemudian berjalan melalui Liona begitu saja.
Liona memberhatikan Arion yang mulai mengacak-acak komputernya. Disana ada tayangan CCTV yang memperlihatkan beberapa bagian sekolah seperti lorong sekolah, kantin, parkiran, tangga lantai 2, dll.
"Jadi ini pekerjaan lo? Pengawas CCTV." Liona tertawa pelan.
"Lo bisa bilang apa aja, sebahagia lo aja." Arion bersandar ke kursinya kemudian menatap Liona. "Nggak ke ruang BK?"
Liona menghela nafas. "Lo liat ya tadi?"
Arion mengangguk. "Dramanya bagus."
Liona tersenyum miring. "Yahh, lumayan. Gue yang kena."
Gadis itu menelisik beberapa sudut ruangan. Bibirnya tersenyum. Arion punya potensi untuk membantunya balas dendam. Arion sepertinya bukan orang sembarangan. Terbukti dengan beberapa alat tajam diatas nakas.
"Itu pajangan." kata Arion ketika menyadari pandangan Liona.
Liona mengangguk. "Boleh gue gores ke tangan gue?" katanya tanpa sengaja.
Arion tercengang. "Maksudnya?"
"Itu asli."
Cowok itu terkekeh. "Oke, itu memang asli. But, kenapa lo nanya?"
Liona menatap Arion dengan tajam, bibirnya sedikit menyeringai. "Gue bisa sebarin lho soal ruangan ini ke warga sekolah."
Arion menatapnya tanpa ekspresi, tetapi ada sedikit ketertarikan di matanya. "Lo bener, sebarin aja. Tapi apa yang bakal lo dapetin dengan itu?"
Liona menatapnya dengan tatapan penuh tantangan. "Gue butuh bantuan lo, Arion. Lo bisa jadi kunci balas dendam gue. Gue tahu lo punya kemampuan yang bisa gue gunain."
Arion mengerutkan alisnya. "Apa yang bisa gue lakuin buat lo?"
Liona berjalan mendekat ke meja tempat Arion duduk, dia menunjuk pada layar monitor CCTV yang menampilkan beberapa sudut sekolah. "Gue butuh informasi, akses ke CCTV ini bisa bantu rencana gue."
Arion mengangguk, mengerti kalau Liona punya rencana yang ambisius. "Lo memang nggak main-main, ya? Tapi apa yang bakal gue dapetin sebagai imbalan?"
"Lo minta apa aja gue kabulin, asal jangan ngajak tidur."
Arion menatapnya tajam. "Gue nggak ngantuk,"
Liona tertawa. "Lo polos juga ya." katanya membuat Arion menatapnya datar. "Okey, lo mau apa?"
Arion menatapnya lama dengan ujung bibir sedikit terangkat membentuk seringaian. "Patuhi semua apa yang gue bilang,"
Liona mengangguk tanpa ragu. "Okey."
Arion menatap Liona dengan tatapan dalam yang mengandung sedikit niat bahaya. Matanya menyelidiki setiap ekspresi di wajahnya, mencoba memahami betapa seriusnya Liona dalam usahanya untuk mendapatkan bantuannya. Dia bisa merasakan ketegangan di udara antara mereka, sebuah permainan di mana taruhannya lebih dari sekadar informasi.
"Gue nggak main-main, Liona," ucap Arion dengan suara rendah, mencerminkan perhatiannya yang tajam. "Lo udah tahu risiko yang lo ambil dengan mengancam kayak gini?"
Liona menatapnya balik, tidak gentar. "Gue tahu. Tapi gue yakin lo punya alasan kenapa lo masih di sini dan kenapa gue nggak bakal ngecewain lo."
Arion mengangguk, memberikan sedikit ruang untuk kepercayaan. "Lo punya keberanian yang jarang gue temuin, Liona. Tapi inget, janji lo harus dipatuhi dengan benar. Gue nggak main-main soal kepercayaan."
"Oke, dan apa yang harus gue lakuin untuk yang pertama?"
Arion menatapnya lekat kemudian cowok itu mengalihkan tatapannya. "Lo cukup diem aja sekarang. Kalau perlu keluar."
Liona mengangguk. "Oke, gue juga mau ke ruang BK. Kalau mau nonton pertunjukan menarik liat aja rekaman CCTVnya."
#Tbc
Follow ig: @wiwirmdni21
Secuil jejak anda, means a lot_
VOTE DAN SPAM KOMEN YAAA
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!