Chapter 51 of 53

Bab 51

Terlalu jauh bersama muridku1,078 words~6 min read

Masih belum sepenuhnya netral guncangan didiriku, Raven segera melepaskan kedua tangannya yang memelukku, dia langsung mengubah posisiku secara perlahan menjadi telentang. Kupikir, dia akan kembali memasukkan Ragnirnya dan mulai permainan kami lagi, tapi ternyata salah.

Aku amat terkejut saat dia membuka kedua p4haku dibawah sana, dan segera mendaratkan bibirnya ke b1bir keduaku itu, dia cium, jilat, dan jarinya yang main-main dengan Elsa.

"Raven!" pekikku kaget, sebab aku merasa sangat malu ketika dia melihat Elsa ku, bahkan menjilatnya juga. "Hentikan, itu kotor... emmhhh..." pintaku. Meski begitu, aku merasakan sensasi geli dan nikmat ketika dia melakukan itu.

Raven melihat kearahku dari bawah sana, "Tak apa ustadzah... ustadzah juga melakukan hal yang sama kepada Ragnir... akan sangat tidak adil jika saya tak melakukan ini..." ucapnya lembut, lalu melanjutkan aktivitasnya kembali.

"Tapi ustadzah malu... Ahhhh..." kataku, segera mengambil bantal dan menutupi wajahku untuk menyembunyikan warna merahnya.

"Kenapa malu... ustadzah? Elsa ustadzah sangat... putih... dan memiliki sedikit... rambut diatasnya..." ucapnya. Tangannya yang satu mulai mengelus-elus atas Elsa, dari bawah pus4r sampai ke rambut-rambut halus diatas Elsa yang tidak terlalu lebat itu. Sementara tangan satunya, jari jemarinya mulai bermain-main di lu_bang yang sebelumnya dimasuki Ragnir, ditambah lidahnya dengan ganas menjilati b1ji k3l3nt1tku, kadang juga menyedotnya.

Aku kembali mengg3lanj4ng tak karuan, nikmat, geli, dan malu bercampur menjadi satu, menciptakan sensasi yang tak bisa ku sebutkan. Hal itu juga membuat kedua pahaku otomatis m3ngh4mpit kepalanya, tanganku juga meremas-remas kembali buah persikku, napasku yang sebelumnya hampir terkendali, kini kembali tak beraturan, n4f5uku juga kembali bangkit.

"Ahhh... Raveeenn... geli... sstttt.. ahhhh..." 3rangku dari balik bantal. Tubuhku juga kembali menggeliat dan m3ng3jang dikala Raven memainkan l1dahnya di b1ji k3l3ntitku.

Cukup lama Raven melakukannya, hingga dapat kurasakan Elsa kembali bangkit dengan k3dutan yang kembali muncul di dalamnya. "Raaaveenn... ustadzah... ahhh..." 3rangku, hendak mengatakan padanya jika saat ini n4f5uku bangkit kembali.

Seolah mengerti, Raven melepaskan kepalanya dari bawah sana, memegang kedua lututku dari atas. Meskipun barusan dia telah melihat dan menjilatnya, rasa malu masih ada saat ini. Aku perlahan mengangkat kembali bantal yang menutupi wajahku, kulihat, mata Raven dengan lekat melihat ke celah k3wan1t4anku dengan tatapan penuh b1r4hi, senyum nakalnya juga menghiasi wajahnya.

"Sangat cantik... hemh... aku merasa beruntung bisa merasakan milik ustadzah..." saat mengatakan kalimat terakhirnya, dia melihat kearahku. Jujur, aku teramat sangat-sangat malu.

Raven kemudian memajukan badanya, memposisikan kembali Ragnirnya yang masih berdiri tegap bak seorang tentara kopasus itu kehadapan Elsa. Kembali ia memasukkannya kedalam Elsa dengan perlahan.

"Aaahhh... Veeennn..." tubuhku sedikit terangkat ketika Ragnir secara perlahan masuk kedalam Elsa, mataku terpejam merasakanya, dan sedikit mendongak keatas kearah tepi tepat tidurku.

"Eemmmhhh.... tidaakkk... berubaaahh... ahhh... rasanya masih... sama... enaknya seperti tadi... ustadzah..." l3nguhnya panjang. Elsa juga merespon dengan mencengkram kuat didalam sana, seolah menarik Ragnir masuk lebih dalam padanya.

Setelah benar-benar masuk, Raven perlahan kembali menggerakkan p1ng9ulnya, dari pelan kemudian sedikit lebih cepat dan cepat lagi. Tanganya menggapai buah persikku, keduanya diremas dengan gemas.

Mata kami bertemu lagi dalam tatapan di sela-sela d3s4han b1nal kami berdua. Setelahnya dia melepaskan tangannya, menurunkan tubuhnya sampai benar-benar hampir berp3lukan denganku. Disinilah wajah kami sangat dekat satu sama lain, napasnya bercampur napasku. Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan d3sah4n akibat rasa nikmat p1ng9ulnya yang terus mendayung.

Mata kami saling menatap satu sama lain, sangat dekat, sampai kemudian Raven tersenyum kepadaku dan mengecup keningku. Tindakan yang takbisa kutahan sampai aku langsung memeluknya erat-erat dan m3ncup4ngi l3hernya semauku, meninggalkan bekas merah disana.

"Aaahhh... Rraaaveenn... ustadzaah... mau dapaat... lagiiii..." kataku semakin tak karuan. Raven juga semakin mempercepat gerakannya.

"Sssaaayaa... jugaaa... ustadzaaahhh.... Aaahhh...." jawabnya. "Hhaammpir saamppaaii...."

Aku bisa merasakan k3dutan kuat Ragnir miliknya dan Elsa milikku, tanda jika kami berdua akan menggapainya bersama-sama. "Jaanggan... Aaahhhm... diikeluarrkannn... dii dalammm... Veennnn... Aaaahhh..."

Setelah mengatakannya, untuk kedua kalinya Elsa memuntahkan cairan esnya kembali, Raven sendiri juga langsung mengeluarkan Ragnir dari sana, menarik tanganku agar aku duduk diatas tempat tidur. Raven bangkit, tangannya dengan erat memeggengam Sang Ragnir kuat-kuat lalu mengokangnya didepan wajahku yang sedikit mendongak akibat tak mampu duduk tegap karena tubuhku yang mencapai puncak kedua ini.

"Aaahhhh... ustadzah... ustadzahhhh... keluaaaarrr..." 3rangnya kuat.

Aku membuka mulutku lebar-lebar sebelum Raven memasukkam Ragnir itu kedalam mulutku. Ketika lidahku menyentuh ujung Ragnirnya, c4iran kental nan p4nas milik Ragnir m3nyemprot bak lahar gunung berapi di dalam sana, bahkan sampai banyak mengisi rongga-rongga mulutku. Aku juga sengaja memainkan lidahku pada ujung Ragnir sesaat sebelum kutelan getah madu itu sepenuhnya masuk kedalam diriku.

Beberapa saat kemudian, Raven melepaskan tangannya pada Ragnir, kemudian memegang kepalaku menggunakan kedua tangannya, mendorongya dari belakang kuat-kuat, memaksa Ragnrinya masuk kemulutku dalam-dalam, sampai aku bisa merasakan ujung Ragnir pada rongga tenggorokanku.

Meskipun aku merasa sedikit ingin muntah, tapi aku suka dengan itu. Aku menatapnya dari bawah, melihatnya tersenyum puas kearahku sebelum aku memberikan kode tepukan ke p4hanya untuk mengeluarkan Ragnir miliknya, dan dia segera mengeluarkannya.

"Glurppp... ummpphh..." aku menelan air salivaku yang bercampur sisa madu Ragnir yang ada didalamnya.

Kembali kugapai Ragnir yang sedikit capek itu, kumainkan kembali dengan lidahku bak menikmati eskrim vanila kesukaanku. Kesedot sebanyak mungkin, berharap masih ada sisa madu yang belum keluar dari sana.

"Ohhh... ustadzahh... nikmatnyaaa... hemmm..." l3nguhnya.

Setelah kurasa habis, aku menyudahi semua permainanku. Raven perlahan tidur disampingku dengan tidak percaya, napasnya masih belum stabil juga. "Ustadzah, saya tidak pernah menyangka hari ini akan terjadi," katanya. "Saya kira saya tidak akan bisa melakukan ini bersama ustadzah,"

Aku juga demikian, kurebahkan diriku di sampingnya, kami berdua menatap langit-langit kamar dengan napas yang sama-sama belum stabil. Pikiranku terasa kosong, yang kurasakan hanyalah kepuasan yang mendalam memenuhi hati dan kepalaku.

"Ustadzah juga, Raven." ucapku, melihat kearahnya.

"Terimakasih, ustadzah..." ucapnya sambil melihat kearahku. Kamipun saling berciuman kembali satu sama lain.

-----------------

Nyatanya, malam ini, kami melakukannya kembali sampai tiga ronde. Kami sama-sama puas, setelah permainan terakhir kami, sempat aku melihat jam di dinding ketika Raven merangkulku saat selesai melakukannya, jam sudah menunjukkan pukul 01:40. Sudah sekitar tiga jam setengah kami melakukan itu bersama-sama.

Di pelukannya, aku merasakan kenyamanan yang selama ini kucari, sebuah kedamaian yang menenangkan jiwa dan raga. Hangatnya tubuhnya membuai, aroma maskulinnya menenangkan. Semua ketegangan dan keraguan yang sempat menguasai pikiranku sirna ditelan kelembutan sentuhannya. Di sana, dalam dekapannya, aku merasa aman, terlindungi dari segala ketakutan dan kerisauan. Detak jantungnya yang berirama selaras dengan detak jantungku, menciptakan harmoni yang menenangkan.

Perlahan, mataku mulai terasa berat. Kelelahan setelah "pertempuran" yang menguras tenaga dan emosi membuatku tak mampu melawan kantuk yang datang menerjang. Tubuhku lemas, jiwaku tenang. Dalam pelukan hangat itu, aku tertidur pulas, tanpa beban dan tanpa rasa takut. Tidurku nyenyak, seakan dunia di luar sana lenyap ditelan mimpi-mimpi indah yang membayangi. Mimpi-mimpi yang mungkin, hanya akan menjadi mimpi.

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!