Chapter 10: Part 09

Too Kind • Markhyuck ✓Words: 8360

"HYUNG sudah berkemas?"

Chenle bertanya dari tempat ia berbaring santai dengan kaki yang diangkat mendekati pangkal tempat tidur. Seperti biasa, terdapat Renjun yang sibuk memuat beberapa barang ke kopernya di samping tempat tidur milik pemuda berdarah Tiongkok tersebut. Sementara itu, Yangyang kini tengah menggunakan produk kecantikan di depan cermin pribadinya.

Dan Haechan?

Pemuda itu duduk termenung di bangku belajarnya dengan dagu bertopang. Ponsel miliknya ia biarkan begitu saja di samping ranjang, sama sekali tidak berminat untuk memainkannya barang sedetik pun.

"Hyung?" Chenle kembali bertanya, kali ini sambil memainkan telinga boneka Dumbo-nya. "Aku tanya―kau sudah berkemas belum?"

Seolah kembali terbawa arus menuju alam kesadaran, Haechan mengerjapkan kedua matanya. "Apa? Apa?"

"Sudah berkemas atau belum?!"

Bukan. Itu bukan Chenle. Melainkan kekasih tersayangnya yang berucap dengan nada yang terdengar sinis dan tidak menyenangkan di telinga. Sadar akan hal tersebut, Chenle segera melempar Renjun dengan boneka Dumbo-nya yang berukuran sedikit lebih besar sedari pada boneka pada umumnya.

"Oh, itu," Haechan terkekeh, merasa bersalah karena tidak mendengarkan pertanyaan Chenle. "Sudah ku lakukan separuhnya. Tinggal memasukkan beberapa barang tambahan seperti lip balm, peralatan perawatan wajah, dan buku tulis kecil yang ku bawa."

Chenle mengangguk. "Baiklah, terima kasih sudah menjawab," katanya canggung.

Keheningan melanda kamar―yang biasanya memiliki suasana sangat ramai―tersebut. Haechan sibuk melongo, Renjun menutup kopernya, Chenle memainkan boneka Dumbo kesayangan-nya, dan Yangyang beralih menggunakan seperangkat make up ringan.

Semuanya sibuk akan aktivitas mereka sendiri-sendiri.

Tetapi, keheningan itu tidak mampu bertahan lama sebab Chenle yang mulai suntuk kini merasa bosan dan ingin membicarakan sesuatu yang menurutnya cukup penting.

Alasan di balik terjadinya keheningan.

"Haechan-hyung," ia memanggil dan membuat sang pemilik nama menoleh kepadanya. "Kenapa kau tiba-tiba menjadi diam dan memandangi dedaunan yang jatuh dari dahannya?"

Tepat sesuai dugaannya, Haechan tersenyum lebar hingga matanya menyipit sedemikian rupa. "Hanya sekadar bertanya-tanya di dalam hati," jawabnya.

"Oh?" Chenle sedikit terkejut. "Mengenai apa?"

"Sesuatu yang cukup penting sepertinya."

"Sepertinya...?"

"Kau tahu―" Haechan menghela nafas. "―aku tidak yakin, Chenle."

"Kalau kau tidak yakin, kau bisa bertanya kepada ku," pemuda berdarah Tiongkok itu tersenyum lebar dan bangkit dari posisi berbaringnya. "Tetapi jangan bertanya kepada Renjun-ge dan Yangyang-hyung. Yang satu pasti akan menjawab dengan sinis dan yang lainnya pasti hanya akan mengoceh dalam bahasa Jer―AH!"

Renjun mencubit kaki mungil milik kekasihnya hingga pemuda itu menjerit. Sudah disibukkan dengan koper yang tidak bisa tertutup rapat akibat begitu banyak barang di dalamnya, kini ia harus mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan keluar dari mulut Chenle.

"Makanya," ia berkata. "Kalau berbicara jangan sembarangan!"

Chenle mengaduh kesakitan sebelum pemuda itu memutuskan untuk kembali tersenyum kepada Haechan. "Pokoknya―aduh―tanyakan saja pada ku."

Haechan terlihat tidak yakin. Pemuda lugu itu masih memandangi dedaunan yang jatuh dari dalam kamarnya. Ia melipat bibirnya karena tidak tahu harus berkata apa. Menyuarakan isi hati terdengar begitu aneh dan canggung baginya. Karena itu―

"Apakah aku ini baik?"

―ia mengatakannya dengan sangat pelan.

Beruntung, pendengaran Chenle terbilang sangat tajam dan pemuda itu tidak meminta Haechan untuk mengulang kalimatnya kembali. Menyadari maksud pertanyaannya, Chenle segara melempar senyum ke arah Haechan yang tampak kehabisan akal.

"Kau ini baik sekali," jawabnya.

"Terlalu baik, malah."

***

"SUDAH ratusan kali, Haechan-ssi, aku berkata jika aku tidak begitu tahu menahu mengenai kawasan di sekitar hotel ini."

Sepertinya dewi fortuna sedang tidak memihak Haechan saat ini. Taeyong tidak mau menemaninya membeli sebuah buku di hari terakhirnya berada di Seoul dengan alasan tidak terlalu mengenal kawasan di sekitar hotel ini. Pria itu beranggapan jika hal tersebut akan menuntun keduanya menuju hal yang tidak diinginkan.

Namun, Haechan bukanlah Haechan jika pemuda itu berhenti memelas.

"Taeyong-ssaem," panggilnya dengan nada selembut mungkin. "Ayolah, temani aku ke toko buku. Aku ingin membeli sebuah buku yang hanya beredar di Seoul. Jika kita sudah pulang ke Busan, aku tak akan bisa membelinya."

"Kau bisa," Taeyong mengangkat bahu. "Secara online."

Haechan mengerang dan kembali memohon dengan pandangan yang menggemaskan. "Oh, ayolah, ssaem. Hanya satu kaliiiiiii saja."

"Tidak mau, ya, tidak mau."

"Ku mohon!"

"Jawabanku tetap tidak."

"Di dekat sini, kok!"

"Tidak, tidak, dan tid―"

"Aku bisa menemaninya."

Haechan dan Taeyong menoleh bersamaan ke arah sumber suara yang kini berdiri di samping keduanya. Sosok itu menghela nafas dan mengulurkan tangan kanannya.

"Mark―"

"Aku bilang," pemuda yang lebih tua itu memperjelas kalimatnya di hadapan Taeyong yang tiba-tiba menjadi diam seribu bahasa. "Aku akan menemaninya membeli buku."

Haechan memandang Mark. Dimulai dari ujung kaki hingga rambut pemuda tersebut, semua tak luput dari pandangannya. Haechan mulai berpikir jika pemuda ini bukanlah Mark yang ia kenal sejauh mengikuti program karantina olimpiade ini.

"Mengapa tiba-tiba―"

"Pokoknya aku akan menemani anak ini membeli buku," Mark kembali memotong kalimat Haechan yang kini memanyunkan bibirnya, sedikit merasa sebal. "Kebetulan―" pemuda itu berhenti sejenak dan memandang kedua manik obsidian milik Haechan, "―ayah dari temanku adalah pemilik dari toko buku tersebut dan aku bisa memastikan jika anak ini akan mendapatkan buku yang ia mau."

Grep.

Entah disengaja atau tidak, tetapi Mark baru saja menggenggam tangan kanan milik Haechan dan menatap lurus ke arah Taeyong―seolah ia tengah menghadapi calon mertuanya untuk meminta restu menikah.

"Aku akan melindunginya."

***

"TEMANMU pemilik toko buku ini?"

Mark mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Haechan ketika keduanya tengah mengitari deretan rak buku yang memuat buku-buku berjenis fiksi ilmiah yang jarang sekali bisa kau temui di Busan.

"Jeno," jawabnya. "Ayahnya adalah pemilik toko buku dan ibunya seorang pianis yang kini menetap di Jerman."

"Hoo... hebat juga."

Sembari melompat kecil, Haechan kini sibuk mendahului Mark yang sengaja berjalan sedikit lebih lama di belakangnya. Ketika melompat, surai milik pemuda tersebut ikut bergoyang seirama dengan langkahnya. Jangan lupakan senyuman lebarnya yang memgembang setiap kali ia berhenti di sebuah rak—berharap jika buku yang ia inginkan berada di rak tersebut.

Entahlah.

Semua hal itu membuat Mark tersenyum tipis tanpa Haechan sadari.

"ADA! BUKUNYA ADA!"

Mark sedikit tersentak ketika Haechan berhenti mendadak di depannya. Pemuda yang lebih tua itu dapat mendengar seruan kecil Haechan ketika ia mendapatkan buku yang ia dambakan tersebut.

"Ada, hyung!" Serunya. "Ada, ad—oh?"

Namun, sayang. Haechan tidak mampu mengambil buku yang sialnya terdapat di bagian rak paling atas itu.

Dengan gigih, pemuda tersebut berusaha untuk meraihnya. Berkali-kali ia melompat hingga nafasnya tidak beraturan. Berkali-kali pula ia merentangkan tangannya ke atas, berusaha untuk menggapai buku bersampul biru tua tersebut. Berkali-kali ia nyaris terjatuh akibat melompat terlalu tinggi dan melakukan pendaratan yang kurang sempurna.

"Ugh! Sedikit lagi—"

"Kenapa tidak minta tolong saja, 'sih?"

Mark tidak kuasa menahan tawa lagi dan berbaik hati mengulurkan tangannya ke atas guna mengambilkan buku yang Haechan inginkan dengan memanfaatkan tubuhnya yang jauh lebih tinggi dari pemuda tersebut.

Kemudian, ia menyerahkan buku itu kepada Haechan yang kini menatapnya dengan pandangan berbinar.

"Ini. Kau ingin ini, bukan?"

Haechan mengangguk seraya memberikan senyuman termanisnya kepada Mark yang berdiri di hadapannya.

"Terima kasih banyak, hyung!" []

***

© Rayevanth, 2019

[a/n]

Halo.

Aku mau repub one shots collection aku yang Nomin, boleh tidak?

Kalau aku repub, kalian mau baca tidak? Hehehe.

Kalau aku pribadi, aku akan senang untuk repub karena aku bisa kembali nulis one shots lagi.

Dulu, aku sempat unpub karena alasan pribadi. Tapi sekarang aku pikir, boleh juga kalau aku repub.

Jadi, bagaimana?:)

-ray