Vote dulu yaaaa
Liona sadar kemampuannya masih belum bisa menyamai kekuatan Stella yang dulu. Jiwanya adalah Stella, namun ini masih tubuh Liona. Jika tidak diasah lebih jauh, maka akan sia-sia. Tubuh itu masih lemah.
Karena itu juga, hampir setiap hari Liona bangun tengah malam untuk pergi ke pusat olahraga gym. Dimulai dengan latihan ringan hingga ke yang lebih berat. Mungkin belum seberapa, namun jika konsisten akan mendapat hasil yang baik.
Setiap malam, setelah memastikan semua orang tertidur, Liona menyelinap keluar dari rumah dan berjalan menuju gym. Dengan langkah-langkah yang penuh determinasi, ia mulai dengan pemanasan ringan. Jalan cepat di atas treadmill, dilanjutkan dengan peregangan untuk memastikan tubuhnya siap menghadapi latihan intensif.
Setelah pemanasan, Liona mulai dengan latihan kekuatan. Ia mengangkat beban yang semakin hari semakin berat, melatih setiap otot di tubuhnya. Setiap repetisi, setiap set, adalah perjuangan untuk menguatkan tubuhnya, mengubah kelemahan menjadi kekuatan. Peluh mengalir deras, tetapi ia tidak berhenti. Ia tahu bahwa untuk mencapai potensi Stella dalam dirinya, ia harus bekerja keras tanpa henti.
Selain latihan angkat beban, Liona juga melatih ketahanan fisiknya. Ia melakukan berbagai jenis cardio, seperti berlari di atas treadmill, bersepeda statis, dan mengikuti kelas aerobik di gym. Latihan-latihan ini membantunya meningkatkan daya tahan dan stamina, membuat tubuhnya lebih kuat dan tidak mudah lelah.
Tidak hanya itu, Liona juga melatih fleksibilitas dan kelincahan. Ia mengikuti kelas yoga dan pilates, memperkuat inti tubuhnya dan meningkatkan keseimbangan. Setiap pose yoga yang ia kuasai, setiap gerakan pilates yang ia lakukan, membuat tubuhnya semakin siap menghadapi tantangan-tantangan ke depan.
Latihan-latihan ini tidak hanya mengubah fisik Liona, tetapi juga mentalnya. Ia menjadi lebih percaya diri, lebih fokus, dan lebih kuat dalam menghadapi berbagai rintangan. Meskipun jalannya panjang dan penuh dengan keringat dan kerja keras, Liona tahu bahwa ini adalah bagian dari perjalanan menuju kekuatan sejati.
Dengan setiap malam yang berlalu, tubuh Liona semakin kuat. Ia merasakan kekuatan Stella semakin menyatu dengan tubuhnya, dan ia tahu bahwa ia berada di jalur yang benar. Dengan determinasi yang tak tergoyahkan, Liona terus melatih kekuatan fisiknya, mengejar mimpi untuk menjadi lebih dari sekadar bayangan masa lalu Stella. Ia akan menjadi Liona yang kuat, tangguh, dan tak terkalahkan.
***
Liona berjalan diantara pepohonan didekat gedung olahraga. Tubuhnya lelah, keringat di sekitar pelipis menjelaskan betapa banyak usaha yang dia lakukan untuk mencapai tujuan.
Akhhh!
Bughhh
Srettt
Bughhh
"S-sial..!"
Liona mendengar perkelahian di gedung tak terpakai yang dia lewati. Gadis itu bersembunyi dan sedikit mengintip.
Matanya membulat dengan bibir menipis. Darah berceceran di mana-mana.
"Aghhhk Arriooon!!"
Liona menegang. Apa tadi katanya? Arion? Suara serak tadi, dia pernah mendengarnya.
Dia kembali mengintip. Disana ada seorang wanita berpenampilan telanjang bergerak liar didepan seorang cowok yang duduk dengan wajah datar. Bibirnya menyunggingkan senyum miring.
"Lebih liar!"
Ughhhh
Shit!
Jelas itu suara Alanrion.
Liona menatap cowok yang tampak mendominasi walau tak melakukan apapun. Wajah tampan itu sangat datar.
Liona berfikir, sebenarnya apa yang terjadi disini. Mengapa ada banyak darah dengan satu wanita yang bergerak erotis.
Srek
Kayu yang dia injak menimbulkan bunyi ketika ia hendak pergi.
Liona kembali melihat ke dalam memastikan kedua orang itu tidak melihatnya.
Namun harapannya pupus ketika manik mata nyalang itu justru balik menatapnya.
Arion sudah tau seseorang mengintipnya daritadi. Lelaki itu memastikannya dari bayangan yang timbul dari jendela.
Seorang perempuan.
Matanya cantik namun tatapannya tajam.
Terasa familiar.
Itu dia,
Liona Hazel Elnara.
Gadis itu hanya diam ketika bertatapan dengan mata yang menatapnya nyalang.
Arion mengalihkan tatapannya ketika wanita di depannya bergerak ke pangkuannya. Wanita itu menangkup rahangnya dengan suara tangisan di bibirnya.
"Ampuni aku, tuan.."
Srettt
Liona tertegun ketika dengan gampangnya Arion melesatkan sebuah pisau ke perut wanita itu hingga tak sadarkan diri dengan darah yang terciprat mengenai wajah Arion.
Tidak ada raut jijik di wajahnya, hanya sebuah seringaian buas yang terpampang jelas di mata Liona.
Namun, cowok itu kembali menatapnya. Mengacungkan jempol tanda kemenangan. Liona kembali terpaku di tempatnya berdiri.
"Bagaimana Hazel? Kau suka pemandangan yang satu ini?" Dia lalu berdiri, berjalan menuju kitchen set lalu mengambil sebuah tombak tajam.
Arion kembali ke tempatnya tadi. Senyum lebar terpampang di wajahnya, menampilkan sisi gelap yang tak pernah terlihat sebelumnya. Tangannya masih memegang tombak.
"Lihat ini Sayang." Bersama kalimatnya, Arion menghujamkan benda tajam itu ke perut wanita tadi tanpa rasa belas kasihan. Darah merah muncrat membasahi tubuhnya.
Ekspresi wajahnya menunjukkan kepuasan yang tak terkendali. Menikmati setiap detik kehancuran yang baru saja dia ciptakan.
"Gila.."
Liona masih berdiri di tempatnya, bergeming, kaku. Dia merasa dejavu.
Arion sudah beralih meraih ponsel, menelpon seseorang.
"Seperti biasa, bereskan tempat ini."
Ponselnya kemudian ia letakkan di meja, tampak santai berlalu pergi sambil melambaikan tangan kepada Liona.
***
Liona berdiri kaku di tempatnya, memproses apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Pemandangan itu mengerikan, namun anehnya, dia tidak merasa takut. Sebaliknya, ada rasa penasaran yang menyelimuti pikirannya. Arion, dengan semua tindakan kejamnya, memicu keinginan Liona untuk memahami lebih jauh tentang dirinya.
Saat Arion berjalan keluar dari gedung, Liona mengikuti langkahnya dengan pandangan. Ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang mengundang dan menantang sekaligus. Liona merasakan detak jantungnya semakin cepat, tapi bukan karena takut. Keberanian yang tak terduga muncul dalam dirinya.
Tanpa sadar, Liona mulai bergerak, mengikuti jejak Arion. Pria itu berjalan santai, seolah-olah apa yang baru saja dilakukannya adalah hal biasa. Liona mencoba menjaga jarak, namun memastikan dirinya tetap bisa melihat Arion dengan jelas.
Arion akhirnya berhenti di sebuah taman yang sepi, tempat lampu-lampu taman menerangi wajahnya dengan cahaya redup. Dia duduk di bangku kayu, menatap langit malam yang bertabur bintang. Liona mengambil tempat di balik pohon besar, mengintip dari balik bayangan. Pemandangan itu kontras sekali dengan sosok sadis yang dia lihat sebelumnya.
Tanpa peringatan, Arion berbicara, suaranya rendah tapi jelas terdengar di tengah keheningan malam.
"Gue tahu lo ada di sana, Hazel."
Liona terkejut tapi tidak mundur. Dia melangkah keluar dari persembunyiannya, berjalan mendekati Arion dengan langkah yang tegas. Matanya menatap lurus ke arah pria itu, mencoba membaca ekspresinya.
"Kenapa?" tanya Liona, suaranya tegas tapi tidak menunjukkan ketakutan.
Arion menoleh padanya, senyumnya yang penuh misteri kembali muncul di bibirnya. "Kita harus membuat pilihan yang sulit untuk mencapai tujuan kita."
"Tapi membunuh? Apa itu bagian dari tujuannya?" Liona menuntut jawaban, rasa penasaran semakin membakar dirinya.
Arion mengangkat bahu, seolah pertanyaan itu tidak memiliki bobot yang berarti. "Ada banyak hal yang tidak kita pahami di dunia ini, Hazel. Dunia ini tidak selalu hitam dan putih. Kadang, ada abu-abu di antaranya."
Liona merasa frustrasi dengan jawaban Arion yang mengambang. Tapi, ada sesuatu dalam dirinya yang mendorong untuk terus menggali lebih dalam.
"Gue mau tahu lebih banyak," ujar Liona, suaranya lebih lembut tapi penuh determinasi.
Arion menatapnya dengan mata yang tajam, seolah menilai apakah Liona benar-benar serius. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, dia berdiri dan berjalan mendekati Liona.
"Lo akan tahu, Hazel. Tapi ingat, setiap jawaban memiliki konsekuensinya sendiri."
Liona tidak mundur, dia tetap berdiri teguh di hadapan Arion. "Gue siap."
#Tbc
Sorry ya nggak update kemarin2, lagi berduka & jaringan juga nggak mendukung.
Makasih selalu menunggu cerita selanjutnya, tetaplah disini hingga tamat ya:)
Follow ig penulis: @wiwirmdni21
VOTE DAN SPAM KOMEN pliss
Secuil jejak anda, means a lot_
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!