Chapter 35: 34| The Agreement

The Apple of My Eye [COMPLETE]Words: 19314

Kita tidak pernah tau hal apa yang akan terjadi pada detik selanjutnya. Itu sebabnya kita diwajibkan untuk mensyukuri setiap detik yang belalu.

Sembilan hari sudah terlewati. Tidak ada tanda-tanda kemajuan dari Agam. Progres yang ditunjukkan masih sama— hanya raut tenang dari pria yang terbaring di atas kasur rumah sakit.

Para dokter masih berusaha menanti kemajuan dari Agam. Maka Kaila pun juga harus melakukan hal yang serupa. Gadis itu tidak pernah absen mengunjungi dengan membawa segudang topik baru untuk diceritakannya kepada laki-laki tersebut.

"Bangun yuk, Gam. Emang nggak sakit apa kamu napas pakai alat gituan?"

"Gam, tau nggak hari ini aku habis ketemu siapa? Angga Yunanda! Haha ya ampun sumpah, ya, aku ketemu dia di launching kemeja nuansa etnis punya temenku. Si Angga beneran ganteng banget! Tapi tetep masih gantengan kamu, ya."

"Kenapa ya, Gam, setiap habis dateng acara fashion week energiku kayak cepet banget dikuras?"

"Kamu tau nggak? Dulu waktu kamu nembak aku di depan anak-anak terus aku tolak itu— sebenernya besokannya itu aku kepikiran tau, Gam. Takut kamu malah jauhin aku, makanya aku iseng godain kamu dengan senggol-senggol kamu. Sebelum kamu berpikiran tentang cara tetap terkoneksi di malam kamu nembak aku— aku lebih dulu ngelakuinnya. Haha, nggak tau 'kan kamu? Makanya ayo dong bangun, banyak banget nih rahasia yang mau aku spill."

Masih banyak lagi topik-topik yang selalu gadis itu bawa saat berkunjung. Satu yang harus pria itu tau— tekad untuk membuat gadisnya mudah berkomunikasi, menceritakan hal sesederhana apapun padanya— telah berhasil ia tuai.

Saat ini semua orang sudah kembali bekerja, melakukan kegiatan rutinitas sebagaimana biasanya. Begitu juga dengan Kaila, gadis itu tengah menyelesaikan katalog di studio Agam yang sempat tertunda beberapa waktu.

Sebetulnya Kaila sudah meminta bantuan Sebastian untuk meng-handle kegiatan butik untuk sementara waktu namun karena hari ini kegiatan foto katalog akan berakhir, Kaila merasa harus turut ikut campur.

Kerja dari anak tim Agam memang patut diacungkan dua jempol. Bagaimana tidak, untuk mendapati hasil foto yang diinginkan saja mereka tidak butuh waktu lama.

Saat sedang mengamati foto, ponselnya berdering. Panggilan dari Desi membuat debaran itu datang tanpa permisi. Suara Desi yang terdengar heboh di seberang sana membuat Kaila berlari keluar, menghiraukan seruan panggilan dari yang lain. Bahkan meninggalkan seluruh barangnya kecuali kunci mobil yang kini ia genggam erat.

Dengan napas memburu, mobil yang ia bawa membelah jalanan ibukota dengan cepat. Saat tiba di rumah sakit diiringi aroma antiseptik khas yang menyengat, Kaila berlari cepat menuju kamar Agam. Langkah itu perlahan tampak memelan dan terhenti tepat di balik pintu kamar berwarna putih. Kaila mendorong pelan pintu tersebut.

Terdapat banyak orang di sana namun netranya hanya membidik sosok yang selama ini ia rindukan. Gadis itu menggigit pipi bagian dalam, menahan tangisnya agar tidak pecah sambil berjalan menuju pria yang kini menatapnya dengan tatapan sendu.

Dalam hati tidak henti merapalkan kalimat penuh syukur atas keajaiban tanpa batas yang lagi-lagi menghampirinya.

Agamnya sadar..

"Kamu pasti ngebut, ya? Tante tadi belum selesai ngomong tapi telponnya udah kamu matiin," kata Desi.

"Sama aja mereka tuh, dulu waktu Kaila diserempet mobil juga kayaknya si Agam ngos-ngosan banget," sahut Ratna.

"Udah-udah, jangan langsung diulti gitu dong ibu-ibu sekalian. Kasian itu mereka malah nggak jadi sedih-sedihan," ujar Bambang.

Untung saja mereka pandai membaca situasi, saat mendengar penuturan Bambang barusan, mereka memilih untuk meninggalkan Kaila dan Agam berdua.

Dengan tatapan nanar, Kaila tergerak untuk memeluk Agam yang langsung dibalas oleh pria tersebut. "Aku kangen banget sama kamu," ujar Kaila. "Pokoknya kangen banget banget banget."

Mata Agam mengerjap pelan, berusaha mencermati kata demi kata dari Kaila. Lantas ia mendorong pelan gadis itu untuk ditatapnya dengan lekat, terlihat raut khawatir di sana. Agam terkekeh kemudian kembali menarik Kaila untuk ia dekap erat.

"Nikah sekarang, yuk?"

Kaila masih waras untuk tidak memukul Agam sekarang. Gadis itu melerai pelukannya sambil mengusap air mata. "Ish! Kamu tu di situasi kayak gini aja masih bisa bercanda! Coba deh ilangin sebentar tengilnya, Gam. Kamu nggak tau apa kalau semua orang khawatir?" gerutunya sambil menatap Agam lekat.

"Dengerin aku ngomong nggak, sih?"

Sudut bibir Agam tertarik ke atas. "Iya sayang, ini aku lagi dengerin."

Hendak membalas ucapan Agam. Pintu kamar tiba-tiba terbuka menampakkan sosok gadis cantik yang kini datang membawa satu buket bunga.

Jika dilihat dari luar, Kaila tampak seperti tidak peduli. Namun dalam hati justru memaki tanpa henti. Lagian siapa yang kuat satu ruangan dengan perempuan penuh percaya diri ini?

Kaila tanpa sadar menghela napas panjang lantas menghiraukan kehadiran Diandra. Mau dicegah dengan cara apapun, faktanya Diandra akan terus datang di waktu senggangnya.

"Ternyata kamu beneran udah siuman, Gam," heboh Diandra. "Apa karena Bunga Krisan ini? Kata yang jual, bunga ini bawa keberuntungan. Dan kayaknya memang beneran bawa keberuntungan, ya," lanjutnya sambil memberikan buket bunga tersebut.

Sirik lo! Percaya gituan.

"Haha, makasih ya, Ra," Agam menerima bunga dari Diandra.

Gadis itu terlihat sumringah, sangking kelewat antusias mendapati respon positif dari Agam. Tanpa sengaja bahu Diandra menyenggol bahu Kaila membuat gadis itu sontak melirik ke kiri, menatap tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi.

Tentu kejadian ini tidak luput dari pandangan Agam. Diam-diam pria itu menahan tawanya saat melihat raut jengkel milik Kaila. Sepertinya akan seru jika ia bermain sedikit di sini. "Foto-foto lo lancar?" tanya Agam pada Diandra.

"Lancar, tapi rasanya beda waktu ada kamu sama nggak ada kamu."

Kaila melebarkan matanya saat mendengar Diandra berbicara pada kekasihnya, apa tadi— aku kamu?

"Oh ya? Bedanya apa?" pancing Agam.

"Beda bangetlah. Lagian kamu juga ngeyel, nggak dengerin omongan aku waktu itu. Kalau kamu yang handle fotoku dari awal. Enggak mungkin ada kejadian kayak sekarang," ucap Diandra sambil mengelus lengan Agam.

"Tapi 'kan musibah nggak ada yang tau."

"Iya, sih, ya udah lah mau gimanapun aku tetep ngerasa bersyukur karena kamu akhirnya siuman."

Entah disadari atau tidak, sekarang ada harimau yang siap menerkam mangsa saat ini juga. Kuku-kuku tangannya sudah memutih akibat menggenggam pembatas kasur terlalu kuat.

Dari pada melihat sesuatu yang meyesakkan. Kaila memilih untuk meninggalkan mereka berdua di sana.

"Eh kamu mau kemana?" cegah Agam saat melihat Kaila yang hendak pergi.

"Keluar."

Agam merapatkan bibir, menahan agar sudut bibirnya tidak tertarik ke atas. "Tunggu sebentar, kamu kok main pergi aja, sih? Kamu 'kan belum kenalan sama Diandra, sini kenalan dulu."

Pandangan gadis itu terangkat lalu membelalak. Dari banyaknya tindakan nyeleneh Agam, Kaila tidak pernah menyangka kalau laki-laki ini bisa bertindak sejauh ini.

Maksudnya apa coba?

"Diandra kenalin ini Kaila," suara Agam kembali terdengar. "Calon istri gue."

Ya Tuhan ternyata gebrakannya masih terus berlanjut. Tidak merasa bersalah, pria tersebut hanya mengendikkan bahu acuh saat tatapan milik Kaila terarah padanya.

"Oh— ya? Calon istri?" Diandra tampak terkejut. Kemudian melirik Kaila sekilas. "Ngomong-ngomong, apa kita pernah ketemu, ya? Muka lo soalnya kayak nggak asing di mata gue," tanyanya pada Kaila.

Kaila tersenyum penuh arti seolah menemukan momentum tepat untuk menyudutkan Diandra dengan membeberkan fakta-fakta yang mungkin saja akan membuat wanita itu malu di tempat. Tapi ternyata langkah yang Kaila pilih justru jauh dari apa yang ia pikirkan.

"Nggak tau, pasaran kali muka gue. Gue juga gampang lupaan, kecuali sama orang-orang yang pembawaannya positive vibes."

Tanpa bisa dicegah, Agam terbahak mendengar ucapan menohok dari sang pujaan hati. Sekarang ia malah mengaduh kesakitan sendiri akibat terlalu keras tertawa.

Beruntung Kaila sigap membantu pria itu untuk bersandar dengan benar kemudian embisikkan sesuatu pada Agam. "Enggak usah coba-coba nyalain kompor kalo nggak mau kompornya meledak."

🦋

Suara berisik dari Sebastian membuat kepala Kaila berdenyut. Setelah dokter memeriksa keadaan Agam beberapa saat yang lalu, pria ini datang bersama Sekar membawa segudang informasi mengenai Kaila yang siap dibeberkan tiap saat.

"Yey tau? Eike dimarahin!" ujarnya hiperbola. "Padahal niat eike 'kan mau bantuin~"

Mata Agam melirik Kaila yang kini tampak menahan raut kesal. "Lo nggak usah ngelebih-lebihin gitu, deh! Baru gitu doang udah dibilang marah," bela Kaila.

"Satu butik jadi saksi ya wak~ ada CCTV juga, tuh. Pasti ngerekam insiden wak jatuh di tangga~"

Kaila mengatupkan bibir, menunjukan raut malas. Dalam hati menyumpahi lambe Sebastian yang sangat lemes persis mesin motor yang baru diganti oli. Kini ia beralih menatap Sekar, seakan tengah meminta bantuan padanya.

"Gue nggak tau apa-apa," kata Sekar tanpa suara.

"Jadi dia beneran khawatir nih, Bas?" goda Agam.

"Yes! Dua juta rupiah! Baru kali ini eike liat dese kayak mumi. Nih eike punya bukti fotonya!"

Kaila memutar bola mata malas. Gadis itu memilih untuk memainkan ponsel tanpa melirik ke arah Agam, ia yakin pria itu pasti sedang meledeknya. Terbukti dari suara tawa dari Sekar dan Agam yang terdengar lantang, membuat Kaila menghela napas di tempatnya.

"Aduh aduh sakit," eluh Agam sambil memegang area perut.

"Lo ngapain pake ikut ketawa, sih?" omel Sekar.

"Abisnya lucu banget," jujur Agam. "Kai, sakit banget nih, Kai," adunya.

Kaila diam tidak membalas. Sudah hapal dengan tabiat pria tersebut. Gadis itu masih tampak fokus bermain ponsel, brusaha tidak peduli dengan sekitar. Lagi pula di sana ada Sebastian dan Sekar, jadi biarkan saja mereka meroastingnya sampai puas.

"Ngomong-ngomong, eike 'kan beberapa kali ke studio yey, sering liat Diandra. Dese model yang lagi terikat kontrak, ya? Kasian tau anak tim yey," cetus Sebastian.

"Lo tau Diandra?" tanya Agam.

Sebastian mengangguk polos. "Sebenernya sih, eike nggak tau. Tapi jadi tau gara-gara eike caca marica sejak malam itu! Malam di mana eike dan wak nggak sengaja liat yey keluar bopong-bopong dese ke dalam taksi."

Raut kaget jelas tercetak di wajah Agam. Pria itu melirik ke arah Kaila yang tampak acuh dengan airpods di kedua telinga lalu kembali melihat Sebastian.

"Emang dia siapa?" kepo Sekar.

Sebastian membenarkan duduknya di sebelah Agam. Mengatur intonasi nadanya. "Setelah eike caca marica gedebak gedebuk. Si Diandra itu enong-enong say! Simpenannya para gadun! Cantik sih, kayak ibu peri, but the character is zero! Bagusan juga karakter Medusa! Tiap eike ke studio pasti ada aja anak tim yey yang dimarahin karena nggak mau diatur-atur! Bossy bingbing anaknya."

Sekar tampak mengotak atik ponsel kemudian menunjukan pada Sebastian dan Agam. "Yang ini orangnya?"

"Bingo! Dua juta rupiah! Lagian nenek lampir begono nyaris aja bikin wak kebakar api cemburu!"

Kedua manusia itu tampak heboh sendiri sedangkan Agam diam-diam kembali mengamati Kaila dari tempatnya. Mengerutkan kening, berusaha mencocokkan teka-teki yang selama ini ia pendam sendiri dengan informasi singkat dari Sebastian.

🦋

Lima hari setelah kejadian membongkar aib malam itu. Hari ini Agam diizinkan untuk pulang ke rumah. Namun sebelum itu, ia meminta Kaila untuk membawanya berkeliling rumah sakit.

"Kamu cemburu sama Diandra?" tanya Agam dari kursi rodanya.

Gadis itu diam sebelum akhirnya berdehem pelan, membuat Agam mengulas senyuman tipis di sana. "Yang Laura juga gitu?"

Kaila memilih berdehem sambil mendorong pelan kursi roda. Ditemani langit jingga keemasan, mereka pun tiba di taman rumah sakit yang terlihat cukup ramai.

"Kenapa kamu nggak ngomong dari awal? Padahal aku sama mereka 'kan juga nggak ada apa-apa. Laura itu udah punya pacar, sayang. Aku sama dia 'kan juga beda Tuhan. Emang aku kamu apa, yang berani main trabas gitu?" sindir Agam.

"Loh, kok jadi aku yang kena?"

Pria itu tersenyum. "Tapi bener, 'kan?"

Kaila hanya diam sambil mengunci roda agar tidak bergerak, kemudian mengambil duduk di kursi taman tepat di sebelah Agam. "Lagian cuma kamu doang yang ngerasa biasa aja. Tapi enggak dengan Diandra. Dia tu suka sama kamu tapi kamu nggak tau, 'kan? Jadi incaran model-model cantik aja kamu bahkan nggak sadar."

Mata Agam tergerak untuk mengamati Kaila dari samping. "Siapa yang kamu bilang nggak sadar?"

Mendengarnya membuat Kaila menaikkan sebelah alis. Duduk dengan pandangan yang meminta penjelasan lebih atas ucapan laki-laki di sebelahnya. Cukup lama hening menyelimuti mereka. Sampai suara berat milik Agam kembali terdengar.

"Aku sadar, tapi emang mereka nggak bisa merubah apa yang udah ada di hati. Ya makanya aku biasa aja ke mereka," timpalnya. "Cuma kamu, sayang, selamanya cuma kamu."

Kaila bergumam pelan. "Apaan, sih? Nggak mempan."

"Serem banget ternyata kalo mode cemburu."

"Makanya enggak usah mancing-mancing kayak kemarin. Kamu 'kan tau, nggak mudah buat aku ngomong lepas kayak sekarang, Gam."

"Nah, makanya mulai sekarang kamu kalau ada apa-apa jangan cuma ngebatin dan nangis aja. Aku paham sayang, nangis bikin lega. Tapi 'kan itu cuma sesaat, ya 'kan? Apa dugaan-dugaan yang kamu simpen itu, juga bakal ikutan hilang kalau kamu nangis? Kan enggak, dugaan itu nggak akan terpecahkan kalau kamu nggak ngomong sama aku," jelas Agam.

"Tapi, tanpa ngomong juga harusnya kamu udah tau kalo aku itu cemburu. Logika aja, cewek mana coba yang nggak panas dan insecure liat cowoknya jadi incaran banyak orang? Apa lagi ceweknya gatel sampe megang-megang kamu kayak kemarin," ujarnya pelan sambil membuang pandangan ke arah hamparan rumput hijau.

Agam tersenyum hangat. "Iya-iya janji nggak akan mancing-mancing perkara lagi, tapi aku juga boleh 'kan minta satu hal ke kamu?"

"Apa?" tanya Kaila yang kini menatapnya.

"Mulai sekarang, apapun yang kamu rasain, dari hal yang kamu suka maupun nggak suka, marah atau apapun itu— kasih tau aku, ya? Aku selalu nunggu itu keluar dari mulut kamu, Kai."

Kaila mengerjap pelan. Sejujurnya permintaan ini sudah sering sekali Kaila lakukan— saat Agam belum sadarkan diri kala itu. Tetapi jauh dalam lubuk hatinya, gadis ini merasa bahagia. Dan sekarang ia tinggal mendengarkan secara langsung dari bibir pria ini, mengenai alasan atas permintaan tersebut.

"Bukannya nanti malah terkesan cerewet ya kalau aku kebanyakan ngomong? Kamu 'kan juga punya banyak tanggungan lain. Aku nggak mau ngebebanin dengan nambah-nambahin pikiran kamu, Gam."

"Enggak sayang, justru kalau kamu terbuka ke aku dan aku terbuka ke kamu, ke depannya kita bisa meminimalisir kesalahpahaman antara satu sama lain. Kita juga bisa saling paham dengan kebutuhan dan keinginan kita baiknya nanti harus seperti apa. Jadi, kamu jangan berpikir kalau hal ini ngebebani aku, ya? Karena sama sekali nggak bener."

Gadis tersebut lantas tidak kuasa untuk menarik kedua sudut bibirnya. "Makasih ya, Gam, you've changed my life in amazing ways. Thank u for carring about me— bahkan ke hal-hal sepele yang sering aku abaiin."

Beberapa anak yang bermain di taman rumah sakit terlihat berlarian kesana kemari. Pria di sebelahnya kini hanya terdiam sambil menatapnya lekat. Pada akhirnya, membuat Kaila pun turut mengamati tiap jengkal wajah pria tersebut.

Hanya dengan memandang pahatan atas karya Tuhan yang luar biasa ini, ternyata mampu menghantarkan gelenyar aneh pada tubuh Kaila. Kemudian memilih untuk memutus kontak mata, membuang pandangan ke depan. Gadis itu merasakan pergerakan dari kursi roda milik Agam.

Tiba-tiba tangannya terasa digenggam oleh Agam, membuat Kaila mengangkat pandangan. Mematri aura serius dari ptia yang sudah pindah ke kursi taman yang kini ia duduki.

"Kaila," panggil Agam.

Panggilan itu terdengar lagi, membuat detakan di balik dada Kaila berdetak seratus kali lebih cepat dari biasanya. Menahan napas seperkian detik, untung saja Kaila paling juara mengatur ekspresi wajah. Dengan mata yang terkunci satu sama lain dan tubuh yang tidak bergeming sama sekali, gadis itu diam dengan mengeluarkan raut bertanya kepada Agam.

"Mau nggak nikah sama aku?"

Suara rendah milik pria itu mengalun mulus di pendengaran Kaila. Menghadirkan sensasi menggelitik di perutnya. Apalagi raut jenaka itu berubah menjadi raut penuh keseriusan. Kaila melebarkan matanya dengan mulut yang terbuka kaget.

"Aku tahu, Kaila. Bukan hal mudah untuk membangun sebuah rumah tangga. But I promise to you— aku bakal wujudin kehidupan yang bahagia itu."

Di tempatnya, Kaila kesulitan untuk bereaksi. Bibir merah ranum itu sedikit gelagapan. Tanpa sadar gadis itu menahan napas saat tubuh Agam tergerak maju perlahan, dengan tangan yang menarik Kaila untuk lebih mendekat.

"Aku mau nikah sama kamu. Aku mau kamu dan aku hidup bersama sampai tua, sampai rambut kita yang hitam ini memutih, sampai badan kita yang kokoh ini lambat laun membungkuk karena dimakan waktu. Aku mau hidup sama kamu selamanya, Kaila. Ngejagain kamu setiap hari dengan cara-cara yang direstui alam semesta."

Desiran hangat seolah mengalir deras di dalam diri mereka. Kaila dibuat mematung di tempatnya. Matanya kini juga telah menampung genangan yang datangnya tidak diundang.

Netra hitam Agam menyorot tepat di manik mata Kaila, dengan kedua sudut bibir tertarik sempurna ke atas pria tersebut membawa jemari Kaila untuk ia kecup sesaat. "Kalau nggak sama kamu, aku nggak akan pernah kepikiran buat membangun rumah itu sampai kapanpun, Kai. So— will you marry me?"

Tenang Kaila..

Gadis tersebut tersenyum, kemudian menatap Agam lekat. "Ada satu syarat," tiba-tiba lontaran kalimat tersebut membuat atmosfer di sekitar mereka mendadak menegang.

"Apa?"

Tampak Kaila menarik napas dalam dan membuangnya pelan, memandang penuh arti pria di depannya. "Kamu harus bawa restu dari Ayah kandungku."

Singkat padat jelas namun penuh makna di baliknya. Ada jeda di antara mereka. Masih dengan tatapan yang belum teralihkan, Agam kembali menaikkan sudut bibir ke atas. Menarik Kaila untuk masuk ke dalam dekapannya. Agam mengangguk pelan lalu mengecup puncak kepala Kaila singkat.

"Thank you for being the love of my life, Kai."

Kaila memejamkan mata bersamaan dengan lepasnya bendungan air yang tertahan tadi. Ia menangis haru di dalam pelukan Agam. "Thank you for being the love of my life too, Agam," ucap Kaila.

"I love you till the end."

Langit yang mulai menggelap di bagian Timur. Sapuan angin yang mulai terasa dingin. Serta dedaunan dari pohon yang sedari awal memayungi mereka.

Saling menyematkan harapan baik antara satu sama lain. Melepaskan keresahan yang selama ini tertahan. Membiarkan rona-rona kebahagiaan meyeruak di sekitar mereka.

Saat ini kaki mereka sudah menapak pada halaman kebahagiaan. Bagian yang bahkan tidak pernah terlintas akan mereka rasakan. Setelah melewati pasang surut dari kehidupan anak muda. Tarik ulur atas penangkalan. Seberapa banyak stasiun yang dijadikan tempat pemberhentian. Kereta itu tetap akan membawa kepada tujuan akhir dari perjalanan sesuai dengan apa yang tertera di sana.

____________________

Koenjti dari segala koentji:

Satu kata buat mereka👂🏻👄 :

SPILL TIPIS-TIPIS~ SISA 2 PART LAGI (MAU DOUBLE UP BIAR GAK BIKIN PENASARAN)

TAPI SEBELUM ITU, EIKE MAU BIKIN CHALLENGE 100 VOTE DAN 50 KOMEN DI PART INI HIYAAAAA 💘😗