Aku meletakkan tas kerja di atas meja. Lelah masih terasa setelah seharian mengajar. Cahaya jingga sore menerobos jendela, menciptakan suasana hangat di kamarku. Aku segera menunaikan sholat Ashar sebelum waktunya benar-benar habis.
Setelah sholat, aku melipat sajadah dengan hati-hati dan menyimpannya di lemari. Mukenaku juga ikut ku gantung di sana. Aroma wangi pengharum ruangan masih samar-samar tercium.
Suasana senja yang tenang menyelimuti kamar kecilku ini. Detak jantungku sedikit lebih cepat. "Malam ini masak apa, ya?" gumamku pelan. Perutku mulai keroncongan. Belum sempat kupikirkan menu makan malam, ponselku berdering. Nama "Bunda" terpampang di layar. Aku menghela napas panjang. Aku tahu panggilan ini tidak akan menenagkanku yang ingin segera beristirahat setelah masak nanti.
Suara Bunda dari seberang terdengar lembut, tapi ada tekanan di baliknya, "Assalamu'alaikum, Syffa."
"Waalaikumsalam, Bun," jawabku, suaraku sedikit gemetar. Lelah seharian mengajar masih terasa.
Ada jeda singkat sebelum Bunda melanjutkan, suaranya sedikit lebih serius, "Syffa, tentang perjodohan itu... Bunda rasa ini saat yang tepat."
Aku menghela napas, benar seperti yang kukira. Tiga bulan terakhir ini, Bunda tak henti-hentinya menelepon, membujukku untuk dijodohkan dengan anak-anak teman-temannya. Dari duda kaya raya hingga pemuda yang masih perjaka, bahkan ada yang masih sangat muda. Aku selalu menolak, menjelaskan bahwa aku belum siap menikah dan ingin fokus pada karirku. Tapi Bunda tetap saja bersikeras, seakan tak pernah mengerti keinginanku.
"Bun, Syffa sudah bilang berkali-kali, Syffa belum siap untuk menikah," jawabku seperti biasa ketika bunda membahas soal perjodohan.
"Syffa, sayang... Bunda ingatkan sekali lagi, kamu itu sekarang sudah 28 tahun nak. Teman-temanmu banyak yang sudah berkeluarga, punya anak. Bunda ini sudah tua, dan juga ingin segera menimang cucu seperti teman-teman bunda." Nada Bunda terdengar sedikit mendesak, tapi tetap berusaha lembut.
"Tapi Bun," kataku pelan, "Syffa belum merasa siap. Syffa masih ingin fokus pada karir Syffa."
"Janjimu, Syffa. Ingat janjimu sebelum kamu pergi kuliah dulu? Kalau ada yang melamar, kamu akan menerimanya." Bunda mengingatkan, suaranya sedikit lebih tegas. "Ada pemuda yang datang kerumah tadi pagi, meminta izin untuk melamarmu. Bunda belum memberi jawaban, akan kutanyakan kepadamu nanti sore, dan sekarang lah waktu yang Bunda janjikan padanya, tepatilah janjimu."
"Bunda yakin kamu tidak akan menyesal jika menerimanya, Syffa. Bunda sudah menilainya sendiri saat bunda berbincang dengannya tadi, anaknya tampan, sopan, dan mapan juga ketika kutanya pekerjaannya. Bunda sangat menyukainya." jelas Bunda, nada bicaranya saat ini terdengar cukup antusias.
Napasku sedikit tersekat, jantungku berdebar-debar. Janji itu... kenangan itu kembali. Aku terdiam sejenak, mencoba menenangkan diri. Sejuta pertanyaan memenuhi pikiranku. Siapakah gerangan pemuda yang berani melamarku? Apakah dia teman sekolahku dulu? Atau seseorang yang sama sekali tak pernah kukenal? Atau anak teman Bunda yang telah disiasati rencananya oleh Bunda agar aku tak bisa menolak menggunakan alasan? Penasaran mulai menggerogotiku. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku menjawab panggilan Bunda.
"Baiklah, Bun," kataku akhirnya, suaraku masih sedikit gemetar. "Syffa akan menepati janji Syffa yang itu."
Di seberang sana, terdengar suara Bunda yang dipenuhi rasa syukur, "Alhamdulillah, Syffa! Akhirnya... doa Bunda terkabul juga. Sebentar lagi Bunda akan menimang cucu. Bunda akan segera menghubungi pemuda itu agar besok bersiap-siap."
"Iya, Bunda," jawabku singkat. Aku masih merasa sedikit terkejut dan belum sepenuhnya siap. Tapi janji adalah janji, aku tak ingin melanggarnya lagi kali ini, aku sudah belajar dari pengalamanku sebelumnya.
"Besok kamu juga pulang. Bunda enggak mau tahu. Sekarang kamu mintalah izin kepada atasanmu, kepada kepala sekolah untuk mengambil cuti besok," kata Bunda.
"Iya-iya, Bunda sayang..."
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Panggilan terputus. Aku meletakkan ponselku, merasa beban berat di dadaku. Keputusan ini⦠entah mengapa, membuatku kembali teringat pada Raven. Lima tahun. Sudah lima tahun ini aku meninggalkan kontrakan ku dulu ketika Rani pulang untuk menikah. Lima tahun⦠Kenangan itu kembali munculâ¦
Setelah menghela napas panjang, aku duduk di kursi kayu kecil di depan meja riasku, perasaan berat masih menyelimutiku. "Mungkin ini jalan yang terbaik. Aku harus melangkah maju, membangun hidup baru. Semoga, dengan pernikahan ini, aku bisa benar-benar melupakan Raven... dan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya." gumamku pelan.
Ingatanku melayang, membawaku kembali pada Raven. Di lubuk hati terdalamku, masih ada dia. Lima tahun lalu, aku meninggalkannya tanpa alasan yang jelas baginya, meskipun hatiku masih merasa tidak tega. Setelah dia pergi ke Jogja untuk kuliah, aku memilih untuk menghilang dari kehidupannya.
Aku ingin membenahi diriku. Kejadian di Bali membuatku tersadar, aku telah terlalu jauh menyimpang dari jalan yang benar. Di Bali, saat itu, Raven dan aku⦠kami melakukan hubungan, hubungan yang seharusnya tak kami lakukan sebagai seorang ustadzah dengan muridnya sendiri. Itu bukan sepenuhnya kesalahannya, sebab aku juga menginginkannya. Namun, setelahnya, aku merasa sangat bersalah.
Sejak saat itu aku mengalami dilema yang selalu mengganggu hidupku, aku tahu aku sangat menyayanginya lebih dari apapun, sebab dia adalah cinta pertamaku. Namun aku juga sadar atas kesalahan yang telah kami perbuat, yang seharusnya terikat hubungan nikah untuk melakukannya.
Aku tak menyangka niatku yang awalnya baik untuk membantunya dulu, malah membuatku berubah dan ikut terbawa arusnya. Rasa bersalah akibat tak bisa memegang janjiku, membawaku untuk memilih dua pilihan berat. Di satu sisi aku sangat mencintai Raven, di sisi lain aku selalu terbayang-bayang akan semua hubungan kami yang sangat salah dan memiliki konsekuensi yang sangat berat.
Dengan memantapkan pilihanku, aku memilih untuk menebus semuanya, menebus semua dosaku dan membenahi diri untuk kembali ke jalan yang benar, dan meninggalkan Raven begitu saja tanpa memberikan alasan.
Besok, aku akan memulai lembaran baru tanpa tahu kabar Raven sekarang. Aku bahkan meminta Rani untuk tidak memberitahukan alamat tempat kostku saat ini padanya, demi fokus pada pengembangan diriku. Saat dia beberapa kali berkunjung ke MA Al-Azizpun, aku selalu menghindar dan bersembunyi. Aku harus merelakannya, menerima bahwa mungkin kami memang tidak ditakdirkan bersama. Aku berharap dia bahagia, menemukan pasangan yang tepat dan sebaya dengan usianya serta yang lebih baik dariku. Meskipun berat, aku harus menepati janjiku pada Bunda. Biarlah masa lalu kami itu menjadi rahasia dan kenangan yang indah diantara kami.
Alhamdulillah, lima tahun ini aku berhasil memperbaiki diriku. Lia dan Rani sudah bahagia dengan keluarga mereka. Lia sudah dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik seperti dirinya yang bernama Stella, umurnya masih 3 tahun. Sementara Rani bahkan sudah memiliki dua anak kembar di pernikahannya bersama Dimas. Anaknya yang Laki-laki bernama Kailan, sementara adiknya yang perempuan bernama Alana, usia mereka sudah 2 tahun, satu tahun lebih muda dari anak Lia. Namun menurutku mereka sama-sama lucu.
Karena hal itu juga, kami jarang bertemu, biasanya hanya dua bulan sekali, sampai tiga bulan sekali. Aku mencoba menyadari keadaan mereka saat ini yang difokuskan untuk mengurus anak-anak mereka.
Meskipun begitu, aku tak merasa kesepian. Meskipun kebanyakan aku menghabiskan banyak waktu sendiri, aku masih memiliki teman sesama guru di tempatku mengajar. Terutama Ustadzah Ani, Ustadzah Indah, serta Ustadzah Astri yang cukup dekat denganku. Kami sering berkumpul, berbagi cerita, dan saling mendukung.
Besok, aku akan memulai babak baru dalam hidupku, menyusul Lia dan Rani yang sudah bahagia dengan keluarga kecil mereka. Meskipun hatiku masih berat, mungkin ini ujian dari Allah, sebuah kesempatan untuk berubah dan sepenuhnya melupakan Raven. Setidaknya beban di dadaku sedikit berkurang.
Aku merasa perlu segera mengurus izin cuti agar besok bisa pulang kampung. Dengan mantap, aku meraih kembali ponselku. Jari-jariku mengetik pesan singkat kepada Ustadzah Hilmi:
"Assalamu'alaikum, Ustadzah Hilmi. Mohon maaf mengganggu waktu Ustadzah. Saya ingin meminta izin untuk mengambil cuti satu hari, besok, tanggal 11/11/2020. Ada acara keluarga yang sangat penting dan tidak bisa ditunda. Terima kasih atas pengertiannya, Ustadzah."
Aku menambahkan emoji tangan berdoa di akhir pesan, berharap Ustadzah Hilmi akan mengizinkannya. Setelah mengirim pesan, aku menghela napas panjang, merasa beban di dadaku semakin berkurang. Aku berharap besok semuanya akan berjalan lancar. Aku pun kembali merenungkan rencana pernikahanku dan bagaimana aku akan menghadapinya.
Aku tersenyum lega saat melihat balasan pesan dari Ustadzah Hilmi. Dengan cepat, beliau mengizinkan cuti yang kuminta. Rasa tenang memenuhi hatiku. Seolah beban yang baru saja kupikul sedikit berkurang. Aku merasa bersyukur atas kemudahan yang diberikan Allah SWT. Kini, aku bisa fokus mempersiapkan kepulanganku ke kampung halaman dan menghadapi babak baru dalam hidupku dengan lebih tenang.
Aku melangkah ke dapur, rasa lapar yang sempat tertunda kini kembali terasa. Dengan hati yang lebih ringan, aku mulai menyiapkan bahan-bahan untuk memasak. Aroma rempah-rempah yang harum memenuhi ruangan, menciptakan suasana nyaman di tengah kesibukan menyiapkan makan malam. Malam ini, aku akan memasak sayur asem kesukaan Ayah. Semoga, makan malam nanti akan terasa lebih nikmat dan tenang. Semoga, babak baru dalam hidupku juga akan seindah aroma sayur asem yang sedang kusiapkan ini.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!