VOTE DULU YAAð¥º
Arabella menggigit bibir, berusaha menguasai ketakutannya. "Liat tubuh lo sekarang, hampir telanjang!" ejeknya sambil menatap tubuh Liona yang hanya mengenakan kaos tipis dan rok sekolah. Namun, yang mengejutkan Arabella, Liona sama sekali tak bereaksi. Gadis itu tampak bodo amat, seperti tak peduli.
"Lo kenapa?" Liona bertanya, suaranya tenang dan mengintimidasi. "Gue ada masalah apa sama lo, heum?" Tatapan Liona kini berubah tajam, datar, tapi menusuk. Arabella seolah menatap Arka dalam sosok Liona-tegas, tanpa ampun.
"Sebelumnya gue minta maaf, kita bahkan nggak kenal satu sama lain-"
"Oke," lanjut Liona sambil melirik seragamnya yang robek menjadi beberapa bagian, "tapi apa ini?" Suara Liona meninggi, tangan kirinya menunjuk ke arah potongan seragam itu yang tergeletak di lantai. "Masalah lo apa, hah?"
"Gue gak suka lo deket dengan Arka!" bentak Arabella menatapnya nyalang.
Seketika, Liona tertawa. Tawa itu dingin, hampir menakutkan. "Oh, cemburu?" tanyanya dengan senyum miring yang penuh ejekan.
"Lo tawarin apa sampai dia mau jalan sama lo, hah? tawarin tubuh kah?" Arabella tampak memperhatikan lekuk tubuh Liona yang tampak jelas karna hanya mengenakan tank top. Gadis itu tampak menyerngit.
Liona menyadarinya kemudian tersenyum miring. "Kenapa? Merasa kalah?"
Arabella tertawa. "Yakin amat? lo kemana aja sama dia kemarin?" tanyanya mendekat dengan tatapan tak lepas dari Liona.
"Coba tebak!" Liona juga mendekat hingga keduanya berhadapan. Liona tersenyum.
"KEMANA AJA?!" bentak Arabella kepalang emosi. "Lo bener-bener murahan! Arka milik gue sialan, lo tau itu!!" gadis itu sedikit berkaca-kaca.
Liona tertegun dan mundur. Arabella menangis. "Seberapa suka lo sama dia?" tanyanya pelan.
"Arka cuma milik gue..." Arabella mengacak rambutnya. "Cuma gue yang boleh dekat sama dia, lo gak boleh!"
"Cewek posesif," batin Liona.
Liona melihat Arabella dengan mata menyipit, tampak menikmati emosi yang berkobar di hadapannya. "Oh, lo benar-benar berpikiran kayak gitu ya?" Liona tertawa kecil, matanya berkilat-kilat dengan tantangan. "Kalau gitu, lo pasti nggak mau tahu kalau kita pergi ke hotel bersama, kan?"
Arabella terkejut, wajahnya memucat. "Apa?" gumamnya.
"Iya, kami menghabiskan malam bersama," kata Liona dengan senyum sinis. "Tidur di tempat yang sama."
"BOHONG!" teriak Arabella, matanya berkaca-kaca dengan kemarahan. "Gue nggak percaya!"
"Percaya atau nggak, itu masalah lo sendiri," kata Liona santai. "Tapi Arka kelihatan sangat nyaman waktu itu. Mungkin lo seharusnya lebih baik jagain cowok lo sendiri."
Arabella tak bisa menahan diri lagi. Dengan teriakan marah, dia menyerang Liona, mencoba mencakar wajahnya. Namun, Liona dengan cekatan menangkis serangan itu, memegang pergelangan tangan Arabella dengan kuat.
"Lo pikir gue nggak bisa ngelawan?" kata Liona, matanya dingin. "Jangan remehin gue."
Arabella semakin marah. Dia melepaskan tangannya dari cengkeraman Liona dan mencoba menendang Liona di perut. Liona dengan sigap menghindar, langkahnya cepat dan lincah. Arabella berusaha lagi, kali ini mencoba menarik rambut Liona, namun Liona menangkap tangan Arabella dan memelintirnya ke belakang.
"Berhenti sebelum lo nyakitin diri lo sendiri," Liona memperingatkan, tetapi Arabella tidak mendengarkan. Dengan satu gerakan cepat, Arabella melepaskan diri dan meninju Liona di wajah, membuat Liona tersentak mundur.
Liona menyeka darah dari sudut bibirnya dan tersenyum. "Lo benar-benar mau nantangin, ya?" Dia maju lagi, mengayunkan tinjunya ke arah Arabella. Pertarungan itu semakin sengit, keduanya bertukar pukulan dan tendangan.
Arabella tampak semakin lelah, napasnya terengah-engah. Dia mencoba satu serangan terakhir, tetapi Liona menangkisnya dengan mudah dan menjatuhkan Arabella ke tanah. Arabella terbaring di sana, mencoba bangkit tetapi tubuhnya tak lagi kuat.
"Udah cukup?" tanya Liona, menatap Arabella yang tergeletak tak berdaya.
Arabella mengerang, tampak pasrah. "Gue nggak bisa ngalahin lo..." katanya dengan suara lemah.
Saat itu, Liona mendengar langkah kaki mendekat. Dia menoleh, dan melihat Ilona datang dengan wajah penuh amarah. "Liona, berhenti sekarang!" teriak Ilona sebelum berlari dan memukul belakang kepala Liona dengan benda keras.
Liona sempat memperhatikan tatapan Ilona, menyadari ada sesuatu yang salah. Dengan gerakan cepat, dia melangkah maju dan meraih kerah seragam Ilona, menariknya dengan kuat hingga wajah Ilona berjarak dekat dengan wajahnya. "Lo ngapain lagi?" desis Liona dengan dingin.
Sebelum dia sempat bereaksi, sesuatu yang tidak diduganya terjadi. Sebuah pukulan keras menghantam tengkuknya, begitu kuat hingga membuat pandangannya kabur seketika. Liona tersentak, tubuhnya goyah. Kepalanya berdenyut hebat, dan dia menyadari ada yang salah.
Di saat Liona berusaha menahan kesadarannya yang perlahan memudar, Ilona mendekat dengan gerakan cepat, menekan kain beraroma menyengat ke wajah Liona. Gadis itu berusaha melawan, tapi tubuhnya mulai melemah. Kepalanya semakin berat, napasnya memburu, dan dalam hitungan detik, semuanya menjadi gelap.
"Sialan, Ilona..." gumamnya sebelum kesadarannya sepenuhnya hilang, Liona menangkap bayangan seseorang di belakang Ilona. Gama. Dialah yang memukulnya dari belakang.
Tubuh Liona masih membutuhkan lebih banyak pengalaman; Stella ingin bergerak leluasa, namun rasanya ada batasan tak terlihat yang mengurungnya. Tubuh Liona harus diasah lebih lanjut agar dapat mengikuti setiap gerakan Stella dengan sempurna.
"Pergi sekarang, sebelum ada yang datang!" seru Ilona terburu-buru, matanya masih mengawasi tubuh Liona yang terbaring tak berdaya.
Arabella, meski terluka, mencoba bangkit dengan susah payah, wajahnya masih terkejut. "Dimana Reina?" tanyanya, suaranya bergetar.
"Lari ke bawah," jawab Ilona cepat, "dia yang kasih tahu gue kalau kalian bakalan saling bunuh."
"Ya, dia beneran kayak mau ngebunuh. Monster sialan ini hampir aja bikin gue celaka," kata Arabella sambil melirik Liona yang terkapar di tanah, lalu pergi bersama Ilona.
Dengan rasa kemenangan terpatri di wajah mereka, mereka meninggalkan Liona dalam keadaan tak berdaya. Namun dalam hati, mereka tahu, siapapun yang ada di posisi Liona akan jatuh jika mengalami serangan seperti itu.
***
Sore menjelang malam Liona merasa pusing dan akhirnya sadar. Gadis itu menatap langit mendung yang seolah melindunginya dari terik matahari yang begitu panas.
Liona ingin bangun namun tubuhnya merasa lemah. Tangannya bergetar.
Namun seolah tak menghiraukannya dia tetap bersikeras untuk berdiri dari tempatnya menuju pintu rooftop.
"Shit?!" pintu terkunci dari dalam. Liona menghela nafas.
Hujan mulai berjatuhan dengan udara dingin yang bertiup kencang. Liona memeluk tubuhnya. Dia kedinginan.
Cukup lama Liona berdiri disana dengan kepala menunduk. Sial, dia tak berdaya walau hanya untuk menopang tubuhnya sendiri.
Dengan kesadaran yang hampir hilang gadis itu merosot kebawah dan duduk dilantai yang basah.
Dia seperti pengemis dengan pakaian yang tak lengkap. Liona memandang seragam sekolahnya yang sudah basah di depan sana. Seragam itu sudah tidak terbentuk sama sekali.
"Gue gak suka keadaan kayak gini." Liona menggenggam roknya kuat, matanya terpejam menahan sakit di seluruh tubuhnya.
Beberapa jam kemudian, langit menggelap sepenuhnya. Liona memilih tidur dengan keadaan memprihatinkan.
Brak
Pintu didobrak dengan keras. Tidak berhasil, namun di percobaan kedua pintu itu rusak dengan tendangan kuat.
Arion masuk dengan masker yang melekat diwajah tampannya. Lelaki itu mengumpat. "Siapa yang ngunci pintu ini?"
Awalnya Arion tidak menyadari jika ada Liona di samping pintu. Hingga akhirnya cowok itu merasa aneh kemudian berbalik. Badannya menegang dengan tatapan terpaku.
Cowok itu dengan cepat melepas jaket tebalnya kemudian menyampirkannya di tubuh gadis yang tak sadarkan diri itu.
Kulit Arion tak sengaja bergesekan dengan bahu Liona. Arion langsung menjauhkannya setelah itu. Tubuhnya menengang ketika kontak langsung yang gak dia sengaja itu.
Arion memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya untuk menyentuh dagu gadis di depannya. Dengan perlahan dia mengangkatnys,
Deg
Tubuhnya kembali menegang kaku. Wajah pucat Liona mengambil seluruh perhatiannya. Seperti mayat namun tubuh gadis itu terasa hangat.
Tanpa berlama-lama lagi Arion langsung memeluk Liona dan menggendongnya kearah gudang miliknya setelah membukanya dengan kunci.
"Hey, Liona. Sadarlah!" Arion menarik selimut kemudian membungkus tubuh Liona yang bergetar.
Arion tak tau harus melakukan apa. Seluruh pakaian Liona basah yang tentunya membuat gadis itu semakin menggigil.
"Dingin.." lirih Liona.
Arion menatapnya. Gadis itu bahkan tak membuka matanya. Liona mengigau.
"Tolong... buka pintunya..." Liona menggigit bibirnya, tangan gadis itu bahkan mengepal.
"Hhhh.. Ilona matilah.. mati.. Lo harus mati.." Arion tertarik dengan kalimat nya. Cowok itu menyingkirkan anak rambut diwajah Liona.
#Tbc!
FOLLOW IG: @wiwirmdni21
Secuil jejak anda, means a lot_
VOTE DAN SPAM KOMEN 'NEXT' YAAA SAMPAI JUMPA!
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!