Chapter 19 of 64

TSK-22

TRANSMIGRASI SANG KETUA1,074 words~6 min read

Vote duluuuuuuuu🖤🖤🖤

Eros POV

Tubuh gadis ini benar-benar halus sehalus sutra. Kulitnya putih bersih dengan hawa panas yang seolah menyetrum kulit saat aku menyentuhnya.

Merasa hawa panas juga menguasai tubuhku juga, aku pun dengan cepat melepas atasanku kemudian mengukung gadis setengah sadar itu di bawahku.

Senyumku terbit ketika manik mata cantik itu menatapku dengan sayu. Suara desahan yang dia keluarkan saat aku mengelus pinggangnya membuat libidoku naik begitu saja.

"Sebut namaku!" pintaku. "Eros!" lanjutku.

Mata sayu itu terus menatapku seolah mengingat siapa lelaki yang ada diatasnya ini. Aku tertawa, sayang kau tidak akan tau karna ini pertemuan pertama kita, pertemuan yang menggairahkan! batinku.

"E..ros.." lirih Liona.

"Yes! Again!" ucapku kemudian menggigit lehernya kemudian menyesapnya dalam.

"E-ros!" suara gadis itu seperti kaget.

Aku tertawa kemudian menarik tangan gadis itu ke leherku hingga menggelantung disana. Aku menatapnya kemudian menarik gaunnya hingga sedikit turun.

"Shhh..." Liurku bahkan hampir jatuh ketika belahannya sedikit terbuka.

Kesenanganku semakin membuncah saat gadis dibawahku itu tersenyum. Apa caraku membuatnya ke enakan berhasil? dasar gadis nakal.

Namun senyumku luntur ketika cairan merah menetes diwajah gadis yang tersenyum itu. Aku menyerngit, darimana asal cairan merah menyerupai darah itu?

Tunggu, kenapa ada cairan darah yang menetes dari kepalaku...

"Eron..." gadis itu memanggilku.

"Shhh akh!!!"

Darah itu kini menetes melalui tangan mulus gadis itu.

Eron POV end

***

Author POV

Entah sejak kapan Liona menusukkan kuku-kuku tajamnya ke kepala Eron. Namun yang pasti, gadis itu tampak puas. Seringai buas dia tampilkan ketika Eros menyerngit merasa sakit di kepalanya.

Darah terus menetes hingga mengenai leher bahkan dada Liona.

Dengan cepat gadis itu bangkit kemudian mendorong Eros ke belakang dengan kuat. Dia menaiki tubuh Eros ketika lelaki itu terbaring dengan raut wajah bingung.

Liona kembali menancapkan kukunya di dagu Eros hingga berdarah.

"S-sialan.. se-jak kapan!" Eros tampak sadar sepenuhnya.

Lelaki itu menggenggam tangan Liona hendak kembali membalikkan posisi semula namun, Liona memperkuat ketahanan tubuhnya.

Liona menyeringai, ia beringsut turun hingga posisinya terasa pas disana. Dia duduk tepat di bagian intim Eros. Dia ingin lelaki itu tersiksa secara nafsu dan tersiksa secara langsung!

"Ahh! Sialan lo! Minggir!!" Eros berusaha mencengkram bahu Liona. Namun gadis itu malah semakin menancapkan kuku tajamnya di area leher Eros.

Eros berteriak. Darah kini sudah membasahi setengah badannya. Sakit sungguh luar biasa ketika gadis di atasnya itu memindahkan kukunya ke area bahu miliknya.

"Bagaimana?" tanya Liona ketika membuka kemeja Eros setengah kemudian tanpa aba-aba langsung mencakar dan menancapkan kukunya dikedua sisi bahunya.

"ARGHHHHHH!! AHHGGGH!!" Mata Eros berkaca-kaca. "BANGSATT! BAJINGAN!! ARKHHHH!!!!" bentaknya kemudian langsung membalikkan Liona hingga kebawahnya kembali.

Liona melenguh pelan ketika punggungnya di hempaskan. Kakinya naik kemudian menendang Eros ke belakang hingga terjatuh dari atas ranjang.

"Sialan!!" umpat Liona, dengan cepat dia beranjak kemudian menginjak dada Eros.

Cowok itu tidak bergerak, merasa sesak di area dadanya.

Liona kini menginjak kedua bahu Eros kuat hingga suara teriakan penuh pilu cowok itu terdengar.

"Argghhhhkkkk!!" Eros menggigit giginya merasa sakit luar biasa kita gadis itu menginjaknya.

Liona kemudian memberi pukulan ke wajah Eros tanpa jeda. Darah mengucur hebat dari mulutnya namun Liona tetap menggila dan terus memukulnya hingga Eros tak bergerak sama sekali.

"Hey, bangun!" titah Liona. "Kalau nggak... Lo bakal menyusul Liona,"

"Eros Orlando Agra. Ternyata lo orangnya..." lirih Liona kemudian mengeluarkan belati yang dia sembunyikan di balik gaunnya.

Seperti yang Liona katakan. Ternyata orang yang memerkosa Liona dulu memang adalah Eros. Kakak kandung sahabat Liona sendiri.

Hari ini tepat sebulan setelah dia berpindah tubuh dengan Liona.

Dan lelaki di bawahnya ini penyebab perginya Liona.

"Ternyata benar," Sesampainya dia digedung ini matanya langsung tertuju kearah lelaki yang berdiri di samping Selina.

Firasatnya tidak pernah meleset sedikitpun, dan kali ini ternyata benar dugaannya. Kakak kelas yang melecehkan Liona Hazel Elnara adalah Eros Orlando Agra.

"Benar-benar keluarga gila. Selina dan Eros, keduanya sama-sama gila!"

Liona menatap mata pisau belatinya dengan tajam kemudian beralih menatap wajah penuh darah Eros.

"Hey sialan, jika ujung belati ini benar nyentuh lo gapapa apa-apa kan?" tanya Liona kemudian tertawa.

Liona mengangkat belatinya tinggi-tinggi, mata pisau itu berkilauan di bawah cahaya remang-remang ruangan. Dia menatap tubuh Eros yang terbaring tak berdaya di bawahnya, darah masih terus mengalir dari luka-luka di tubuh lelaki itu.

"Ini untuk Liona Hazel Elnara," bisiknya pelan, namun penuh kebencian yang mendalam.

Dengan satu gerakan cepat, Liona menggoreskan belati itu ke dada Eros. Jeritan kesakitan terdengar memenuhi ruangan, namun Liona tidak berhenti. la terus menekan belati itu lebih dalam, seolah-olah ingin memastikan setiap luka yang ia buat meninggalkan bekas yang tak terlupakan.

Eros mengerang, tubuhnya menggeliat dalam usaha sia-sia untuk melawan. Namun, Liona tidak memberi ruang sedikitpun. Dia menarik belati itu keluar dan dengan gerakan yang lebih kasar, dia kembali mengayunkan belatinya ke arah perut Eros.

"Gue mau lo ngerasain setiap detik penderitaan ini." katanya dengan suara dingin, tidak ada belas kasihan yang tersisa dalam hatinya.

Darah mulai memenuhi tangan Liona, tapi dia tidak peduli. Kegilaan dalam matanya semakin nyata ketika ia menggoreskan belati itu ke lengan, leher, dan akhirnya wajah Eros. Dia menatap setiap goresan yang ia buat, menikmati pemandangan darah yang mengalir deras dari tubuh Eros.

Setiap jeritan yang keluar dari mulut Eros hanya membuatnya semakin bersemangat. Liona tertawa, tawa yang penuh kepuasan dan kemarahan yang terbalaskan.

Dia ingin memastikan tidak ada bagian dari Eros yang tersisa tanpa luka.

"Gue pastiin lo menderita, Eros," desisnya di telinga lelaki itu. "Biar lo tau gimana rasanya jadi Liona, sampai nafas terakhir lo."

Dengan satu gerakan terakhir, Liona menancapkan belatinya tepat di jantung Eros, memastikan akhir dari penderitaan lelaki itu. Tubuh Eros mengejang sekali, lalu diam tak bergerak.

Liona terengah-engah, memandang tubuh yang kini tidak bernyawa di bawahnya. Untuk sesaat, dia hanya berdiri di sana, menikmati kesunyian yang tiba-tiba memenuhi ruangan. Darah mengalir dari ujung belatinya, menetes ke lantai, menciptakan genangan merah yang perlahan membesar.

Dia tersenyum puas, menyeka darah dari wajahnya dengan tangan yang sudah berlumuran darah. Perlahan, dia berdiri, meninggalkan tubuh Eros yang sudah tak lagi berdaya. Satu hal yang pasti, pembalasan dendam ini telah selesai, dan Liona merasa puas sepenuhnya.

Namun, di dalam hatinya, dia tahu bahwa ini hanya permulaan. Selina masih ada di luar sana, dan Liona bersumpah bahwa dia tidak akan berhenti sampai semua orang yang terlibat dalam penderitaan Liona Hazel Elnara mendapatkan apa yang pantas mereka terima.

#Tbc

Oke, sumpah! ini buat tanganku tremor pas nulis adegan berdarahnya.

Namun kembali lagi, Liona atau Stella ini pada awalnya memang seorang kriminal berdarah dingin. Hal seperti ini adalah kegiatan sehari-hari Auristella atau sekarang di panggil Liona di kehidupannya yang ke-2 ini.

Di vote yaa!!!

Komen lanjut yang banyakkkkkkkk

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!