Chapter 14 of 64

TSK-16

TRANSMIGRASI SANG KETUA1,144 words~6 min read

Vote dulu yaaa!!!

"LIONA!!"

Tok! Tok! Tok!

Gadis yang bersembunyi di bawah selimut itu mengerjabkan matanya. Siapa yang menggedor pintunya sekarang. Ini bahkan masih jam setengah enam. Yang benar saja.

"Liona!"

Dengan langkah gontai Liona berjalan keluar dari kamarnya. Dia membuka pintu. Melihat siapa yang datang. Ternyata Alden dengan senyum lebarnya.

"Huh?" Liona mengerutkan keningnya. "Kok bisa kesini?"

"Maksudnya?"

"Rusun ini, bang Alden kok tau gue disini?"

"Disini ada temen kampus abang yang tinggal, dia tau lo jadi dia ngasih tau gue."

Liona mengangguk saja. "Terus kenapa pagi-pagi kesini? Bunda nggak khawatir?"

"Masih tidur."

"Nah, kenapa kesini pagi buta?"

"Lo harus pindah ke rumah kami." kata Alden.

"Gue nggak mau."

Alden menghela nafas. "Disini bahaya, lo anak gadis. Haram hukumnya tinggal di tempat beginian."

"Kalau pandai ngejaga diri kayaknya nggak bakal kok, keamanan disini ketat." kata Liona.

"Tetap aja bahaya, ayo ke rumah!"

"Tunggu, kenapa tiba-tiba sekali? Ada apa?"

"Nenek mau ketemu sama lo, nenek mau lo tinggal disana." kata Alden. Nenek dari ibunya-Elina. Namanya nenek Victoria, kesan Liona terhadapnya ya sedikit ketus namun sedikit perhatian dibanding Elina sendiri.

"Dalam rangka apa."

"Nenek rindu, nenek sakit keras sekarang." kata Alden dengan raut sedih. Tidak ada kebohongan yang ditangkap Liona.

"Oke seminggu."

Alden mengangguk. Tidak memaksa adiknya itu. "Sekarang ya?"

"Gue belum mandi."

"Lo mandi di rumah aja. Bawa beberapa baju dan perlengkapan sekolah lo ya, jangan lupa."

"Hm, gue masuk dulu,"

"Iya, abang tunggu disini."

"Ya."

***

Liona dan Alden tiba di depan rumah. Gadis itu memandang bangunan di depannya dengan raut datar.

Rumah ini besar, bergaya Eropa klasik dengan pilar tinggi, jendela besar berbingkai ukiran kayu, dan atap segitiga berwarna tanah liat. Lantai marmer dan langit-langit tinggi dihiasi lampu gantung kristal menambah kesan mewah. Perabotan antik mengisi ruang-ruang luas, dan taman rapi dengan patung serta air mancur melengkapi keindahannya.

Namun, Liona rindu dengan flatnya.

"Ayo masuk."

"Duluan aja." Liona kini mengikuti kakaknya itu masuk. Langkahnya pelan seakan memperhatikan semua benda yang ada disana.

Hingga Liona menabrak punggung Alden yang ternyata berhenti. Gadis itu melirik keatas tangga paling atas. Disana ada Elina yang menatapnya datar.

"Udah bangun, Nda?" kata Alden tersenyum.

Elina melirik putranya. "Sarapan terus ke kampus." katanya.

"Masih ada 30 menit, bunda..."

"Sekarang!" bentaknya. Elina menatap mereka tajam.

"Udah bang, sana sarapan terus ke kampus." kata Liona, tatapannya mengarah ke Elina. "Jangan di bantah."

"Yaudah, kalau gitu kamu langsung ke kamar kamu dulu ya. Kayaknya nenek masih tidur."

"Yang mana?"

"Sementara ini kamu tidur di kamarnya bang Rafan aja dulu, dia lagi ke luar negeri ngurus perusahaannya."

"Emang gapapa?"

"Kamu tidur di kamar tamu aja." saut Elina.

Liona menatapnya. "Aku bukan tamu." balasnya muak.

"Kamu nggak berhak ngatur disini." kata Adera yang tiba-tiba datang dari belakang Elina.

"Why? Bukannya bunda yang nggak berhak bilang begitu?" kata Liona sarkas. Gadis itu tertawa kemudian melihat Alden. "Seharusnya gue nggak nerima tawaran lo aja bang. Buang-buang waktu."

"Liona ayo ke kamar." ajak Alden.

"Nggak, gue mau bicara empat mata dulu sama Bunda."

Alden melirik Elina. Liona berdecak. "Oke, kalau nggak mau disini aja."

"Ada apa?" tanya Elina.

"Pertama, kenapa bunda begitu dingin? Kedua, kenapa membenciku? Ketiga, Liona salah apa?" tanya Liona. Tangannya terkepal.

Elina menatap Liona dengan tatapan dingin. "Aku tidak perlu menjelaskan apa pun padamu."

Liona menghela napas. "Bunda bahkan tidak mencoba menjawab pertanyaanku. Kenapa begitu sulit untuk berkata jujur?"

Elina mengangkat alisnya. "Aku tidak punya kewajiban untuk memuaskan keingintahuanmu, Liona. Kamu sudah tahu posisimu di sini."

Liona mengepalkan tangannya semakin erat. "Ini bukan tentang posisi. Ini tentang kejujuran. Aku ingin tahu kenapa kamu membenciku."

Elina tetap tidak menunjukkan emosi. "Aku tidak membencimu, Liona. Kamu hanya bukan bagian dari rencana hidupku."

Liona mendengus. "Itu bukan jawaban yang aku cari. Kamu menghindar."

Elina mengangkat bahu, seolah tidak peduli. "Itulah yang bisa aku katakan padamu."

"Tetap saja menelantarkan putrimu sama sekali bukan pembenaran!!" bentak Liona marah.

"Siapa yang menelantarkanmu?" tanya Elina dingin.

"LO SIALAN!!" Liona lepas kendali. Gadis itu menatap nyalang Elina dan Adara. "Masih nanya? Waras nggak?!"

Alden menatap Liona kemudian kembali menatap Elina. "Bunda, sudah. Liona itu juga anakmu."

"Dia tidak becus jadi anak!"

"Semua berawal dari akar, jika akar sebuah pohon rusak maka akan berdampak juga ke pohonnya. Sama halnya dengan orangtua, jika orang tuanya nggak becus otomatis anaknya pun juga nggak becus seperti yang anda bilang tadi. Jadi siapa yang tidak becus disini?" Liona tertawa sumbang.

"Jadi maksudmu aku yang tidak becus?" tanya Elina.

"Ya, of course!"

"Pergi!!"

Liona tertawa, "Ahh sayang sekali, padahal aku mau tinggal di rumah orang kaya."

"Sudah cukup." suara bariton dari arah samping. Liona terdiam, merasa asing dengan pria itu.

"Ah, halo pa. Ini adik aku namanya Liona." kata Alden kepada pria itu. Liona ikut menatapnya.

'Pa' sebutan itu cukup meyakinkan Liona jika pria tinggi dengan wajah datar itu adalah suami kedua Elina.

Liona sedikit merendahkan kepalanya hormat dengan kepala keluarga di rumah yang ia tempati berdiri saat ini.

"Kamu anak perempuan Elina?" Pria bernama lengkap Abimana Nicholas itu tersenyum hangat kearahnya.

Liona melirik Elina kemudian mengangguk. "Benar."

Abimana menatap Liona. Aura anak ini sedikit lebih dominan diantar anak sambungnya yang lain. Tatapannya pun tajam seperti elang.

"Tinggal lah disini," kata Abimana.

"Tergantung kenyamanan Bunda, jika kehadiran saya disini membuatnya terganggu saya akan pergi."

"Bagaimana Elina?" tanya pria itu.

Elina sendiri hanya menangguk kemudian pergi ke kamarnya. Liona mendengus, sedikit senyuman miring di bibirnya.

"Liat? Dia tidak keberatan."

***

Liona diberikan kamar oleh Abimana tepat disebelah kamar Arka. Kakaknya yang satu itu menatapnya dengan sumringah sejak mengetahui dirinya akan tinggal disini selama seminggu.

"Jadi lo cuma 7 hari disini?"

Liona mengangguk sembari menganci seragam sekolahnya. Setelahnya dia meraih sisir untuk menyisir rambutnya. Liona tidak mengikat rambutnya melainkan mencepol asal saja. Seragamnya pun tidak terlalu rapi dengan kanci atas yang tidak terpasang.

"Apa nggak shock bunda liat lo, Li?" Arka tertawa melihat penampilan Liona.

"Emang kenapa?"

"Setelan lo kayak preman, nggak kayak dulu aliiim bener." Arka menerawang.

"Jauh banget ya berubahnya?" tanya Liona.

"Jauh banget, kayak bukan Liona."

Gadis itu tersenyum saja. Tidak tau saja kakaknya itu jika adik alimnya itu sudah pergi dan digantikan dengan jiwa Auristella.

"Maaf ya?" Liona menatap Arka dengan mata sayu.

Arka mengelus kepala Liona lembut. "Kenapa harus minta maaf, kami yang semestinya harus meminta maaf denganmu Liona. Karna kami perubahan ini ada, karna kami juga lo jadi keras gini.."

Liona tertawa kemudian merangkul Arka. "Jadi supir pribadi gue selama disini ya?"

"Iyaa,"

Arka berjalan lebih dulu kemudian Liona mengikut dibelakang.

"Oh, hai bro!" kata Arka. Liona mengerutkan dahinya, dengan siapa kakaknya itu bertukar sapa.

Liona melirik ke ruang tamu. Matanya melebar. Disana ada Arion. Tampaknya cowok itu juga terkejut dengan keberadaannya.

"Hazel?" guman Arion.

"Ah! kalian udah saling kenal ya?" tebak Arka.

"Arion?" balas Liona.

"Bareng Alden ya ke kampus?" kata Arka bertanya. Arion mengangguk saja, tatapannya beralih ke arah Liona. Dia tersenyum.

"Shit?!"

#Tbc

VOTE AND KOMEN ATAU SPAM KOMEN YAA!!

Follow ig penulis: @wiwirmdni21

Secuil jejak anda, means a lot_

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!