Chapter 9: Part 08

Too Kind • Markhyuck ✓Words: 7399

"SELAMAT, Mark!"

"Congratulations, Markiepoo."

"Selamat, Oppa."

"Selamat atas kemenanganmu!"

"Kau hebat, Mark!"

"Selamat—"

Mark menutup telinganya.

Kedua tungkai jenjang milik pemuda berdarah Kanada itu tengah membawanya entah menuju kemana. Hanya mengarah tidak pasti. Bergerak sangat cepat mengitari beberapa area di dalam hotel dan sempat mengabaikan beberapa ucapan selamat dari teman-teman seperjuangannya yang telah ia kenal selama bertahun-tahun mengikuti olimpiade nasional.

Bertahun-tahun.

Rasanya, ia masih belum bisa menerima jika impiannya selama ini baru saja terwujudkan.

Menjadi juara pertama.

Siapa pula yang tidak menginginkannya? Semua orang pasti mau—termasuk Mark yang telah mendambakannya sejak tahun pertama ia mengikuti olimpiade.

Bertahun-tahun pemuda itu merasakan betapa panasnya tamparan seorang Ayah yang selama ini memandangnya dengan perasaan kecewa. Bertahun-tahun ia merasakan betapa kerasnya sindiran orang di sekitarnya mengenai posisinya yang selalu menempati juara dua. Bertahun-tahun pula ia mengurung diri di dalam kamar akibat merasa frustrasi dengan kekalahan yang selalu ia alami setiap kali turut ambil bagian sebagai seorang peserta di dalam sebuah olimpiade.

Tetapi, tahun ini?

Pada akhirnya, Mark Lee menggeser posisinya sebagai juara dua dan menempati podium nomor satu.

Terbebas dari tamparan sang Ayah. Terbebas dari sindiran khalayak terhadapnya. Terbebas dari gelapnya kamar yang justru memberi kesan depresif padanya.

Semuanya adalah hal yang ia inginkan selama ini.

"Sialan!"

Mark terus berlari tanpa henti walau beberapa orang mencoba untuk menghentikannya. Peluh terus bercucuran di wajahnya dan kakinya perlahan mulai terasa sakit—seolah-olah seseorang tengah menariknya dari dalam suatu liang.

Beberapa putaran telah ia lalui di dalam hotel yang cukup megah ini, tetapi rasa lelah belum menyerangnya.

Mark tetap berlari, berlari, dan berlari.

Seolah pemuda itu tengah mencari seseorang yang mungkin tidak akan pernah ia temui lagi selanjutnya.

"—LEE HAECHAN!"

Jeritnya dari kejauhan, memanggil nama yang sama berulang kali dalam sekali tarikan nafas.

"LEE HAECHAN! LEE HAECHAN!" ia terus memanggil sang pemilik nama dengan peluh yang bercucuran.

"LEE HAECHAN! JAWAB AKU!"

Benar kata orang—penyesalan datang di saat-saat terakhir yang tidak tepat.

Walau Mark memiliki keinginan yang tinggi untuk memenangkan olimpiade ini, Haechan memiliki keinginan yang jauh lebih besar. Walau Mark membodohinya dan memakinya setiap saat, Haechan tetap duduk di hadapannya dengan senyumnya yang mengembang di atas wajahnya yang lugu. Walau Mark selalu membohongi dirinya sendiri, tetapi ia tahu jika Haechan memang sangat cerdas dan dia—meskipun sulit untuk dikatakan, tetapi dia mengakuinya di dalam hati.

Anak itu bagaikan malaikat—terlalu baik bagi seseorang seperti Mark Lee.

Haechan memberikan waktunya hanya untuk berbincang dengan Mark yang bahkan tidak ingin bertatap muka dengannya. Pemuda itu memberikan pandangan baru bagi Mark yang terlalu sering menganggap dirinya sendiri sebagai satu-satunya pemenang dengan penuh percaya diri. Anak yang lebih muda itu juga mampu memberikan Mark sebuah pelajaran baru.

Bahkan—

"LEE HAECHAN!"

—pemuda itu memberikan kemenangan pertamanya kepada Mark yang tidak patut merebut hal tersebut darinya dengan segala perlakuan yang ia berikan kepadanya selama ini.

***

TAEYONG memandangnya sembari menghela nafas.

Keresahan dapat ia rasakan ketika manik cokelat muda itu tengah menatapnya lamat-lamat. Entahlah—perpaduan antara rasa cemas, bingung, dan kecewa.

"Kau," pria itu membuka mulutnya. "Melakukan hal itu bukan?"

Haechan yang ditatap seperti itu hanya bisa tertawa seolah ia tidak menganggap adanya beban sedikit pun dengan sesuatu yang ia lakukan di saat-saat terakhir sesi dua berlangsung.

Menyembunyikan hal seperti itu dari Taeyong merupakan sesuatu yang mustahil sebab pria tersebut akan segera mengetahuinya cepat atau lambat.

"Melakukan hal apa?"

Baiklah, Haechan memilih untuk bermain polos.

Keputusan itu membuat Taeyong mendesah di hadapannya. Pria berusia kepala tiga itu menatap pemuda tersebut dengan lembut, kemudian tersenyum kikuk.

"Lagi-lagi, kau mengalah bukan?"

Haechan tidak menjawabnya secara langsung karena ia tahu jika Taeyong merasa kecewa padanya dan ia tidak mau membuatnya merasa lebih kecewa dari ini.

"Lagi-lagi," pria itu kembali berkata. "Kau mengalah di saat-saat terakhir. Persis sebelum kemenangan itu diberikan kepadamu. Lagi-lagi kau melakukannya."

Taeyong benar.

Pria itu menjabat sebagai seorang guru fisika. Sudah beberapa kali sang kepala sekolah menjelaskannya mengenai riwayat prestasi Haechan yang tahun depan akan menjadi murid kelas sebelas itu. Sudah beberapa kali pula ia merasa terkejut jika eksistensi seorang murid kelas sepuluh yang lugu dan berhati murni ini memang benar-benar ada.

Ia pun menghela nafas.

"Haechan-ssi," panggilnya. "Kau mengikuti berbagai jenis olimpiade setiap tahunnya. Sejak sekolah dasar hingga tahun ini. Terkadang kau memenangkannya, terkadang tidak."

Haechan mengangguk, membenarkan setiap kata yang keluar dari mulut Taeyong.

"Ada kalanya kau ingin menang, ada kalanya kau mencoba untuk mengalah kepada peserta lain."

Pemuda itu mengangguk lagi.

"Olimpiade matematika tingkat nasional tiga tahun yang lalu, kau mengalah kepada seorang gadis yang begitu gugup. Olimpiade matematika tingkat provinsi tiga tahun yang lalu dari penyelenggara yang berbeda, kau mengalah kepada seorang peserta yang menangis akibat tekanan dari lingkungan di sekitarnya. Olimpiade kimia dua tahun yang lalu, kau memberikan kemenanganmu kepada seorang pemuda yang bercerita kepadamu jika ia baru saja mengalami hal yang buruk saat kalian menunggu giliran—" Taeyong memberi jeda. "—kau melakukan semuanya, bahkan lebih dari itu."

Haechan tersenyum kikuk. "Aku," katanya. "Merasa jika mereka lebih pantas untuk mendapatkan pandangan sebagai seorang juara satu."

"Dan tahun ini," Taeyong bertanya. "Kau memberikan kemenanganmu kepada seseorang yang—ugh."

"Ada apa?" Haechan justru tampak seperti tengah merajuk bagai anak kecil yang meminta untuk dibelikan permen karet kepada ibunya.

"Mark-hyung pantas 'kok mendapat gelar sebagai seorang juara pertama."

Taeyong dapat melihat jika sebuah senyuman tulus terpatri di wajah bak malaikat milik Haechan. Pemuda itu benar-benar mengatakannya.

Berkata jika seseorang yang telah membodohi dan menganggapnya remeh selama ini memang pantas mendapatkan gelar yang seharusnya ia miliki.

"Haechan-ssi."

"Ya?"

Taeyong tertawa. "Kau sebegitu menyukai pemuda itu, ya, sampai-sampai memberikan kemenanganmu padanya?"

Haechan tersenyum lebar sehingga deretan gigi putihnya yang berjajar rapi dapat terlihat begitu saja. "Aku memang menyukainya—" ia tertawa. "—sebagai seorang teman dan pesaing yang handal."

Pria di hadapannya itu segera memutar kedua bola matanya. Terkadang, ia merasa tidak tahu harus berbuat apa ketika berhadapan dengan keluguan Haechan.

Kalau boleh jujur, Taeyong berharap jika seseorang mampu melunturkan keluguan Haechan dan membawanua menuju dunia yang sebenarnya—dunia yang tidak seindah apa yang pandangan lugu Haechan bayangkan.

Hingga sampai pada saat tersebut, Taeyong akan tetap menganggap Haechan sebagai seseorang yang lugu.

"Haechan-ssi," panggilnya sembari tersenyum simpul. "Kau tahu?"

"Tahu apa?"

"Kau ini terlalu baik baginya." []

***

© Rayevanth, 2019