Chapter 10 of 64

TSK-12

TRANSMIGRASI SANG KETUA1,455 words~8 min read

VOTE DULU YA:(

Liona berjalan santai ke arah parkiran dimana Arka menunggunya. Sesuai janji Arka akan menemani adiknya itu menjenguk Alden.

Gadis itu melihat kakaknya, cowok itu terlihat termangu di atas motornya dengan pandangan lurus ke depan. Liona mengerutkan keningnya, ada apa dengannya.

"Arka," Liona mengusap bahu Arka lembut. "Ada apa?"

Arka terkejud kemudian tersenyum lebar. "Nggak kok, lagi mikirin sesuatu aja daritadi,"

Liona menyadari kebohongan di netra Arka. Namun gadis itu tak berani bertanya lebih lanjut. Mungkin bagian privasi Arka. "Ayo ke rumah sakit."

"Udah makan?" tanya Arka mengenakan helmnya.

Liona menggeleng. "Belum,"

"Kita mampir beli makanan dulu, ya. Kamu makannya di ruangan abang Alden aja." Liona hanya mengangguk kemudian naik ke motor Arka. "Pegangan," titah Arka.

"Udah."

Motor melaju dengan kecepatan sedang. Siswa yang masih di parkiran menatap mereka bingung. Mereka bertanya-tanya dengan sedikit rasa cemburu. Ada hubungan apa dengan Arka dengan adik kelasnnya itu.

"Kalian tau siapa cewek yang dibonceng Arka?" tanya gadis dengan tangan mengepal. Namanya Arabella.

"Dia kan Liona, anak yang diusir kemarin sama Ayah-nya sendiri."

"Katanya dia saudara tiri Ilona?"

"Iya, katanya sih begitu..."

"Terus ngapain dia berdua doang dengan Arka?" tanya Arabella kembali.

"Pacaran, mungkin? nggak jarang gue liat Arka liatin Liona dari jauh, kayak perhatian gitu." jawab temannya.

"Eh, lo kan dekat sama Arka. Dia nggak ada cerita gitu kalo dia lagi dekat sama adik kelas itu?"

Arabella mendengus. "Gue nggak tau kalo dia deket sama cewek lain selain gue.."

"Nggak ada niat buat peringatin itu cewek? namanya Liona Hazel, katanya dia murid pendiem, dia juga jadi bulan-bulanannya si Reina."

"Panggil Reina buat ketemu sama gue di aula."

"O-okee!"

***

Liona menyadari keterdiaman Arka selama perjalanan. Dia mengenal kakanya itu, Arka bukan tipe pendiam seperti sekarang.

Sampai di warung makanan Arka turun dan menatap Liona. "Mau ikut masuk atau nunggu disini?" tanyanya.

"Gue disini aja." kata Liona.

Arka mengangguk kemudian mengelus kepala Liona kemudian pergi. Namun Liona berani bersumpah bahwa dia mendengar suara geraman dari cowok itu. Perubahan raut wajah Arka setelah berbalik meninggalkannya membuat Liona yakin jika cowok itu tidak sedang baik-baik saja.

Beberapa menit berlalu, Arka kembali dengan beberapa kantong ditangannya. Mereka kembali melanjutkan perjalanan hingga sampai di rumah sakit di mana Alden dirawat.

"Kayaknya bang Rafan ada di dalam." kata Arka menatap Liona.

"Siapa aja di dalam?" tanya Liona.

"Teman-teman Alden dari kampus, ada Rafan sama istrinya, mau masuk?" tanya Arka.

Liona mengangguk. "Gapapa kok, lagian gue cuma sebentar."

Arka diam kemudian membuka pintu. "Ayo masuk."

Semua yang ada disana sontak menatap kearah suara. Liona masuk dengan wajah datar. Namun gadis itu tersenyum ketika melihat Alden yang merentangkan tangannya ingin dipeluk.

Liona dengan senang hati memberikannya. "Gimana hari ini?" tanya gadis itu.

"Baik, kecuali kabar nanti malam harus di operasi." Alden menghela nafas.

Adera menatap Liona datar dan mulai tidak mempedulikannya. Dia menoleh kearah Rafan yang ternyata juga menatap Liona sendu.

"Peluk dong bang, adeknya." goda Alden menatap Rafan.

Liona mengikuti arah pandang Alden. Disana ada Rafan yang ternyata menatapnya. Gadis itu merentangkan tangannya dengan senyum lebar. "Can you hug me?"

Rafan menarik Liona ke pelukannya. Lelaki itu mengelus surai lembut adiknya itu. "Dasar,"

Liona merasa hangat. "Makasih,"

Rafan menatap Liona dalam. "Ayah menyakitimu,"

"Kata siapa?" tanya Liona balik.

"Arka," Liona menatap Arka yang duduk di pojok ruangan dengan mata tertutup. "Dia bilang kamu diusir dari rumah, dia menamparmu di depan beberapa guru bahkan membentakmu. Dimana kamu tinggal sekarang?" tanya Rafan menuntut.

"Deket sekolah." jawab Liona.

"Ambil beberapa barangmu dan tinggallah bersama kami." Liona menggeleng. "Kenapa, Liona?"

"Nggak mau jadi benalu."

"Siapa yang menyebutmu seperti itu?" Rafan mengelus surai Liona.

Liona menggeleng. "Seseorang pasti berfikir seperti itu, lagipula rumahku yang sekarang nyaman kok."

"Jika butuh tempat datanglah kerumah." kata Rafan. Liona hanya mengangguk saja menanggapi.

Arka berjalan mendekatinya. "Liona." panggilnya.

"Ya?"

"Apa kehancuran Ilona yang lo tunggu?" tanyanya tiba-tiba, tanpa ada peringatan. Nada suaranya tajam, seperti menyelam ke dalam lautan emosinya yang selama ini dia pendam.

"Kenapa abang bertanya?" Liona menatapnya. "Kenapa tiba-tiba?"

"Dia nyakitin lo, video viral itu.. Lo kan?" Liona membelalak. Video itu ternyata sampai ke Arka.

"Ya, kurasa."

"Bekas luka di kepala lo, apa dia penyebabnya?"

Liona menatap Arka, dan dalam sekejap dia menyadari apa yang selama ini dia abaikan—tatapan serius Arka, keterdiamannya yang menggantung. Ternyata, Arka sudah tahu, bahkan memikirkan video CCTV yang dia sebarkan, dan kini dia memastikannya dengan menyentuh bekas luka itu. Suara geraman Arka yang rendah terdengar jelas di telinganya.

Liona terperanjat. Selama ini, Arka benar-benar memperhatikannya. Selalu.

"Itu adik kalian?" teman kampus Alden bersuara. "Dan kalian cuma diam setelah tau adik kalian di bully di sekolahnya?" tanyanya.

Adera menyela. "Itu sudah lama, buktinya Liona baik-baik aja kan sekarang?"

Liona menatap Adera dengan tatapan lebih serius, namun tetap tenang. "Iya, benar." jawabnya singkat, tanpa ada amarah yang terkesan.

Tapi bagi Arka, itu bukan jawaban yang cukup. Kepalanya terasa penuh, emosinya mendidih. "Baik-baik aja?" katanya dengan nada rendah, mengandung kemarahan yang membara. "Liona, adek gue ini... Dia bukan cuma sekadar baik-baik aja! Dia terluka, dia dihina, dia dipermalukan, dan lo bilang dia baik-baik aja?!"

Suara Arka memecah, dan sekarang, semua perhatian tertuju padanya. Matanya menyala, wajahnya tegang. Dia merasa marah—marah kepada dirinya sendiri, kepada teman-temannya, kepada siapa pun yang tidak melihat betapa sakitnya melihat adiknya diperlakukan seperti itu.

"Tapi kami—" Adera hendak berkata, namun Arka langsung memotongnya dengan amarah yang meluap. "Kita semua gak pernah peduli!" bentaknya. "Sementara itu, dia," Arka menunjuk Liona dengan perasaan yang hampir tak tertahankan, "dia yang harus menanggung semua ini sendirian."

Liona menatap Arka, namun kali ini pandangannya lebih dalam, lebih tenang. "Abang, gue baik-baik aja," jawabnya pelan, tetap dengan ketenangan yang sama, meskipun ada kesedihan tersembunyi di dalamnya. "Udah biasa."

Arka terdiam sejenak, terkejut dengan ketenangan Liona yang bahkan dia sendiri tak bisa pahami. "Lo... Lo gak marah?" tanya Arka, suaranya terengah, bingung dengan reaksi adiknya yang begitu tenang.

Liona menatap Arka sendu, tanpa melepaskan senyum tipis. "Enggak," jawabnya pelan. "Gue cuma lelah,"

***

Liona memasuki flatnya dengan keadaan lelah. Setelah meyakinkan saudaranya jika dia baik-baik saja ia akhirnya pamit pulang meskipun Alden menahannya dan memintanya untuk bermalam.

Liona menolak karna ia tau Elina—ibunya—hanya akan merasa terganggu jika dia tetap disana.

Keesokan harinya, Liona mendapati Reina yang menghadangnya di koridor sekolah.

"Minggir." kata Liona dingin.

"Lo kan yang nyebarin rekaman video itu?!"

"Hm, kenapa?"

"Lo ikut gue!" Reina dengan kasar menarik tangan Liona, menyeretnya ke rooftop sekolah. Di sana, beberapa teman Reina sudah menunggu, dan di sudut, Liona bisa melihat seember air terletak mencurigakan.

Sial, ini jebakan, pikir Liona, tapi sebelum dia bisa bereaksi...

Byur!

Air dingin menyiram tubuh Liona, membasahi seragamnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mata Liona menyipit, bukan karena dingin, tapi karena kemarahan yang mulai mendidih dalam dirinya. la yakin rencana ini sudah disiapkan matang-matang. Air itu jelas sudah dipersiapkan sebelum ia sampai di sini.

Tanpa aba-aba, Liona bergerak cepat.

Bugh!

Tendangannya menghantam perut Reina dengan keras. Reina tersentak mundur, terbatuk kesakitan, tapi Liona tak memberinya waktu untuk pulih. Tangan Liona langsung meraih rambut Reina, menariknya ke belakang dengan kasar, membuat gadis itu berteriak.

"Ngghh... lepasin!"

"Liat gue sialan!" Liona semakin menarik rambut Reina ke belakang. Matanya menyiratkan emosi yang siap meledak kapan saja.

"Akhhh, lepass!!"

Liona mendorong tubuh Reina kebelakang hingga gadis itu terjatuh. Liona menduduki perut Reina kemudian menamparnya berkali-kali.

"Gue nggak punya salah sama lo, urusan gue dengan lo itu nggak ada!!" bentak Liona kemudian menekan kukunya ke leher Reina.

"Ampuun!!" Reina bersungguh-sungguh menyatukan tangannya. Air matanya terjatuh dengan perasaan sesak menguasainya.

"Masalah gue banyak! Nggak usah lo tambain!" Liona semakin menekan leher Reina.

Arabella yang terpaku melihat semuanya hanya terdiam kaku. Ya, dia dan Reina yang merencanakan semua ini. Dia jugalah yang menyiram Liona tadi.

"Sialan! Lepas dia!!" teriak Arabella kemudian menarik seragam tipis Liona.

Namun karena pertahanan Liona yang terus bertahan untuk melukai Reina membuat kancing bajunya terlepas gara-gara tarikan kuat yang Arabella berikan dengan pertahanan tubuh Liona.

Bajunya sobek. Arabella tersenyum lebar kemudian mengambil pisau cutter dan merobek seragam Liona.

Liona meliriknya tajam setelah Reina pingsan. Liona menepis kasar tangan Arabella yang mencoba kembali mengiris seragamnya yang sudah koyak.

"Lo mau apa?" Liona bertanya, suaranya rendah tapi tajam seperti pisau. Matanya menusuk Arabella dengan tatapan penuh penghinaan. "Mau seragam kumuh ini?"

Arabella terdiam sejenak, tidak menyangka Liona akan bereaksi seperti itu. Gadis di hadapannya, meskipun dalam keadaan seragamnya hampir tercabik, tetap berdiri tegak, tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan sedikit pun.

Tanpa ragu, Liona menarik sisa seragam yang masih melekat di tubuhnya, lalu melemparkannya kasar ke arah Arabella. "Ambil," ucap Liona dingin, suaranya penuh kebencian dan ejekan.

"Dasar jalang!"

Jalang, jalang, dan jalang terus!! Liona muak. Gadis itu maju dan menarik kerah baju Arabella kasar. "Apa nggak ada kata kasar selain jalang yang bisa lo sebutin? Seperti fuck misalnya?"

#Tbc!!

FOLLOW IG: @wiwirmdni21

Secuil jejak anda, means a lot_

VOTE DAN SPAM KOMEN PLISSS

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!