Mobil sedan kesayanganku melaju cepat di jalan tol. AC mobil sedikit dingin, tapi keringat dingin membasahi telapak tanganku. Ini bukan hanya karena gugup menunggu acara lamaran, tapi juga karena rahasia besar yang akan kuberitahukan nanti. Aku melirik jam: pukul 10:30. Tiga puluh menit lagi sampai rumah. Jantungku berdebar-debar, campuran gugup dan penasaran. Aku fokus menyetir, mencoba mengabaikan debaran jantungku yang semakin kencang. Aroma parfum mobil yang lembut sedikit menenangkan.
Beberapa saat kemudian, ponselku berdering nyaring dari dalam tas di kursi kemudi. Aku terkejut, jari-jariku gemetar saat meraihnya. Nama 'Bunda' terpampang di layar. Aku menekan tombol hijau. 'Assalamu'alaikum,' ucapku saat tersambung.
'Waalaikumsalam, Syffa, kamu di mana nak? Kok lama sekali? Apa terjadi sesuatu?' tanya Bunda, suaranya terdengar khawatir. Rasa bersalah menusukku. Aku telah membuat Bunda khawatir.
'Syffa sudah dekat kok, Bun. Masih di jalan,' jawabku, suaraku berusaha tenang. Aku mendengar suara riuh di latar belakang, suara orang-orang yang sedang berbincang dan tertawa.
'Rombongan sudah sampai dari tadi, lho! Kamu terlambat!' Bunda terdengar semakin cemas. Aku membayangkan wajah khawatirnya.
'Iya, Bunda... Syffa tadi agak telat karena masih mengemasi barang-barang. Lagian, kalau sudah datang, mulai saja acaranya. Nggak perlu nunggu Syffa,' kataku, mencoba bercanda.
'Hah? Terus, nanti Bunda yang pakai cincin dari dia gitu? Jangan bercanda, cepat sedikit nyetirnya! Tapi hati-hati, ya!' Bunda sedikit tegas, tapi tetap terdengar sayang. Aku merasakan kekhawatiran dan kegembiraannya.
Aku tertawa kecil. 'Iya, Bunda. Syifa akan hati-hati.' Aku mematikan telepon, mencoba mengatur napas. Berat sekali beban yang kupikul. Semoga semuanya berjalan lancar.
Semalam, sebelum tidur, aku membuat keputusan besar. Keputusan yang membuatku deg-degan sampai sekarang. Setelah acara lamaran nanti, aku akan mencoba jujur. Aku akan menceritakan semuanya pada calon suamiku. Bahwa aku⦠bahwa aku bukan lagi gadis perawan. Aku berharap dia bisa menerimaku apa adanya. Tapi⦠jika dia tidak bisa? Aku sudah mempersiapkan hatiku untuk itu. Meskipun berat, meskipun aku tak ingin mengecewakan orang tuanya dan orang tuaku, aku tak mau memulai pernikahan dengan kebohongan. Aku ingin kejujuran menjadi dasar dari rumah tangga kami. Aku berdoa semoga semuanya baik-baik saja.
Aku mengenakan jubah panjang berwarna ungu lavender kesayanganku, lembut dan anggun. Jilbab dusty rose senada menutupi tubuhku. Kombinasi pastel ini terasa menenangkan. Untuk pertama kalinya dalam 5 tahun terakhir ini, aku tak mengenakan cadar. Aku menatap diriku di spion. Make up tipis: bedak, lipstik peach lembut, dan sedikit maskara. Cantik, sederhana, dan natural. Aku ingin terlihat tenang dan percaya diri, walau sebenarnya jantungku berdebar tak karuan.
*
Tiga puluh menit berlalu. Mobil sedan kesayanganku berhenti tepat di depan rumah. Setelah mematikan mesin dan keluar dari mobil, aku membenarkan jilbab di kaca spion, mencoba menenangkan debaran jantung yang tak kunjung reda. Wajahku sendiri di kaca spion tampak pucat. Napas dalamku beberapa kali kurasakan.
Pandanganku tertuju pada tiga mobil mewah yang terparkir di halaman rumah: Audi, Porsche, dan sebuah Bentley yang elegan. Kemarin Bunda memang bilang calonku mapan, tapi⦠semapan ini? Aku tak menyangka. Rumahku tampak ramai. Tampaknya beberapa tetangga juga sudah datang. Di depan pintu, ayah dan Bunda berdiri bersama dua orang yang sedikit familiar, tapi aku tak ingat pernah bertemu dimana, sepertinya mereka orang tua calon suamiku.
Kulihat, Ibu calon suamiku yang terlihat muda dan sangat cantik. Beliau mengenakan baju kurung berwarna biru muda yang sopan dan anggun, dipadukan dengan jilbab senada. Kesan lembut dan elegan terpancar darinya. Ayah calon suamiku terlihat gagah dalam balutan jas rapi berwarna gelap. Penampilannya sangat berwibawa, seperti seorang eksekutif perusahaan besar. Keduanya terlihat sangat serasi dan berkelas. Aku takjub melihat kesopanan dan keanggunan mereka.
Ayah dan Bunda yang ada disamping merekapun tampak sederhana namun tetap rapi. Bunda mengenakan jilbab berwarna senada dengan bajunya, cokelat muda, yang menutupi rambutnya dengan rapi. Ia mengenakan baju batik berwarna cokelat tua dengan motif sederhana, bawahannya kain songket berwarna senada. Penampilannya mencerminkan kesederhanaan namun tetap terkesan anggun. Ayah mengenakan kemeja batik yang sedikit lebih cerah dengan kopiah hitam di kepalanya, bawahannya celana kain berwarna gelap.
Pandanganku jatuh pada Ayah. Air mata haru menetes di pipinya yang tersenyum ke arahku. Dadaku terasa sesak. Aku mengukir senyum, menahan air mata yang hampir jatuh, lalu menghampiri Ayah dengan langkah gontai namun mantap.
"Assalamu'alaikum, Ayahâ¦" Aku memeluk Ayah erat-erat. Tubuhku gemetar, sesak sekali rasanya.
"Wa'alaikumsalam, Syifa⦠anak Ayahâ¦" Suara Ayah serak, bergetar menahan haru. "Ayah sangat bahagia." Pelukannya terasa hangat, menenangkan.
Bunda langsung memelukku, lebih erat dari Ayah. "Nak⦠kamu lama sekali! Bunda sudah sangat khawatir!" Suaranya bergetar, campuran kelegaan dan rasa syukur. Air matanya membasahi pundakku.
Aku melepaskan pelukan Bunda, lalu menyapa dan menyalami kedua orang tua calon suamiku. "Assalamu'alaikum, Pak, Bu. Mohon maaf jika saya sedikit terlambat," ucapku, mencoba tersenyum, meski jantungku masih berdebar. Aku menyalami tangan ibu calon suamiku. Tangannya terasa hangat dan lembut.
"Waalaikumsalam, Nak Syffa. Tidak apa-apa, tidak terlalu terlambat kok," kata Ibu calon suamiku dengan ramah. Senyumnya hangat, menenangkan. "Kamu cantik sekali," pujinya. Pipiku terasa memanas.
"Terima kasih, Bu," jawabku, tersenyum malu.
Ayah calon suamiku tersenyum, aku segera menyaliminya juga, tangannya terasa kokoh. "Baiklah Nak Syffa, karena kamu sudah datang, mari kita mulai acara utamanya." ucapnya setelah menyambut uluran tanganku. Suaranya ramah dan menenangkan. Aku mengangguk, mencoba menenangkan debaran jantungku. Semoga semuanya baik-baik saja. Semogaâ¦
Langkahku memasuki rumah terasa berat. Ruangan ramai oleh kerabat dan tetangga, juga keluarga calon suamiku. Aku menunduk, mencoba bersikap sopan, menghindari kontak mata. Namun, sebuah suara familiar menusuk telingaku.
"Lama banget sih, Syffa! Kami sudah menunggu hampir sejam, lho!"
Suara lain menyahut, juga familiar. "Harusnya acara sudah mulai sejam yang lalu kan?"
Aku membulatkan mata. Pandanganku mencari sumber suara. Kejutan besar! Di pojok ruangan, terlihat Rani dan Lia, dua sahabatku tersayang, duduk bersama suami dan anak-anak mereka. Senyum lebar terkembang di wajah mereka, mata mereka berbinar. Seketika, sopan santunku sirna. Suasana riuh yang tadinya memenuhi ruangan tiba-tiba menjadi hening saat aku, tanpa pikir panjang, menghampiri mereka dengan lari kecil dan langsung mencium pipi-pipi gembul anak-anak mereka, karena aku selalu gemas setengah mati pada mereka yang sudah seperti keponakanku sendiri. Rasa terkejut dan bahagia bercampur aduk dalam dadaku.
"Kalian di sini? Aku nggak ngabarin, lho!" tanyaku, masih tak percaya. Rencananya aku mau memberitahu mereka ketika hari pernikahanku nanti.
Rani dan Dimas tersenyum, mengangkat alis mereka beberapa kali kearahku. "Masa kami nggak tahu sahabat sendiri mau lamaran?" jawab Rani.
"Kamu aja datang ke lamaran kami, masa kami nggak datang? Jahat dong namanya," sahut Lia dengan mata yang hampir menumpahkan airnya.
Jujur, aku masih bingung, tak bisa mencerna ucapan mereka. Rendi kemudian membuka suara. "Gimana kami nggak datang, Syffa? Orang yang mau melamarmu aja adikku sendiri!"
Keningku berkerut. Aku teringat nama adik Rendi, adik ipar Lia juga: "Hendra." Jadi, dia yang melamar aku?! Napasku tercekat. Dulu, saat pernikahan mereka, aku hanya penasaran dengan sosok Hendra. Sekarang, jantungku berdebar-debar tak karuan.
Pandanganku mencari-cari sosok Hendra di antara kerumunan. Seolah ada dorongan lain didalam dadaku. Aku masih ingat ketika melihat punggungnya waktu itu, ingatan itu muncul dengan sangat jelas di dalam kepalaku. Penampilannya kala itu, mengingatkanku pada seseorang. Dan benar saja, saat mataku akhirnya menemukannya⦠dunia seakan berhenti berputar.
Sosok yang sangat kukenal, yang selama lima tahun ini selalu menghantui pikiranku. Pipiku terasa panas, seakan terbakar. Air mata yang sempat kutepis kembali merembes keluar.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum mengatakan apa pun. Suaraku bergetar hebat, hampir tak terdengar saat memanggil namanya, "Raven..." Suaraku terengah-engah, seperti tercekik emosi yang susah payah kutahan. Dia duduk tegap, posturnya memancarkan aura wibawa.
Rambutnya lebih rapi daripada dulu, kumis tipis menghiasi wajahnya, matanya lebih tajam daripada dulu, lebih dalam, menembus jiwaku. Namun, tatapannya... tatapan sendu yang seolah merasakan hal yang sama dengan apa yang kurasakan selama lima tahun ini tengah tertuju padaku.
Senyum tipis, senyum yang menyimpan sejuta makna, terukir di bibirnya. Senyum yang membuatku semakin tak mampu berkata-kata, setiap kali menatap senyumnya itu, aku selalu merasakan ketenangan dalam hatiku. Kini, aku terpaku dalam diam dengan air mata yang sudah tumpah membasahi pipiku.
Sebelum aku sempat berkata apa pun lagi, suara serak yang sangat kurindukan memecah kesunyian. "Kak Syffa..." suara itu bergetar, diikuti oleh isakan yang tak mampu lagi dibendung. Air mata mengalir deras di pipi Raven, mengalir tanpa mampu dia bendung. Dia terlihat sangat tampan, tetapi raut wajahnya dipenuhi kesedihan dan kerinduan yang begitu dalam. Dia perlahan bangkit dan melangkah mendekat, mencoba meraih tanganku, namun langkahnya tampak ragu-ragu.
Aku masih terpaku di tempat, tak mampu bergerak. Pikiran dan perasaanku campur aduk. Kejutan, kebahagiaan, dan kenangan. Rani dan Lia saling berpandangan dengan air mata bahagia yang mengalir ke pipi mereka, wajah mereka mencerminkan keharuan yang sama seperti yang kurasakan saat menatap kami kini.
"Kak Syffa... aku, aku benar-benar merindukanmu..." lirih Raven, suaranya terputus-putus oleh isakan ketika berhasil menggenggam tanganku.
Aku mengangguk, ingin berkata hal yang sama, tapi aku tak mampu... aku tak bisa mengontrol emosi yang tengah kurasakan saat ini. Tanganku juga segera menggenggam tangannya dengan erat, berharap dia mengerti dengan perasaanku yang sama seperti dirinya.
"Selama lima tahun ini, aku selalu mencari-cari keberadaanmu, bertanya pada kak Rani berulang kali," lanjut Raven, mencoba mengendalikan emosinya. "Aku sudah lama merencanakan ini. Aku ingin melamarmu, mengajakmu untuk membangun masa depan bersama."
Lia, yang sedari tadi memperhatikan kami dengan isak tangis, akhirnya bersuara, "Syffa... Kenapa kamu dari dulu nggak cerita padaku sih?!" tanyanya. "Andai saja Rani tak memberi tahuku minggu lalu, aku tak akan pernah tahu,"
"Maaf jika aku melanggar janji kita. Aku nggak tega, Syffa," kata Rani, mengusap air matanya. "Raven itu benar-benar mencintaimu. Dia bercerita padaku, dia mencari alamatmu sampai ke mana-mana. Aku memberikan alamat rumah orang tuamu karena aku tahu perjuangannya serta rasa frustasinya. Kalian itu ditakdirkan bersama, aku dan Lia juga sadar dengan dirimu yang berubah saat kita berkumpul."
"Syffa... waktu Rani nunjukin foto Raven minggu lalu... aku langsung tercengang! Itu Hendra! Adik iparku sendiri! Aku nggak percaya kamu sembunyiin ini semua. Tapi... aku senang kalian akhirnya bersatu. Seharusnya kamu cerita dari dulu, kita pasti akan sangat mendukung kalian." tambah Lia, suaranya terdengar sedikit kecewa, tapi juga bahagia.
Aku hanya terdiam, air mata mengalir deras membasahi pipinku. Tangisku tersendu-sendu, merasakan penyesalan yang dalam. Bukannya aku ingin menyembunyikan sesuatu dari Lia, hanya saja waktu itu tak pernah tepat. Setelah Raven pergi ke Jogja untuk kuliah, jarak dan kesibukan membuat kami terpisah. Aku merasa tak mungkin untuk mengenalkan Raven padanya, apalagi setelah aku sendiri yang memutuskan untuk meninggalkannya demi menebus dosa yang pernah kami berdua perbuat. Rasa bersalah dan penyesalan memenuhi hatiku.
"Aku juga terkejut," kata Ibu Raven, mendekati kami dengan senyum yang terharu. "Kami tak menyangka kalian sudah saling mengenal." Ayah Raven mengangguk, setuju dengan pendapat istrinya.
Ayah dan Bunda juga mendekat, wajah mereka dipenuhi kelegaan dan kebahagiaan. Mereka memeluk kami berdua, menyatukan kami dalam pelukan yang hangat dan penuh cinta.
Ayah Raven kemudian berkata, "Syukurlah, Nak Syffa dan Hendra, karena kalian sudah saling mengenal, dan ini lebih dari sekadar lamaran, mari segera kita mulai acara utamanya." Suaranya penuh dukungan dan kehangatan.
Aku kemudian duduk di samping Raven, perasaanku campur aduk. Kejutan, kebahagiaan, dan sedikit rasa bersalah karena telah bersembunyi darinya selama ini. Tapi melihat senyum Raven, melihat dukungan dari kedua keluarga, aku merasa tenang. Acara lamaran berlangsung lancar, dipenuhi oleh senyum bahagia dan air mata haru. Aku dan Raven saling berpandangan, mata kami saling berbicara tanpa perlu kata-kata. Lima tahun berlalu, tapi cinta kami masih sama kuatnya seperti dulu. Mungkin, ini adalah awal dari babak baru yang lebih indah dalam hidup kami. Babak baru yang penuh cinta, kejujuran, dan kebahagiaan.
****************
Epilog!
Pernikahan kami diselenggarakan 2 hari kemudian dengan begitu khidmat dan penuh haru. Setelah melewati masa hubungan yang panjang dan penuh lika-liku serta ambiguitas, aku dan Raven akhirnya bersatu. Melihatnya di pelaminan, dengan jas rapi dan senyum yang selalu membuatku meleleh, aku merasa semua perjuangan kami selama ini sepadan. Namun, di balik kebahagiaan ini, ada bayang-bayang masa lalu yang tak bisa kulupakan. Kesalahan kamiâhubungan sebelum menikahâselalu menghantuiku. Aku masih ingat rasa takut dan penyesalan yang menggerogotiku setelah kejadian itu. Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata, dibumbui dengan bumbu fiksi untuk menghidupkan jalannya cerita. Beberapa detail mungkin diubah, namun inti kisahâperjuangan, penyesalan, dan penyatuan kembaliâadalah refleksi dari pengalaman nyata. Kini, kami tak perlu dihantui bayang-bayang dosa lagi ketika melakukan hubungan itu, sebab status kami sudah "SAH" dan menjadikannya "IBADAH". Ditambah, kebahagiaan kami semakin lengkap dengan kehadiran buah hati kami, seorang anak laki-laki yang tampan, mewarisi ketampanan Raven. Dia menjadi semangat hidup kami setiap hari.
Kehidupan setelah pernikahan sangat indah. Aku dan Raven selalu mengingat kesalahan masa lalu sebagai pelajaran berharga. Kami membangun rumah tangga dengan pondasi kejujuran dan saling memaafkan. Raven, yang berhasil menjadi arsitektur sukses seperti cita-citanya dulu, selalu meluangkan waktu untukku dan buah hati kami. Aku, sebagai guru, menemukan kebahagiaan dalam mendidik siswa-siswiku menjadi lebih baik lagi. Namun, kami selalu menekankan pentingnya menjaga kesucian hubungan sebelum pernikahan. Kisah kami bukanlah contoh yang baik dalam hal hubungan "Pranikah", melainkan pengingat akan konsekuensi dan penyesalan atas setiap semua tindakan yang salah.
Lima tahun pencarian Raven terasa seperti mimpi. Kegigihannya mencariku menunjukkan betapa besar cintanya. Aku tahu perjuangannya tak mudah sebab aku yang tak jujur dengan alasanku padanya mengapa aku meninggalkannya. Pengalaman ini mengajariku pentingnya kejujuran dan komunikasi terbuka.
Kisahku dan Raven bukan sekadar dongeng cinta. Ini tentang kesalahan, penyesalan, penebusan, dan pengampunan. Ini tentang kejujuran, kesabaran, dan komitmen. Kita semua pernah salah, tapi yang penting adalah belajar dari kesalahan tersebut, dan membangun masa depan yang lebih baik lagi. Semoga kisah ini, yang terinspirasi dari kisah nyata tapi dibumbui fiksi, menginspirasi untuk berjuang demi cinta dan kebahagiaan, serta bertanggung jawab atas setiap pilihan. Dan yang terpenting, hindari hubungan Pranikah yang menyimpang dan jaga kesucian hubungan sampai saat yang tepat.
(Nama setiap karakter dan kejadian tempat dalam cerita ini sepenuhnya samaran demi kebaikan narasumber kami, serta menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.)Â
â¢~~TAMAT~~~TAMAT~~~TAMAT~~~TAMAT~~~TAMAT~~â¢
Jika kalian berminat, bisa membaca cerita saya yang lain, judulnya... "Petualangan Guru Privat". Buat kalian yang membaca sampai titik ini, saya mengucapkan terimakasih dari hati yang paling dalam, dan semoga bisa mengambil pelajaran dari kisah ini.Â
Tarik nafas yang dalam.... hembuskan... Terimakasih... Wasalamualaikum. :)Â
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!