Vote duluuuuuuuuu
Selamat membaca!
Liona meremas rambutnya sembari memandang tubuh tak bernyawa Eros. Sial, dia melupakan satu hal. Kemana dia harus membuang jasadnya.
"Kalau gue Stella udah hilang jasad ini." gumamnya. "Udah mati masih aja ngrepotin."
Liona berfikir keras tanpa mempedulikan penampilannya. Darah di wajah hingga lehernya di usap kasar hingga masih tersisa sedikit. Gaunnya bahkan tidak bisa disebut gaun lagi karna rusak.
"Arion..." gumam Liona setelah memikirkan lelaki itu.
Liona mengeluarkan ponselnya, darah dingin meresapi kulitnya. Dia mencari nama Arion dalam daftar kontak, mengetuknya, dan menempelkan ponsel ke telinga.
"Arion, gue butuh lo sekarang," suaranya terdengar datar, hampir seperti perintah. Tak ada penjelasan lebih lanjut, hanya nada yang membuat siapa pun tak bisa menolak.
Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki cepat mendekati pintu. Arion muncul dengan napas sedikit terengah, matanya langsung terpaku pada tubuh Liona yang berantakanâgaunnya robek, kulitnya berlumuran darah, rambut kusut mengelilingi wajahnya.
"Liona..." Arion tak bisa menahan diri untuk tak terdiam sesaat. Dia membuka jaketnya dan mendekati Liona, memasangkan jaket itu dengan hati-hati di bahunya yang terekspos. "Apa yang terjadi?" tanyanya, meski sudah menduga jawabannya.
Liona menghela napas, "Eros, dia pikir bisa lecehin gue." nada dingin yang terpantul dari suaranya.
Arion menatap jasad Eros di lantai. Dia menunduk, memeriksa tubuh tak bernyawa itu dengan cepat, kemudian berdiri kembali. "Lo beneran ngelakuin ini," gumamnya tenang. "Lo nggak main-main."
"Tidak ada kata main-main jika menyangkut keselamatan."
Arion mengerutkan dahinya. "Keselamatan?"
Liona mengangguk kemudian menunjuk tanda kemerahan di lehernya. Kissmark yang Eros letakkan membuat Liona seolah ingin mengiris tanda itu hingga hilang.
Arion terpaku menatap tanda itu. Ada guratan samar di rahangnya. Tangannya pun ikut mengepal. "Hampir ya?"
Liona hanya mengangguk kecil, matanya tetap fokus pada Arion. "Bantu gue, Arion. Gue harus lenyapin jasad ini."
Arion menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Serahin ke gue. Lo nggak perlu khawatir." Dengan cekatan, Arion mulai mengurus jasad Eros, tanpa ragu, seperti seseorang yang sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
Setelah itu Arion menelpon seseorang. "Pergilah ke Hotel Aground, seperti biasa. Urus mayat ini." Kemudian cowok itu menatap Liona kembali yang tampak berusaha menyelimuti tubuhnya dengan jaket Arion. "Lo selalu tau apa yang harus dilakukan, ya?"
Liona hanya menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu. "Gue cuma... nggak punya pilihan lain." Suaranya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada Arion.
"Dan itu yang buat lo bahaya," balas Arion, berjalan kearahnya.
Liona mendongak menatap Arion yang berdiri tepat di hadapannya.
Arion menatap Liona dengan intens, matanya menyapu setiap detail dari wajah dan tubuhnya yang berantakan. Dia merasakan amarah mendidih di dalam dirinya, namun berusaha menahannya. Dia tahu bahwa Liona tak perlu ditenangkan atau diberi rasa kasihan.
Saat pandangannya turun pada tanda merah di leher Liona, pikirannya dipenuhi dengan bayangan mengerikan tentang apa yang mungkin telah terjadi sebelum Eros menemui ajalnya.
Arion meraih dagu Liona dengan lembut, memaksanya untuk menatap matanya. "Tindakan lo benar, kalaupun lo nggak bunuh dia. Gue yang bakal bunuh dia buat lo." Ucapannya tegas, tak ada keraguan sedikit pun.
Liona menelan ludah, merasakan keteguhan dalam kata-kata Arion yang menembus pertahanannya. Dia tahu bahwa lelaki di hadapannya bukan hanya sekadar teman atau sekutu.
Dia adalah seseorang yang bisa diandalkan tanpa perlu banyak bicara.
Arion melepaskan dagunya, langkahnya mundur sedikit. "Lo butuh bersih-bersih, cuci badan lo, dan hilangin jejak. Gue akan urus semuanya."
Liona mengangguk, dia melirik kamar mandi yang ada di pojok ruangan. "Gue ke kamar mandi sebentar."
Arion hanya mengangguk, "Santai aja. Semuanya bakal beres saat lo balik."
Liona berbalik, langkahnya mantap meski dalam hati masih ada rasa panas mengingat Eros yang hampir menggagahinya. Arion mengawasinya masuk, lalu mengalihkan perhatiannya kembali pada jasad Eros yang terbujur kaku di lantai.
Sambil menunggu orang yang dia telepon tadi datang, Arion mengambil napas dalam, menenangkan amarah yang masih berdenyut di dadanya.
***
"Sialan!" deru nafas Arka semakin meningkat tatkala teman-temannya menahannya di ruangan yang di pesan khusus oleh Selina untuk beberapa temannya.
"Arka, lo mau kemana sih?" tanya Gita-teman sekelas Arka.
"Adek gue di luar anjing! Buka pintunya!" Arka menatap teman-temannya tajam.
"Hah? Siapa adek lo? Lo kan anak terakhir..." kata Bima.
"Bukain pintunya!" pinta Abian-salah satu teman Arka yang mendengar perdebatan Liona, Arka dan Ayahnya Hendra sore tadi.
"Oh, yaudah..." Bima membuka kunci membiarkan Arka menerobos keluar.
"Dia lagi emosi tau, kalian malah tahan dia disini..." kata Jasmine-teman sekelas Arka.
"Iya..."
"Siapa sih adeknya?"
"Liona?"
Arka terpaku tepat saat dia keluar dari ruangan itu. Dia melihat Liona justru berdiri didepan pintu. Dengan senyum lebar juga matanya yang cantik melengkung seperti bukan sabit.
"Abang dari mana?" tanya Liona penasaran.
"Da-ri dalam..." Arka terpaku melihat adiknya itu. Dia memegang bahu Liona yang terbungkus jaket kulit berwarna hitam. "Kamu yang dari mana?" tanyanya menuntut. "Jaket siapa ini, Liona? Lo gapapa kan?"
"Hm? Emang ada luka yang lo liat bang?" tanya Liona balik. "Ini jaket temen, gue pinjam karna kedinginan."
"Teman lo yang mana?" Arka khawatir.
"Ini adek lo, Ka?" seorang teman Arka keluar kemudian merangkul Arka. "Liona, kelas sebelas ya?" dia adalah Bima.
Liona mengangguk. "Ya."
"Abang lo daritadi gelisah tau mau nyamperin lo, di kasih minuman pun nggak majur mabuknya. Tetap aja lo yang dia cari." jelas Bima.
Liona mengerutkan dahinya. "Lo mabuk, bang?" tanyanya menatap Arka.
Arka menggeleng. "Enggak, emang gue kayak orang mabuk?"
Arka memandang adiknya dengan penuh kekhawatiran, mencoba memastikan bahwa tidak ada yang salah. Namun, meskipun Liona tampak baik-baik saja di luar, dia merasakan sesuatu yang tidak beres. Instingnya mengatakan bahwa ada yang disembunyikan Liona.
"Enggak, cuma... gue khawatir aja," jawab Arka akhirnya, mencoba meredam rasa khawatirnya. "Kalau lo udah selesai di sini, kita pulang aja yuk. Gue nggak enak kalau ninggalin lo sendirian."
Liona menatap Arka sejenak, menyadari kekhawatiran kakaknya yang selalu berlebihan. Dia mengangguk pelan, "Iya, kita pulang aja."
Arka menghela napas lega, lalu mengajak Liona menuju parkiran. Ketika mereka sampai di sana, Arka memperhatikan sesuatu yang membuatnya berhenti sejenak. Sebuah mobil hitam terparkir di sudut, dengan kaca jendela yang gelap.
Liona ikut menatap mobil itu. Nalurinya langsung memberitahunya bahwa Arion ada di dalam mobil itu, mengawasinya. Meski dia tak bisa melihat siapa di balik kaca gelap itu, dia tahu Arion sedang menatapnya.
Arka memandang Liona, tapi tidak mengajukan pertanyaan. Dia hanya merasa ada sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dia pahami, namun dia memutuskan untuk tidak mendesaknya.
"Abang ambil mobil dulu, ya.."
"Ya."
"Jangan kemana-mana." Arka kemudian berlalu meninggalkannya.
Disisi lain ternyata benar menurut Liona tadi. Arion di dalam mobilnya, melihat Liona dari kejauhan, tersenyum tipis. Dia tahu Liona menyadari keberadaannya, dan itu cukup baginya. Dengan perlahan, dia menyalakan mesin mobilnya dan mengendarainya menjauh dari hotel.
#Tbc
Follow ig: @wiwirmdni21 / @thrillgrace
Follow tiktok: @Velinxndr
KOMEN DOONG YANG BANYAKKK HIHIðð¤
JANGAN LUPA VOTEð¤
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!