Chapter 18 of 64

TSK-21

TRANSMIGRASI SANG KETUA1,378 words~7 min read

Vote dulu dooooongggg!!!

"Mau ke acara Selina juga?" tanya Arka menghampiri Liona ke kelas adiknya itu.

Liona menganggukkan kepala saja. "Di undang juga ya?"

"Iya dong, kebetulan gue deket sama abangnya."

Liona mengerutkan dahinya. "Selina punya saudara?"

Arka mengangguk. "Iya. Baru pindah seminggu yang lalu ke sini," jelasnya.

"Kok kenal?"

"Satu sekolah pas SMP," Liona mengangguk paham. "Jadi berangkatnya barengan?" lanjutnya.

"Nggak juga gapapa,"

"Nggak bisa, Lo harus sama gue."

"Kok gitu?"

"Kita kesana sama-sama." telak Arka.

Bisik-bisik teman sekelas kembali terdengar membuat Liona berdecak. Manusia disekitarnya memiliki tingkat keinginan tau yang tinggi. Hal itu membuatnya jengah.

Sekarang mereka ingin tau hubungannya dengan Arka. Mereka juga tengah menilainya sebagai gadis sana-sini mau.

"Cih.." Liona tersenyum miring. Dia punya rencana.

Gadis itu merangkul pinggang Arka erat kemudian memasang wajah manis. "Ayo ke kantin!"

Arka jelas kaget, namun dia tertawa. "Kok tiba-tiba?"

"Nggak mau nih?" tanya Liona dengan wajah cemberut. Dia melirik teman sekelasnya yang terperangah melihat kedekatan yang dia ciptakan dengan Arka.

"Mau dong!" Arka mengusap kepala adiknya. "Ayo, gue traktir deh!"

"Oke!"

Keduanya berlalu keluar saling merangkul. Liona tertawa. Silahkan kembali bergosip ria.

"Eh kalian liat gak?"

"Liat lah anjir! Orang jelas gitu..."

"Potek hatiku..."

"Kalian sadar nggak sih si cupu itu makin berani? Dulu nggak gitu kan? Kayak makin diluar nalar aja sikapnya!"

"Nah! Gue bilang juga apa! Si cupu itu memang semakin berani sekarang!"

"Jadi cewek murahan dia!"

"Betul! Kemarin gue liat dia bareng Marvin tau nggak? Dia tiba-tiba dekat banyak cowok?"

"Dan sekarang dia bareng Arka! Ihh gue gak setuju!"

"Jual diri kali ya? Dia kan di usir tuh dari Keluarganya. Duit dari mana kan ya kecuali dia memang jual diri."

"Saudaraan sama Ilona, jiwa-jiwa l*nte emang udah melekat sama mereka!"

***

Pulang sekolah Liona berencana akan pulang bersama Arka. Namun tepat di gerbang sekolah Hendra menghadangnya. Gadis itu memasang wajah dingin saat menatap Ayahnya itu.

"Liona," panggilnya kemudian mendekat.

Liona mengangkat aslinya bertanya. "Kenapa?"

"Ikut Ayah dulu."

"Nggak." jawabnya santai. "Ada apa?"

Henda menatapnya tajam. "Setelah Ayah bertahun-tahun menampungmu di rumah, ini bayaran yang saya terima?"

Liona mengerutkan dahinya kemudian tersenyum miring. "Saya di tampung, bukan sewa. Bayaran apa yang harus saya bayar?" tanyanya.

"Tidak tau diri."

"Benar, jadi saya tidak akan membayar apapun."

"Liona!" bentak Hendra membuat beberapa siswa yang masih disana mengalihkan atensi mereka kearah Liona.

Arka menarik tangan Liona agar kebelakang tubuhnya. Kemudian cowok itu menatap nyalang Ayahnya. "Pergi!"

"Arka... kamu mulai lancang juga ya?"

"Persis sepertimu, Ayah."

"Diam kamu. Saya tidak punya urusan dengan kamu. Dan Liona, ikut Ayah!"

"Atas tujuan apa?" tanya Liona, rautnya tidak takut.

"Anak pemimpin RD Group ingin bertemu denganmu, ikutlah cepat!"

Liona tetawa sumbang. "Aku di jodohin ya? Berniat mencari bantuan dengan orang kaya dengan aku yang jadi umpan?" gadis itu tersenyum miring. "Udah bangkrut yah?"

"LIONA!!" Hendra menarik kasar tangan Liona hingga gadis itu terhempas kedepan membuat Arka sedikit terdorong.

Merasa tidak terima dengan tindakan Hendra. Liona menepis kuat tangan pria itu. Dia menatapnya nyalang. "Kita bukan keluarga lagi, itu yang anda katakan tempo hari. Selain bangkrut, anda juga jadi pikun ya?"

"Sialan kamu..."

"Suruh saja putri kebanggan Ayah itu, siapa sih namanya? Ilona ya? Yang viral gara-gara tidur sama kakaknya-"

"LIONA DIAM!!" bentak Hendra semakin marah.

Liona tertawa. "Ups, panas ya?"

"Awas kamu!" Hendra menunjuk wajah Liona kemudian kembali memasuki mobilnya dengan wajah malu. Banyak yang menonton disana.

Karna itu juga mereka jadi tau hubungan antara Liona dengan Arka. Ternyata mereka adalah saudara kandung.

"Ayo pulang." Arka menarik Liona naik ke motornya.

Liona menurut kemudian ikut naik ke motor. Gadis itu menatap beberapa warga sekolah yang melihatnya penasaran dengan Arka.

"Apa belum jelas?" gumam Liona jegah.

***

Malam tiba, Liona kini sudah lengkap dengan setelan feminimnya. Gaun hitam dengan punggung terbuka yang sedikit memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah.

Liona tersenyum miring menatap tubuhnya di cermin, gadis itu menunduk melihat kukunya yang ia warnai dengan warna serupa. Hitam.

"Tubuh ini indah." gumamnya kemudian menggigit bibirnya.

Ketukan di kamarnya terdengar. Arka bertanya apakah dia boleh masuk kemudian Liona menjawabnya.

Cowok itu masuk dengan setelan kemeja putih dengan lengan yang digulung sampai siku.

"You look so beautiful!" kata Arka kagum.

"Tentu saja!"

"Lo kayak bunda waktu masih muda tau!"

"Oh ya?" Liona hanya tersenyum menanggapi. Dia belum pernah melihat foto Elina saat masih muda.

"Kita berangkat kapan?" tanya Arka mengalihkan pembicaraan.

"Sekarang? Acara kayaknya udah mulai,"

"Iya, ayo!"

"Hm, ayo."

Di ruang keluarga semuanya sedang serius membahas sesuatu. Disana ada Elina dan suaminya, Alden, Rafan dan Adera. Semuanya sontak mengalihkan tatapan mereka kearah tangga dimana Arka turun dengan Liona yang mengikut dibelakangnya.

Mereka tidak melihat Arka namun terpana dengan Liona. Semuanya bahkan tertegun. Alden dan Rafan tersenyum ketika Liona menatapnya.

"Mau ke ulang tahun temen kalian yah?" tanya Abimana akrab ditelinga Liona.

Gadis itu mengangguk kemudian Arka mengiyakan pertanyaan ayah sambungnya itu.

"Hati-hati ya, jangan larut pulangnya..." kata Rafan.

"Iyaaa.." jawab Liona dan Arka bersamaan.

"Jagain Liona," kata Alden yang ditujukan untuk Arka.

"Iya dong! Anak gadis harus dijaga!"

***

Arka dan Liona akhirnya tiba di ballroom hotel tempat Selina mengadakan pesta ulang tahunnya. Ruangan tersebut dipenuhi dengan dekorasi mewah, lampu disko berkelap-kelip, dan musik yang memekakkan telinga. Saat mereka memasuki ruangan, semua mata tertuju pada Liona. Dengan gaun hitam yang anggun dan punggung terbuka, ia tampak memukau.

Selina, yang tengah berbicara dengan sekelompok teman, tiba-tiba terdiam ketika melihat Liona. Rasa iri membuncah dalam hatinya. Meski Selina sendiri sudah berusaha tampil sempurna malam itu, Liona dengan mudah mencuri perhatian semua orang.

Arka memutuskan untuk menghampiri Selina. "Selina," sapanya dengan ramah. "Selamat ulang tahun."

"Iya, thanks Arka!" balas Selina.

Cowok itu tersenyum menatap Eros-kakak laki-laki Selina. Mengangkat tangannya kemudian tos ala laki-laki. "Jadi menurut lo mana yang menantang, tinggal disini atau di luar negeri?"

"Disini kurang bebas haha!" kata Eros.

"Shut!" Arka merangkulnya.

Selina menatap Liona kemudian mengucapkan. "Lo tampak luar biasa."

Liona hanya tersenyum miring, tidak terpengaruh oleh pujian itu. "Terima kasih."

Selina merasa tersudut. Semua upayanya untuk menjadi pusat perhatian di pesta ulang tahunnya sendiri seakan sia-sia. Sementara itu, Liona merasa tidak nyaman dengan suasana pesta yang ramai dan bising. Lampu disko yang terus-menerus berkedip membuat matanya lelah. Tanpa berkata apa-apa, ia memutuskan untuk menjauh dari kerumunan dan berjalan menuju salah satu kursi bar yang ada di sudut ruangan.

Seorang pelayan mendekat, menawarkan minuman. "Ada yang bisa saya sajikan, Nona?" tanyanya.

Liona mengangguk, merasa tenggorokannya kering. "Satu gelas wiski, tolong."

Pelayan itu tersenyum sambil menuangkan wiski ke dalam gelas dan menyerahkannya kepada Liona. "Selamat menikmati."

Liona mengangkat gelas itu dan meneguknya perlahan, berharap bisa sedikit rileks. Namun, alih-alih merasakan ketenangan, tubuhnya mulai menimbulkan reaksi yang berbeda.

Gadis itu menatap punggung pelayang yang tadi melayaninya dengan nyalang. "Apa yang lo masukin di minuman gue, sialan!"

Di balik dinding, pelayan tadi berbicara dengan seseorang melalui telepon. "Sudah, dia meminum wiski yang kuberikan," bisiknya.

"Bagus," jawab suara di seberang telepon. "Tetap pantau dia."

Liona merasa kesadarannya perlahan-lahan menghilang. Kepalanya terjatuh ke meja, dan matanya mulai terpejam. Di merasa kehilangan kontrol tubuhnya.

Keringat membasahi pelipisnya dengan badan meremang ketika sapuan angin menyapu punggungnya.

Kakak Selina, yang sejak tadi mengawasi Liona, berjalan mendekat. "Hey?" panggilnya dengan nada lembut. Tidak ada respon. Liona hanya tergeletak di meja, tampak tak berdaya.

Melihat itu, kakak Selina tersenyum tipis dan dengan lembut membimbing Liona untuk berdiri. "Ayo, ikut aku. Kita cari tempat yang lebih nyaman."

Dengan hati-hati, dia membawa Liona keluar dari ballroom dan menuju ke salah satu kamar hotel. Pintu kamar itu terbuka dengan pelan, dan dia membaringkan Liona di atas ranjang. Liona sepenuhnya kehilangan kesadaran, tak mampu merespons apa pun.

Kakak Selina menatap Liona dengan ekspresi yang sulit diartikan, duduk di sofa dengan tatapan mengarah ke Liona yang bernafas tak beraturan diatas ranjang.

"Ahh.." gadis itu mengeliatkan tubuhnya.

Eros beranjak dari sofa kemudian ikut naik ke atas ranjang. Senyumnya jelas terpampang jelas disana.

Tangan lelaki itu bergerak menyingkirkan anak rambut Liona yang menyapu wajahnya yang penuh keringat.

"Eughhhh..."

"Terlihat sangat cantik. Selina, sahabatmu ini sangat menantang!" Eros menggigit bibirnya.

Sretttt!

Lengan baju yang dikenakan Liona robek ketika Eros menariknya kasar. Tangan Eros bergerak menyapu pinggang Liona dengan gerakan sensual.

"Shhh..." Eros berdesis ketika raut wajah Liona membuatnya turn on, wajah itu memerah dengan keringat membuatnya tampak begitu seksi dimata seorang Eros Orlando Agra.

#Tbc

Follow ig: @wiwirmdni21 & @thrillgrace

KOMEN DOONG YANG BANYAKKK HIHI😖🖤

JANGAN LUPA VOTE🖤

Vote

Vote

Vote

Komen lanjut!!!!!!!!

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!