Chapter 21 of 64

TSK-24

TRANSMIGRASI SANG KETUA1,373 words~7 min read

Vote duluuuuuuu🫂

Helaan nafas berat terdengar. Seorang lelaki memandang kota dari lantai teratas gedung dengan wajah tanpa ekspresi.

"Arion," panggil seseorang dari arah belakang.

Lelaki itu tetap bergeming. Mengabaikan panggilan tadi dan hanya fokus pada perhatiannya. Namun tangannya mengenggam kuat pembatas jendela dengan kuat. Seperti mencoba meredam amarahnya.

Orang yang memanggil Arion tadi akhirnya mendekat, berhenti beberapa langkah di belakangnya. "Kau tahu, tidak ada gunanya menyimpan semuanya sendiri," kata suara itu lagi, lembut namun tegas.

Arion tetap tidak beranjak dari posisinya. Matanya masih terpaku pada kelap-kelip lampu kota yang terlihat seperti lautan bintang buatan di bawah sana. Tapi ada yang berbeda. Tatapannya lebih tajam, seolah memendam perasaan yang begitu dalam hingga tak terucapkan.

"Aku tahu kau marah," lanjut suara itu, kali ini dengan nada yang sedikit lebih menekan. "Tapi, Arion, kalau kau terus seperti ini, kau akan menghancurkan dirimu sendiri."

Akhirnya, Arion menarik napas dalam, namun kali ini napas itu terdengar lebih seperti erangan tertahan. Matanya terpejam sesaat sebelum dia melepaskan genggamannya dari pembatas jendela. Dia berbalik, menatap sosok yang ada di belakangnya. Ada kilatan yang hampir tak terbaca di matanya—campuran antara kepedihan, kemarahan, dan ketidakberdayaan.

"Ayah," ucap Arion dengan suara yang rendah namun penuh emosi. "Aku... tidak bisa memaafkan diriku sendiri."

"Kematian Elara ibumu bukanlah salahmu-"

"Tetap saja..." potong Arion.

"Kamu percaya takdir?" tanya Ayahnya. Pria itu menatap putranya dengan mata sayunya.

Arion terdiam, menatap ayahnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Pertanyaan tentang takdir membuatnya kembali merenung, membiarkan kata-kata itu bergema dalam pikirannya. Takdir, sesuatu yang pernah ia percayai, tapi sekarang hanya terasa seperti konsep yang hampa.

"Aku pernah percaya pada takdir," jawab Arion akhirnya, suaranya terdengar berat. "Tapi jika ini takdirku—kehilangan Ibu—aku tidak tahu lagi harus percaya pada apa."

Ayahnya mendekat, menyentuh bahu Arion dengan lembut. "Takdir memang kadang kejam, Nak. Tapi itu bukan alasan untuk membenci diri sendiri. Kehilangan ibumu adalah sesuatu yang tak bisa kita kendalikan. Takdir memang sudah menuliskan jalannya, tapi bagaimana kita menghadapi itu... itulah yang bisa kita pilih."

Arion menunduk, matanya terpejam. "Aku hanya ingin bisa melindungi orang-orang yang aku sayangi... Aku gagal melindungi Ibu, Ayah. Bagaimana kalau aku gagal lagi?”

***

Liona menghela nafas jengah. Sikap teman sekelasnya langsung berubah ketika mengetahui jika dia bersaudara dengan Arka.

Gadis itu terkekeh sinis. "Dasar muka dua,"

Liona melangkah keluar dari kelas dengan langkah tegas, berusaha menjauh dari tatapan penasaran dan bisikan-bisikan yang mulai terdengar di belakangnya. Dia tahu persis apa yang sedang dibicarakan teman-temannya—betapa beruntungnya dia dianggap hanya karena dia adalah adik dari Arka, salah satu siswa paling populer dan disegani di sekolah.

"Sial sekali." gumamnya pelan, merasa muak dengan kemunafikan di sekitarnya.

Sebelumnya, Liona jarang mendapat perhatian khusus. Tapi sekarang, seolah-olah semua orang tiba-tiba ingin mendekatinya hanya karena koneksinya dengan Arka. Dia bisa merasakan perubahan sikap yang begitu jelas—senyuman palsu, pujian yang terdengar dipaksakan, dan percakapan yang lebih terasa seperti upaya mendekati Arka lewat dirinya.

Ketika Liona sampai di koridor yang sepi, dia berhenti sejenak, bersandar di dinding dan menutup matanya. Dia merasa lelah. Semua harapan palsu dan ketulusan yang menghilang membuatnya semakin enggan berinteraksi dengan teman-temannya.

"Kalau mereka peduli, mereka seharusnya ngelakuin itu sebelum tau siapa ," Liona berbicara kepada dirinya sendiri, mencoba menenangkan dirinya. Dia tertawa sumbang.

Sejujurnya, dia merindukan masa-masa ketika dia bisa menjalani harinya tanpa embel-embel nama besar kakaknya. Sekarang, semuanya terasa seperti sebuah sandiwara yang melelahkan.

Liona membuka mata, menatap ke arah jendela yang memantulkan bayangannya. "Capek banget..."

"Kalau mereka nggak bisa nerima gue apa adanya, yaudah," pikirnya sambil melangkah pergi, mencoba menjaga jarak dari orang-orang yang hanya melihatnya sebagai bayangan dari Arka.

***

Liona melangkah di koridor dengan kepala tegak, berusaha menjaga ketenangannya meskipun hatinya dipenuhi emosi. Namun, saat dia berbelok di sudut menuju aula, dia melihat Reina dan beberapa temannya berdiri di sana, seolah-olah sudah menunggu kedatangannya. Wajah angkuh Reina menyiratkan sesuatu yang tidak menyenangkan.

"Liona," sapa Reina dengan nada manis yang terdengar palsu. "Akhirnya lo muncul juga."

Liona berhenti, menatap Reina dengan dingin. "Ngapain lo?" tanyanya tanpa basa-basi.

Reina melangkah mendekat, senyumnya berubah menjadi seringai yang tajam. "Jadi, sekarang lo udah punya tempat buat ngadu, ya? Punya kakak terkenal memang menguntungkan, kan?"

Beberapa temannya terkekeh, mengikuti jejak Reina. Liona merasakan amarahnya mulai membara, tapi dia berusaha menahannya, tidak ingin memberikan mereka kepuasan melihatnya terganggu.

"Tempat ngadu? Maksud lo?" tanya Liona, meskipun dia tahu persis arah pembicaraan ini.

Reina melipat tangan di depan dada, ekspresi angkuh terlihat jelas di wajahnya. "Yah, lo tahu, kalau ada masalah, lo bisa langsung lari ke Arka. Begitu kan yang lo lakukan? Menyembunyikan diri di balik nama besar kakak lo itu haha!!"

Liona mengepalkan tangannya, mencoba menahan gatal yang mulai merayap di ujung jari-jarinya. Tapi Reina tidak berhenti di situ.

"Berbeda sekali dengan Ilona, ya?" lanjut Reina dengan nada mengejek. "Dia bahkan nggak perlu bantuan siapa pun buat dapetin itu semua. Dia bisa semuanya sendiri. Lo? Lo cuma bayangannya Arka. Kasihan banget."

Tawa mengejek teman-teman Reina semakin memperkeruh suasana. Liona merasakan darahnya mendidih, seluruh tubuhnya tegang menahan amarah.

Dia tidak bisa lagi mendiamkan penghinaan ini. Tanpa berpikir panjang, tangannya melayang ke udara dan mendarat keras di wajah Reina.

Plaaak

Tamparan itu bergema di sepanjang koridor, membuat suasana seketika sunyi. Mata Reina membelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Bekas tamparan merah mulai terlihat di pipinya, kontras dengan kulitnya yang pucat.

Liona menatap Reina dengan penuh kebencian. "Gue mungkin adik Arka, tapi jangan pernah berpikir gue akan biarin lo rendahin gue kayak ini. Lo nggak tahu apa-apa tentang gue, jadi berhenti bicara seolah-olah lo lebih baik."

Reina terhuyung, masih terkejut, tetapi raut wajahnya berubah menjadi lebih dingin, lebih kejam. "Berani lo—"

"Berani? Gue bahkan nggak butuh keberanian buat hadapi orang kayak lo, Reina," potong Liona tajam. "Jadi kalau lo mau lagi, pastikan lo siap buat nerima konsekuensinya."

Teman-teman Reina tampak bingung, tidak yakin harus berbuat apa. Reina, yang masih memegang pipinya yang memerah, mencoba menyelamatkan sisa harga dirinya dengan mengerutkan bibirnya, namun jelas terlihat bahwa dia tidak menyangka Liona akan melawan seperti ini.

"Ayo pergi," ujar Reina akhirnya dengan angkuh, meskipun suaranya bergetar marah. Dia berbalik dan berjalan menjauh, diikuti teman-temannya yang masih bingung.

Liona menatap punggung Reina yang mulai menjauh, dan sesuatu dalam dirinya mendorongnya untuk tidak berhenti sampai di situ. Dia melangkah maju, suaranya lantang dan tajam, memastikan kata-katanya terdengar jelas di telinga Reina dan teman-temannya.

"Apa yang salah, Reina?" Liona mengejek dengan nada sinis. "Lo merasa hebat ya, kalau bisa ngejek orang lain? Tapi sekarang malah kabur kayak pengecut. Ternyata, di balik semua omong kosong lo, lo cuma bisa sombong kalo nggak ada yang lawan, ya?"

Reina berhenti di tengah langkahnya, wajahnya memerah, sebagian karena tamparan Liona, tapi lebih karena malu dan marah yang mulai menggelegak dalam dirinya. Dia berbalik perlahan, matanya penuh kemarahan yang hampir tidak terkendali.

"Lo pikir lo siapa?" bentak Reina, suaranya bergetar karena menahan emosi. "Cuma karna lo pernah hampir patahin kaki gue, bukan berarti lo bisa nginjek-nginjek gue lagi, Liona!"

Liona melipat tangannya di depan dada, ekspresinya tidak berubah sedikit pun. "Gue nggak perlu jadi siapa-siapa buat nunjukin tempat lo yang sebenarnya. Lo pikir dengan semua omongan kasar lo, lo bisa rendahin gue? Lo salah besar. Sekarang semua orang bisa lihat siapa yang sebenarnya lemah di sini."

Beberapa teman Reina tampak gelisah, jelas mereka tidak terbiasa melihat pemimpin mereka dipermalukan seperti ini. Salah satu dari mereka mencoba menarik lengan Reina, seolah-olah memintanya untuk pergi sebelum situasinya semakin buruk, tetapi Reina menepisnya dengan kasar.

"Lo cuma pintar bicara, Liona," sahut Reina dengan nada mencemooh, meskipun terlihat bahwa kata-kata Liona sudah mengganggunya. "Gue nggak takut sama lo!"

Liona tersenyum tipis, tetapi senyum itu penuh dengan rasa puas. "Mungkin enggak, tapi lo jelas takut dengan kebenaran. Dan kebenarannya adalah, tanpa semua omong kosong dan ejekan lo, lo bukan apa-apa. Semua orang di sekolah ini tahu itu, cuma lo-nya aja yang nggak sadar."

Kata-kata itu menghantam Reina tepat di tempat yang paling menyakitkan. Wajahnya memerah semakin parah, tetapi kali ini bukan hanya karena amarah. Ada rasa malu yang jelas tergambar di matanya, karena dia tahu bahwa apa yang dikatakan Liona mungkin benar.

"Kita lihat saja nanti," desis Reina akhirnya, berusaha menyelamatkan sisa harga dirinya.

"Liat aja sendiri."

#tbc

Follow ig: @wiwirmdni21 / @thrillgrace

Follow tiktok: @Velinxndr

KOMEN DOONG YANG BANYAKKK HIHI😖🖤

JANGAN LUPA VOTE🖤

Bonus foto Liona dan kedua kakakny—Alden dan Arka pas kecil

Rafan ngikut bapaknya ke kantor:)

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!