Vote duluuuuuuuuuuu!!ððððððð
Liona menahan nafas berusaha menggerakkan kakinya untuk bangkit dari tubuh Arion. Entah apa yang terjadi pada tubuhnya hingga sakit seperti ini. Mungkin efek dari olahraganya tadi juga pertarungan dengan 3 pria anak buah Arion dan Arion itu sendiri.
Jiwanya tidak lelah tapi tubuhnya lebih dari kata kelelahan sekarang. Liona tak ingin menyangkal jika tubuh ini masih memerlukan latihan lebih.
"Liona," desis Arion ketika Liona terus bergerak gelisah.
Liona menatap Arion. "Iya.."
Arion menghela napas, kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Liona, suaranya berbisik. "Gue minta maaf jika tindakan gue terlalu berlebihan tadi."
"Hm."
Arion merasakan tubuh Liona perlahan tenang. "Jangan panik. Gue bantu lo," katanya sambil berusaha mengatur posisi mereka agar lebih nyaman. Dia perlahan merangkul Liona, memindahkan berat tubuhnya dari tubuhnya sendiri.
"Pesenin gue taxi, tolong." pinta Liona.
"Bisa jalan ke bawah?"
Liona mengangguk. "Sedikit, tapi bisalah."
"Yaudah."
***
Liona berjalan memasuki rumah megah didepannya dengan kaki pincang. Gadis itu mendongak menatap bintang-bintang bertaburan seperti salju. Sangat indah, berbanding terbalik dengan keadaan hatinya.
"Liona!" panggil seseorang seraya berlari menghampirinya.
"Bang Rafan!" Liona menyambut kedatangan kakaknya itu dengan senyuman.
"Kamu dari mana saja?" tanyanya dengan nada khawatir.
Liona tertawa dalam hati. Ternyata masih ada tempatmu untuk pulang Liona. "Abis joging sore, tapi keseleo jadi terlambat pulang."
"Udah makan?" tanya Rafan merangkul adiknya itu.
Liona menggeleng pelan. Jangankan memikirkan untuk makan, keselamatannya saja tidak dia pikirkan sekarang.
"Ayo masuk, abang beliin kamu donat pas pulang tadi."
Liona mengangguk. "Yang lain udah pada tidur ya?"
Rafan mengangguk. "Bunda sama papa udah tidur daritadi, Adera juga. Cuma kakak-kakak kamu aja yang masih terjaga gara-gara kamu terlambat pulang."
Liona tertegun. "Padahal nggak ditungguin juga gapapa.." katanya pelan.
Rafan mendengus kemudian mengusap rambut Liona. "Naluri kakak kandung itu erat, Liona. Mana bisa kami tenang-tenang saja sedangkan kabar kamu nggak ada sama sekali."
Liona terdiam kemudian mendongak melihat langit yang mulai mendung. Senyum tipis terbit di bibir itu.
Hey Liona, liat nggak? Kamu dengar tidak? Mereka mengkhawatirkanmu! batin gadis itu.
"Lio minta maaf ya, terbiasa sendiri jadi nggak tau arti dikhawatirkan."
"Kamu tidak bersalah sama sekali, abang mohon jangan katakan itu lagi."
Liona mengangguk. "Abang Alden sama Arka mana?"
"Di dalam, mereka nungguin kamu."
Hingga akhirnya mereka sampai di ruang keluarga dimana disana ada Alden dan Arka menatap kearah televisi yang menampilkan film action.
"Asik banget kayaknya," Liona ikut bergabung diantara keduanya.
"LIO!!" seru Alden dan Arka bersamaan kemudian berhamburan kepelukan Liona.
Rafan menggeleng kemudian tersenyum, lelaki itu berlalu ke arah dapur untuk mengambil donat yang ingin dia berikan ke Liona.
"Dari mana aja lo?!" tanya Arka.
"Dari bar," jawab Liona bercanda.
"Hah yang bener aja?" Alden menatapnya horor.
Liona tertawa. "Ngga kok, dari jogging tadi."
"Lama banget?"
"Iya, keseleo. Kaki masuk lubang jalan." kata Liona berbohong.
Ajaibnya mereka berdua percaya membuat Liona tertawa. "Jadi kenapa kalian belum tidur?"
"Nungguin seseorang."
"Gue kan?" kata Liona membuat Alden dan Arka mengangguk bersamaan.
"Apa-apa samaan mulu, nggak kembar juga," Liona menatap kakaknya itu bergantian.
"Dia aja yang ngikutin gue!" kata Arka menatap sengit Alden.
"Dih, apaan banget." kata Alden menatap sinis Arka.
Rafan datang dengan kotak donat ditangannya. Cowok itu duduk didekat Arka kemudian meletakkan donat itu ke meja. "Makan."
"Terimakasih abang!" kata Liona kemudian mengambil satu buah donat dan memakannya dengan nikmat.
"Mau dong!" sahut Alden kemudian mengambil satu buah donat rasa matcha.
"Ihh nggak tau malu! Itu buat Liona tau! Iyakan bang Raf?" katanya namun tangannya ikut mengambil satu donat.
"Sama aja kalian nggak punya malu." kata Rafan.
Dibalik itu semua, Elina yang berdiri di lantai dua melihat mereka berempat dengan tatapan penuh arti. Namun setelahnya dia kembali ke kamar setelah memastikan satu hal yang membuat hatinya tidak tenang daritadi.
"Sudah tenang?" tanya Abimana menatap Elina yang perlahan berbaring ditempatnya semula.
"Hm."
***
Tiga hari berlalu...
"Datang ya!" seorang gadis dengan rambut panjang pirangnya berdiri dengan wajah sumringah.
Dia Aselina Ellizabeth Agra.
Gadis itu baru saja membagikan undangan ulang tahunnya kepada semua teman sekelasnya juga kepada semua warga sekolah.
Tentunya pada Liona juga.
"Lo harus pergi, kalau nggak lo ngaku takut sama gue." kata Selina memberikan kertas undangannya didepan Liona.
Apa katanya? Takut? Pfttt! Liona bahkan ingin tertawa sekarang.
"Kalian tenang aja, nggak ada tema bawa pasangan di acara gue, kalian datang aja bawa diri nggak usah bawa hadiah juga ya."
"Seru banget dong!" sahut si ketua kelas.
"Iya dong! Makanya kalian wajib datang!"
"Pasti ini mah!"
"Nanti malam gue tunggu ya!" kata Selina kemudian berlalu keluar bersama teman-temannya. Terdengar suara tawa mereka yang perlahan menjauh.
Liona menghela nafas kemudian memandang kukunya yang panjang. "Rencana apa lagi yang lo buat, sialan." gumam gadis itu memandang datar kepergian Selina.
"Eh kalian mau pada pergi kan?" tanya Rin semangat.
"Mau dong!" kata semuanya serentak.
Rin menatap Liona. "Lo juga mau ikut kan?"
Liona meliriknya malas. "Hm. Kenapa?"
"Lo harus ikut ya, kita sebagai teman sekelas Selina nggak boleh kalah sama kelas lainnya, kita harus datang lebih awal!" kata Rin semangat.
"Nggak usah berlebihan," kata Liona datar. "Kalau mau datang awal, datang aja sendiri." lanjutnya.
"Lo kok gitu? Kita semua tau lo punya masalah sama Selina tapikan dia udah ngundang lo ya, harus effort lah."
"Effort aja sendiri." balas Liona santai.
"Dasar cupu!" kata Rin sebelum pergi.
Semua teman sekelasnya terlihat membenarkan ucapan Rin tadi membuat Liona dipandang rendah oleh mereka semua.
Namun tanggapan Liona hanya diam dengan tatapan datar seolah mengatakan pandangan kalian tidak membuat harga dirinya runtuh. Lagian kalian ini siapa.
"Dia nggak akan datang,"
"Haha kebaca ya? Takut gitu sama Selina."
"Dia nggak ada apa-apanya dibanding Selina."
"Tapi dia cantik lho, kalian nggak ngerasa ya perubahannya sebulan ini?"
"Iya juga sih."
"Tetap aja, dia takut sama Selina."
Bisikan-bisikan itu seolah menjadi pengantar tidur bagi Liona. Gadis itu memilih berbaring dengan sepasang earphone di telinganya.
#Tbc
Follow ig: @wiwirmdni21
Pliss komen dan juga vote, hargai penulis ð
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!