Chapter 36: 35| The Apple of My Eye

The Apple of My Eye [COMPLETE]Words: 21549

12 Desember 2026

"Aduh, kok deg-degkan gini ya rasanya."

Gelak tawa terdengar dari dalam ruangan. Pada ruang tamu dan tengah yang sudah ditata sedemikian rupa dengan sentuhan nuansa putih dan silver.

Dua bulan setelah melamar Kaila di taman rumah sakit. Kini tiba hari di mana laki-laki itu akan melamarnya secara resmi dan formal. Tidak mudah untuk sampai di tahap ini. Berbekal alamat usang dari Ratna, pemuda itu berkelana dari pagi hingga pagi hanya untuk mencari tahu keberadaan Ayah Kaila.

Seminggu yang lalu...

Motor sport itu berhenti tepat di depan rumah berpagar putih. Agam membuka helm lantas turun dari motor. Mengamati sekitar sebelum kembali fokus menatap rumah tersebut.

"Semoga ini yang terakhir.." gumamnya pelan.

Laki-laki yang berbalut pakaian serba hitam serta dipadu jaket kulit berwarna cokelat itu masuk ke pelantaran rumah. Sesekali menghembuskan napas pelan. Takut jika sampai salah rumah untuk yang kesekian kali.

Agam berdehem pelan, mengusir debaran yang semakin tidak karuan. "Sopan mana ketuk pintu atau teken bell rumah?" tanyanya pada diri sendiri. "Dobrak kali, ya?"

Saat tangannya tergerak untuk menekan bell, ia malah terperanjat kala pintu terbuka menampakkan sosok pria bertubuh tinggi semampai.

"Astaghfirullahaladzim," kagetnya sambil mengelus dada berkali-kali.

Agam lebih terkejut karena pria yang ada di depannya memiliki wajah yang super duper mirip Kaila, bedanya ini versi pria. Agam juga langsung paham kenapa gadis yang ia cintai itu memiliki paras yang sempurna. Ibu dan Ayah Kaila ternyata memang pabrik unggulan.

Tubuh dengan tinggi badan proporsional, serta wajah tegas yang masih awet muda memperkuat kharisma Ayah Kaila. Matanya yang tajam dan intens itu— Agam sadari juga ada di pada diri Kaila.

Sedetik kemudian ia tersadar akan responnya yang sangat jauh dari kata sopan. Pemuda ini berdiri tegap lantas menunduk singkat. "Assalamualaikum, selamat malam, Om Swastiastu Namo Buddhaya Salam Kebajikan. Perkenalkan Om, saya Agam Pradana," katanya memperkenalkan diri.

"Ada apa?"

Suara itu menggema di telinganya. Seketika cegukan pun datang. Agam sontak menutup mulut. Tiga rumah yang ia hampiri sebelumnya tidak sampai membuat ia gugup seperti sekarang. Apalagi sampai cegukan.

"Anu Om, saya mau nanya—"

"Nanya apa?"

Seperti mendapat tembakan tepat di ulu hati. Pemuda itu meringis pelan, entah bagaimana menjelaskan situasi sekarang. Yang jelas, alis pria di hadapannya yang sedang menukik tajam ini membuatnya ingin pulang sekarang juga.

Agam merapatkan bibir, mengatur napas diam-diam kemudian memberanikan diri untuk kembali melemparkan senyuman ramah. "Apa benar ini rumah Bapak Hanung Kuncoro?" tanyanya dengan nada formal.

Kini tatapan tajam dari pria di hadapannya mulai mengendur. Mengamati penampilan Agam dari atas hingga bawah. Tampak sedang memikirkan sesuatu di sana.

"Betul, saya sendiri Hanung Kuncoro."

Satu pernyataan yang berhasil membuat Agam menghela napas lega di tengah-tengah degupan gugup yang belum kunjung berhenti.

Pemuda berjaket kulit ini terlihat lebih sumringah dari sebelumnya. Mengibas tangan ke celana jeans lalu mengulurkannya ke Hanung. "Perkenalkan lagi Om. Saya Agam Pradana, anak terakhir dari Bapak Bambang Pradana dan Ibu Desi Maharani," tuturnya dengan berbangga diri.

Hanung memandang aneh pemuda di hadapannya, namun tetap membalas uluran tangan Agam. "Sebetulnya ada keperluan apa?"

Agam semakin melebarkan senyumnya. "Gimana kalau kita duduk dulu, Om?"

Di mana seharusnya itu adalah ucapan dari pemilik rumah kepada tamu. Namun dengan tenangnya ia yang melontarkan penawaran tersebut. Bagai dihipnotis, Hanung pun menuruti ucapan Agam.

Pria tersebut lantas mengarahkan untuk duduk di kursi teras rumah.

"Om nggak mau sambil merokok?"

"Saya tidak merokok."

Agam berohria. Kemudian mengangguk paham. "Saya juga udah berhenti merokok sejak keciduk anak Om waktu di sekolah."

Raut bingung jelas terpatri di wajah Hanung. Akan tetapi masih setia memilih diam mendengarkan kalimat apa yang akan pemuda ini lontarkan.

"Saya Agam—"

"Tiga kali kamu udah kenalan, iya saya tahu kamu Agam."

Ternyata memang benar adanya, ada hal lain yang lebih tajam dari pada pedang yaitu lidah manusia. Dan untuk yang kesekian kali ia terkesiap akibat potongan kalimat sepedas Pepper X.

"Saya pacarnya Kaila, Om," ucapnya dengan sekali napas, takut jika dipotong lagi.

Suara kicauan dari salah satu burung yang tergantung di plafon teras rumah, menjadi pemecah keheningan di antara mereka. Hembusan napas berat keluar dari mulut pria paruh baya ini. Lantas melempar pandangan ke hamparan halaman rumah. Dalam diam, Agam melirik Hanung.

"Saya ke sini juga mau izin meminta restu Om Hanung untuk merestui hubungan kami berdua— saya ingin ngelamar Kaila, Om."

Suasana seketika menjadi lebih serius dari sebelumnya. Pemuda ini biasanya tidak kenal gentar, tetapi sekarang kakinya malah gergetar tanpa henti untuk menghilangkan rasa kalut dalam diri.

"Apa yang kamu sampaikan barusan ini serius?" ujar Hanung.

"Saya serius Om."

"Apa jaminannya?"

"Semuanya. Semua yang ada pada saya, Om. Karena saya nggak akan berani sejauh ini kalau saya nggak serius sama Kaila."

Di bawah lampu teras yang berwarna kuning, dapat Hanung tangkap dengan jelas raut berani yang perlahan mulai mempertegas kedatangannya. Semilir angin malam berhasil menggerakkan beberapa dedaunan di sana.

Hanung tampak berdiri dari duduknya. "Kamu mau minum apa? Saya mau ke dalam sebentar ambil kopi."

"Enggak perlu repot-repot, Om. Tapi kalau ditawari boleh deh, Om, apa aja saya terima," ucapnya agak sedikit lebih santai.

"Air kolam nggak masalah berarti?"

Agam tertawa renyah, saat menhadari jika calon mertuanya juga bisa bercanda. Saat pria tersebut masuk ke dalam, saat itu pula ia menghisap udara dengan tamak. Kalo tau seeprti ini mending sedari awal ia mengeluarkan jurus SKSD-nya.

Lima belas menit menunggu, sosok Hanung keluar dengan seorang wanita yang mungkin usianya tidak jauh dari Ratna. Dengan sigap Agam langsung berdiri, mengamit tangan wanita tersebut untuk memberi salam hangat dengan sopan.

"Jadi ini calonnya ya, Pa?"

Hendak dijawab oleh Agam, namun suara Hanung lebih dulu menggema. "Belum lolos seleksi."

Jantung Agam mencelos. Buah jatuh sepohon-pohonnya merupakan gambaran yang tepat saat ini. Pemuda ini semakin yakin kalau pria di hadapannya ini memang Ayah bilogis Kaila. Seratus persen akurat tanpa perlu melalui tes DNA.

"Jangan gitu, Pa, kasian anaknya jadi tegang," bisik wanita tersebut.

Hanung terkekeh pelan sambil memberikan teh hangat pada Agam. Mereka kembali duduk di kursi setelah sang Istri izin untuk masuk ke dalam.

"Sudah berapa lama kenal Kaila?"

Agam yang hendak menyesap teh kembali meletakkan cangkir tersebut ke atas meja kemudian berdehem pelan. "Dari saya TK Om."

Hanung tampak kaget. "TK?"

Pemuda itu mengangguk mantap. "Iya Om, kita udah kenal sejak berumur 5 tahun. Kebetulan banget kita berdua seumuran, rumah juga bersebrangan."

Hanung tersenyum tipis. Menyesap kopi lantas memandang jauh langit malam yang entah sejak kapan dipenuhi banyak bintang. Ada jeda yang cukup lama di sana.

Lagi, Hanung hanya bisa menghela napas panjang. "Saya bercerai dengan Ratna waktu Kaila umur 3 tahun— usia yang terlalu kecil untuk merasakan efek samping dari perbuatan orang tuanya." Hanung berucap tenang.

"Bertahun-tahun saya berusaha untuk bertemu bahkan sampai Ibunya turun tangan. Hasil yang saya dapat selalu saja penolakan langsung dari Kaila. Saya sempat berpikir bahwa Kaila tidak menganggap saya bagian dari hidupnya. Tapi ternyata memang butuh waktu yang lama bagi anak itu untuk menerima fakta pahit dalam hidupnya," ujar Hanung. "Sehari sebelum dia memutuskan untuk melanjutkan sekolah di NYC, dia datang kesini, pamit sama saya, sekaligus minta maaf karena merasa bersikap terlalu kekanakan."

Di sebelahnya, Agam tentu terkejut mengetahui fakta terakhir. Fakta bahwa gadis tersebut akhirnya berhasil melawan ego yang selama ini menguasai dirinya.

"Saya juga sudah tahu kalau kamu bakal ke sini— Ratna sudah lebih dulu memberi tahu saya. Makanya saya minta dia ngasih alamat rumah yang lama. Mau lihat langsung seberapa serius kamu sama anak saya."

Lagi dan lagi, keterkejutan datang silih berganti. Dalam hati tertawa keras. Untung saja sayangnya pada Kaila itu overmax makanya ia sangat rela kesana kemari untuk mengantongi restu Ayahnya.

"Sekali lagi saya tanya, kamu serius sama anak saya?"

Agam mengangguk dengan senyuman tipis tercetak di sana. "Banget, Om."

Hanung turut mengangguk pelan. "Pesan saya cuma satu. Bangun suasana rumah yang lengkap dan tentunya terus utuh sampai akhir. Jangan pernah kamu kepikiran untuk merobohkan rumah itu di tengah jalan— jangan pernah." Hanung terlihat menghembuskan napas berat. "Cukup kesalahan di masa lampau saya yang menjadi trauma hebat pada mereka. Jangan pernah lagi terulang di kehidupan baru anak saya."

Malam itu, selain berhasil mengantongi restu dari Hanung. Pemuda itu juga semakin menyadari bahwa ia telah jatuh sejatuh-jatuhnya pada anak perempuan Hanung. Berkomitmen dan bersumpah pada diri sendiri untuk senantiasa membuat Kaila bahagia.

Kapanpun. Dan di manapun.

"Bubar aja yok, calonnya aja celingak celinguk kagak jelas begitu," hujat Rizal di sana.

Suara gelak tawa kembali terdengar. Membuat Agam melemparkan tatapan sengit ke Rizal. MC yang menyadari pun kembali bersuara. Menuntun agar acara berjalan sesuai alurnya.

Sedangkan Kaila yang terduduk bersebrangan dengan Agam hanya menunduk. Malu sendiri melihat sifat kekanakan mereka yang masih mengalir di usia matang ini.

"Setelah tadi diwakilkan oleh Ayahanda. Rasanya kurang lengkap kalau tidak mendengar secara langsung apa maksud dan tujuan kedatangannya Ananda di malam minggu ini. Ayo Mas Agam, mohon lanjutkan," tutur MC.

Pemuda dengan setelan batik yang senada dengan rok Kaila itu terseyum sebentar sebelum menerima kembali mikrofon dari MC.

"Sebelumnya mohon maaf kalau saya kelihatannya kayak anak begajulan."

Suasana kembali hening. Agam menghela napas pelan, mencoba mengumpulkan keberanian sambil membasahi bibirnya yang terasa kering. Matanya melirik sekilas ke arah Kaila yang kini duduk tenang dengan kebaya rose gold, memantulkan kilauan lampu chandelier di atas kepala mereka. Semua perhatian tertuju padanya, membuat ia berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil.

"Terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Ayah saya mungkin sudah menyampaikan maksud kedatangan kami malam ini secara formal tapi— izinkan saya menjelaskannya dengan kalimat saya sendiri."

Agam menyesuaikan posisi tubuhnya seraya mengatur napas yang terasa berat.

"Sudah 20 tahun saya mengenal Kaila. Pertama kali bertemu tahun 2006 di saat kami sama-sama masih berusia lima tahun. Kemudian tahun 2014 saya memberanikan diri menyatakan cinta di depan anak-anak kelas 8A— tetapi saat itu yang saya dapat justru penolakan tegas dari Kaila." Agam tersenyum kecil, mencoba menghangatkan suasana. "Kalau saat itu saya jadi Kaila, saya pun pasti akan menolak bocah 13 tahun yang dengan percaya dirinya menyatakan cinta cuma bermodal cokelat batangan."

Kilas kenangan itu membuat sebagian tamu terkekeh kecil, berbeda dengan Kaila yang hanya menundukkan kepala. Tangannya tampak meremas ujung kebaya, berusaha menyembunyikan debaran yang kian menggila.

Agam melanjutkan, kali ini dengan nada lebih serius. "Sejak awal perjalanan hidup saya, pilihan saya selalu jatuh kepada Kaila. Dalam setiap langkah yang saya tempuh, dalam setiap keputusan besar yang saya ambil— Kaila selalu menjadi alasan sekaligus tujuan hidup saya."

Pria itu menatap Kaila lekat-lekat seolah hanya ada mereka berdua di ruangan itu. "Saya tidak membutuhkan seribu alasan untuk mencintai Kaila. Yang saya tahu, jika Kaila adalah orangnya— maka itu sudah cukup untuk saya."

Agam berhenti sejenak menghela napas untuk menenangkan dirinya sebelum melanjutkan. "Maka dari itu— di malam yang istimewa ini, tertanggal 12 Desember 2026, bertepatan hari ulang tahun Kaila yang ke-25, saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah saya nanti sejak lama."

Agam menegakkan bahu seakan menyuntikkan keyakinan terakhir dalam dirinya. "Bismillahirrahmanirrahim, saya Agam Pradana meminta izin kepada Om Hanung dan Tante Ratna, serta keluarga besar Kaila untuk meminang Kaila Azalea Syahnala agar bersedia menjadi teman seumur hidup saya, di masa kini hingga masa tua saya nanti."

Di akhir kalimatnya suara Agam terdengar bergetar berserta pelupuk mata yang tampak basah. Sorak-sorai kecil terdengar dari tamu undangan sementara Kaila tak mampu menyembunyikan senyum tulus yang muncul di bibirnya.

MC lantas mengambil alih dengan memberikan kesempatan dari pihak perempuan untuk menjawab yang diwakilkan oleh Hanung. Tidak sampai di situ, ternyata MC juga turut meminta jawaban langsung dari Kaila.

"Bagaimana Mba Kaila, apakah bersedia dipinang Mas Agam?"

"Jangan mau, Kai!" seru Rizal.

"Udah paling bener ama bule Paris napa demennya ama yang kayak buaya kali deres gitu, sih?" timpal Ilham.

"Masih ada waktu buat angkat bendera putih wak~"

Mendengar seruan tersebut membuat air mata Agam naik kembali. Kini ia nyaris berubah jadi kuda lumping, berbeda dengan Kaila yang tersenyum manis saat menerima uluran mikrofon. Gadis tersebut berdehem pelan kemudian menatap penuh ke arah Agam.

"Ini nggak ada opsi?" tanya Kaila.

"ADA YA ADA! TENANG AJA! COKELAT SEPABRIK SIAP DIANTAR," seru Agam.

Kaila kian melebarkan senyum, bahkan ia tidak memiliki alasan untuk melunturkan senyuman di malam ini. Rongga dada terasa ringan. Kupu-kupu seakan berterbangan di antara mereka.

"Mohon maaf."

Deg.

Agam merasakan hantaman luar biasa pada dada kirinya. Bahkan wajahnya pias sesaat. Suasana di sekitar menegang. Mereka saling melempar tatapan bertanya satu sama lain. Rizal pun diam-diam ketar ketir karena mengira Kaila termakan ucapannya.

"Mohon maaf sebelumnya, saya boleh minum dulu nggak?" lanjut Kaila.

"Ya elahhhhh!"

Seruan riuh kembali terdengar, namun Kaila hanya tersenyum lebar dari tempatnya. Kedua matanya menatap Agam dengan sorot penuh pijar yang tak bisa disembunyikan. "Sebagaimana yang disampaikan oleh Agam tadi— kami memang sudah saling mengenal selama kurang lebih 20 tahun. Kelebihan dan kekurangan kita berdua bahkan sudah melekat di ingatan masing-masing."

Dari tempatnya Agam balas menatap Kaila, mematri pandangannya dengan senyuman paling manis yang ia punya.

"Dan dari sekian banyak pilihan yang Agam miliki di muka bumi ini," suaranya mulai terdengar bergetar. "Agam justru dengan gigih memilih untuk meyakinkan saya— yang punya begitu banyak kekurangan ini— bahwa hanya saya lah satu-satunya. Bahwa tidak akan pernah ada kata sedih selain kebahagiaan saat saya memilih cinta yang telah dia pendam selama belasan tahun ini."

Kaila berhenti sejenak, menarik napas, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut. "Saya telah melewati begitu banyak rute dalam hidup saya. Namun— perjalanan panjang itu selalu membawa saya kembali pada Agam." Kaila tersenyum matanya kini mulai basah. "Agam bukan sekadar tempat saya merasa aman, tetapi juga sebagai jawaban atas setiap keraguan saya. Bersama Agam, saya tahu apa artinya memiliki seseorang yang tidak hanya sekadar hadir melainkan juga mengisi semua ruang kosong yang ada dalam diri saya. Pada akhirnya saya tahu, bahwa hati saya juga selalu memilih Agam."

Gadis tersebut menatap kedua orang tuanya dengan penuh haru. "Bismillahirrahmanirrahim, atas restu dari Ayah dan Ibu, saya— Kaila Azalea Syahnala bersedia menjadi teman seumur hidup Agam Pradana putra dari Bapak Bambang Pradana dan Ibu Desi Maharani dalam segala situasi baik pada masa kini maupun masa tua kami nanti."

Riuh tepuk tangan dan sorakan kembali menggema. Tangis haru mulai jatuh dari Desi dan Ratna membuat suasana semakin penuh emosi. Anak-anak dari tim Agam yang sedang memotret momen manis itu pun ikut terselimuti keharuan, beberapa bahkan berusaha menyembunyikan air mata yang mengalir di sudut mata mereka.

"PAK, BU, INI KALO PANGGIL PENGHULU SEKARANG NGGAK YA?" celetuk Agam yang langsung diberi sorakan.

🦋

14 Februari 2027

Sejatinya pernikahan bukan hanya tentang menyatukan dua insan, melainkan bentuk persatuan dari dua keluarga besar untuk menyematkan ikatan silaturahmi dengan benang yang jelas.

Sungguh, tidak ada hari yang terasa berlalu begitu cepat jika tidak diisi oleh perasaan bahagia yang membuncah. Seseorang yang dulu menjadi alasan utama atas kemarahan dan jatuhnya air mata kini telah berubah menjadi sosok yang sangat dicintai— bahkan menjadi yang paling berharga di atas segalanya.

Babak akhir sekaligus awal untuk kehidupan selanjutnya, kini telah dimulai.

"Saya terima nikah dan kawinnya Kaila Azalea Syahnala binti Hanung Kuncoro dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

Dalam beberapa detik hanya bisikan-bisikan gamang yang terdengar. Agam memusatkan atensinya pada meja putih dengan para pria di sekelilingnya yang terlihat tegang menunggu pengesahan.

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"Sah."

Satu kata sederhana itu menghapus seluruh kesesakan yang singgah di hati Agam sejak kemarin malam. Suasana haru menyelimuti ruangan bersama doa mulai dilantunkan. Musik lembut mengalun mengiringi pintu gedung yang terbuka perlahan.

Semua mata tertuju pada Kaila.

Ia berjalan anggun diiringi oleh dua sahabatnya— Sekar dan Hana. Kebaya berwarna gading dengan sulaman bunga-bunga kecil menghiasi tubuh jenjangnya memberikan kesan sederhana namun memikat. Sekar dan Hana memegang masing-masing tangan Kaila dengan senyuman bangga, menyadari bahwa sahabat mereka sedang menjalani momen terindah dalam hidupnya.

Bola mata Agam mulai mengabur. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga membuat beberapa pria di sekelilingnya bersiul dan menggoda. Namun godaan itu sama sekali tidak mengusiknya. Agam hanya fokus pada satu hal— Kaila yang kini terlihat begitu sempurna.

Selalu.

Decakan pujian terdengar dari para tamu undangan mengiringi setiap langkah Kaila menuju pelaminan. Saat ia berhenti tepat di hadapan Agam, gadis itu tersenyum lembut sebelum mencium tangan sang suami. Suasana sakral kembali mengisi ruangan ketika Kaila diarahkan untuk menandatangani dokumen nikah.

Ketika tiba pada penyerahan mahar, Agam memanfaatkan momen itu untuk membisikkan sesuatu kepada Kaila. "Kamu hari ini cantiknya kelewatan."

Kaila menoleh sedikit menahan senyumnya. "Berarti biasanya biasa aja?"

Agam tertawa kecil lalu menggeleng. "Selalu cantik, sayang."

Setelah sesi akad selesai, suasana pun beralih ke resepsi. Musik lebih ceria menggema di dalam ruangan. Kaila kini berdiri di tengah panggung kecil dengan buket bunga di tangannya. Para tamu undangan— terutama para wanita muda— mulai mendekat menantikan momen yang telah mereka tunggu.

"Minggir guys, tolong biarin gue dapat bunga ini! Gue juga mau nikah!!" Sekar berseru lantang membuat semua orang tertawa.

"Gue juga mau kali! Bukan lo doang!" celetuk Rizal.

Kaila tertawa lalu memutar tubuhnya perlahan bersama Agam membelakangi tamu-tamu yang sudah bersiap menangkap.

"Satu... dua... tiga!"

Kaila melempar buket bunga itu ke udara. Memicu teriakan riuh dan tawa. Seketika itu juga bunga mendarat di tangan seorang pemuda yang terlihat sangat terkejut— Ilham.

"Woi apa-apaan? Gue belum mau nikah!" Ilham memegang buket dengan ekspresi kaget, lalu ia melempar buket bunga ke sembarang arah. Kini bunga tersebut langsung mendarat di tangan Hana. Gadis itu melebarkan matanya. "Ih gue juga belum mau nikah!"

"Nikah aja lo berdua nikah!! Nikah juga enak!" sahut Rizal.

Tawa dan riuh tepuk tangan memenuhi ruangan. Sementara Kaila dan Agam saling bertukar pandang, tersenyum dalam kebahagiaan yang kini menjadi milik mereka.

Di tengah suasana meriah itu Agam menggenggam tangan Kaila erat-erat. Pria ini tahu, hari ini hanyalah pembuka dari perjalanan panjang yang akan mereka berdua jalani bersama. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Agam merasa segala yang ada di dirinya telah menjadi sempurna.

Dengan senyuman yang senantiasa merekah. Potret manis pemandangan ini akan terus terkenang di hati masing-masing. Orang tua Kaila yang akhirnya duduk berdampingan. Solidaritas kental dari para sahabat yang masih setia berkobar hingga sekarang, dan— kekasih hati dengan perasaan bertahun-tahun itu, semua terekam jelas di hati mereka berdua.

Tanpa sengaja netra Kaila kembali menabrak netra milik Agam. Perlahan senyuman mereka merekah hingga menyentuh masing-masing mata. Desiran-desiran itu tedengar lantang, membawa tubuh untuk terbang mengawang di atas kebahagiaan.

Baginya, tidak ada perandaian yang lebih indah untuk menggambarkan ini semua selain dari The Apple of My Eye.

Tamat

BRB MAU NANGISSS DULU PISAH SAMA ANAK-ANAKKU YANG SUPER DUPER KOCAK JAMET SEMLEHOYYY🥹🥹💖

Warga RT 05

°

°

°

Berawal dari iseng. Plis jangan sampe asing🤝🏻

Cerita abal-abal ini ternyata mampu bikin eike ikutan dag dig dug serrr🥹 Butuh berhari-hari buat ngerevisi doang di tiap part.. Buat make sure feelnya nyampe ke kalian (walaupun eike sadar gak semuanya kena di hati)🥹❤️

But so far... Diem-diem bacain komen dan review kalian tu bikin eike ngerasa kalau ternyata 5 sejoli ini gak cuma hidup di kepala eike~ terharuuuu🥹 (yang masih menerka-nerka, mereka berlima itu kelahiran 2001 ye)

Sorry jika perjalanan mereka tidak eike kemas lebih detail dan lebih panjang.. Tapi eikeee berharap kalau kisah mereka senantiasa akan membekas di hati kalian🔮🪄

Disimpan ya, kalau kangen ya baca lagi aja💋 Warga RT 05 akan terus abadi di wattpad!

Sejauh ini, adegan dan part mana yang paling kalian suka? Dan kenapa?🧐