"Asalamualaikum, ustadzah," salamnya, aku dapat melihat ekspresinya memang terlihat tidak fokus. Segera aku menjawab salamnya dan menyuruhnya untuk duduk di ranjang ku, sementara aku langsung mengunci pintu dan bergegas menghampirinya.
Aku duduk di sampingnya, debaran hatiku sudah tak karuan rasanya. Dan meski aku tahu dia tidak fokus, aku malah mencoba berbasa-basi dengannya, ingin mencairkan suasana. "Bagaimana dua hari ini? Apa kamu menikmati acara liburannya?" tanyaku.
"Menikmati, ustadzah. Aku jadi bisa sedikit lebih dekat dengan Arda dan Galang yang memang sebelumnya hubungan kami tidak begitu dekat," jawabnya, Arda dan Galang adalah anggota tambahan koordinator tim kreatif yang kupilih di hari pertama. "Tapi... ya... itu ustadzah, yang aku tidak suka hanya aku yang tidak bisa dekat dengan ustadzah,"
"Ustadzah mengerti," jawabku. Aku mencoba membenarkan posisi duduk ku, kulihat, Raven semakin tak karuan, dia melihatku secara detail dari bawah sampai atas, dan ketika dia melihat wajahku, ekspresinya tampak canggung, seolah ini adalah pertama kalinya kami bertemu.
"Kamu beneran tak bisa menahannya lagi?" tanyaku, sebab kulihat di bawahnya sepertinya Ragnir benar-benar kangen dengan tanganku, dia sudah sepenuhnya bangkit dari tidurnya.
"Iya, ustadzah... Aku dari tadi menahannya saat kembali ke kamar setelah selesai makan malam." jawabnya.
Wajahku memerah mendengarnya, jujur saja aku juga merasakan hal yang sama, ingin segera menuntaskan dan mengulangi kegiatan rahasia kami selama ini. Aku tersenyum nakal sedikit sebelum aku turun dari dudukku dan berlutut di celah kakinya. Biasanya dialah yang mengeluarkan Ragnirnya dihadapanku, namun hari ini aku ingin melakukan itu untuknya.
Perlahan tanganku mencapai pangkal celana pendek hitamnya, aku kemudian menyuruhnya berdiri sebentar agar memudahkan ku untuk menurunkannya. Yang membuatku terkejut, saat aku benar-benar menurunkan c3l4na pendeknya, di dalamnya ternyata dia tidak memakai c3l4n4 dalam, itu sama sepertiku, sehingga Ragnirnya langsung menyambut didepanku. Kulihat, wajahnya memerah kala melihatku melakukan ini padanya. Kemudian aku segera melepaskan c3l4n4 pendeknya.
"Hem... Ragnir sudah bangun sejak kapan ini Raven?" tanyaku sedikit menggoda.
"Em... sejak aku on the way kesini tadi, ustadzah..." jawabnya, ia kemudian duduk kembali ke kasur ku.
Perlahan aku menggapai Ragnir sambil menggigit bibir bawahku, lalu aku mulai m3n9urut Ragnir perlahan, keatas dan kebawah, merasakan panasnya serta tonjolan akar Ragnir di telapak tanganku yang lentik ini.
"uhhhemm... ustadzah..." dia mulai menopang tubunya menggunakan kedua tangannya yang diletakkan diatas kasur ku, sambil wajahnya mendongak keatas, menghadap langit-langit kamar hotel ini. Matanya terpejam menikmati rasa yang ia rindukan dan kurindukan juga pastinya.
Kemudian, perlahan aku turunkan wajahku, sebelum bibirku mengecup kepala Ragnir, aku kecup juga lehernya dengan lembut. Sungguh terasa p4n4s serta wangi di bibir dan hidungku. Kemudian aku turunkan bibirku ke sampingnya, mengecup ur4t-ur4t Ragnir yang timbul, sambil tanganku dengan lembutnya terus men9ur_utnya keatas dan kebawah.
Lidahku kemudian mulai kujulurkan untuk menikmati eskrim Ragnir itu sebelum ku masukkan kedalam mulut dan menikmati rasa nikmat itu dengan puas didalamnya. Mataku membulat melihat kearah mata Raven yang seolah masih tidak percaya dengan kelakuanku, us_tad_zahnya sendiri, sekaligus pacarnya yang berjilbab lebar kini tengah berlutut dihadapannya dengan mulut dipenuhi eskrim Ragnir miliknya.
Mungkin juga dia baru pertama kali ini merasakan diamana aku melakukannya dengan penuh perasaan, sebab biasanya kami kalau melakukan kegiatan makan eskrim ini lebih terkesan buru-buru untuk menuntaskan has_rat kita masing-masing. Bukan tanpa alasan aku melakukan ini, aku melakukan ini sebab aku ingin memberikan pengalaman indah padanya sebelum dia nanti pergi kul_iah ke Jogja dan meninggalkanku. Aku ingin membuatnya merasa rindu padaku.
Dengan lembut, aku mulai menggerakkan k3p4laku ke atas dan kebawah, memasukkan dan mengeluarkan eskrim Ragnir miliknya dari mulutku berulang kali, berharap nantinya dia benar-benar tak bisa melupakan kenikmatan ini.
"Aahh... ustadzah Syffa... *njing enak banget... ah..." aku biarkan saja dia berkata kotor seperti itu kali ini, aku mau dia mendapatkan nikmat lebih di eskrim miliknya.
Perlahan aku mengeluarkan eskrim Ragnir itu, aku jilat sedikit wadah krimnya yang di bagian bawah berbentuk dua bola, tanganku masih terus memegang dan menjalankan tugasnya dengan lembut. Aku suka melihat wajah Raven yang ber_naf_su seperti itu. Kenapa? Jujur saja, aku tidak tahu. Mungkin saja karena aku mencintainya, atau mungkin ada sesuatu yang lain.
Aku tersenyum nakal padanya yang masih tidak percaya padaku saat ini sebelum aku memasukkan tanganku ke bawah jilbab lebarku. Sebelumnya, aku sengaja memilih jubah yang resletingnya terdapat di depan, dari atas dada hingga ke tengah dadaku, menurutku jubah itu sangat simpel digunakan sebab aku tak perlu repot-repot melepaskan k4nc1ng lagi.
Kutarik turun resleting itu, lalu aku keluarkan kedua buah persikku, masih tertutup jilbab panjangku yang lebar. Aku menggigit bibir bawahku sebelum menundukkan badanku, aku masukkan Ragnir yang gagah itu ke bawah jilbab lebarku.
"Emhhh... ustadzah... cookkk... enak banget buah persik ustadzah yang teksturnya empuk dan kenyal seperti squishy itu... ahh..." 3r4ngnya keenakan menikmati sensasi rasa buah persikku.
Tahu apa yang akan terjadi? Perlahan aku jepitkan Ragnir miliknya ke celah buah persik kembarku. Aku r3m45 gunung itu perlahan dibawah jilbab, sebelum mulai menggerakkan buah persikku pada Ragnir keatas dan kebawah. Aku tersenyum nakal dengan menggigit bibir bawahku disertai d3s4h4n-d3s4h4n kecil yang keluar dari mulutku.
"umm... Raven suka seperti ini? Raven suka kalau ustadzah jepit Ragnir yang kuat ini di gunung seperti ini?" tanyaku dengan nada manja.
Dia mengangguk, "Aahhh... sangat suka ustadzah... Anj*ng... nikmat sekali..." jawabnya.
Kuremas buah persikku semauku, dan sesekali aku pukul-pukulkan kecil pada Ragnir milik Raven, memberikan nikmat lebih padanya.
Raven memegang bed cover erat-erat, matanya menatapku penuh n4f5u dengan kedua pipinya yang bersemu merah. Cahaya remang-remang kamar hotel ini juga menambah nuansa ke1nt1m4n kami. Aku dapat merasakan Ragnir miliknya yang panas mulai b3rd3nyut di celah buah persikku yang bulat dan besar serta sedikit lebih kencang dari biasanya. Nafasnya dan nafasku kian semakin cepat, aku cepatkan lagi tempo gerakan buah persikku itu, disertai jemari lentikku yang memel1nt1r-l1nt1r gemas ujung buah persikku yang semakin keras.
"Ustadzah... aku ingin... mengg3s3kkan Ragnir ke belakang ustadzah... boleh?" tanyanya.
Mataku membulat sedikit sebelum wajahku lebih hangat dan memerah karena mendengarnya. Perlahan aku mengangguk, "Boleh, kamu mau melakukan... yang seperti apa?" tanyaku, seoalh aku lupa kalau dibawah sana aku tak memakai apa-apa.
"Em... ustadzah berdiri," katanya.
Aku mengangguk sebelum mendayung sedikit lagi, lalu aku menarik Ragnir dari celah buah persikku dan keluar dari jilbabku, menolak badanku untuk berdiri. Terasa jubah ku yang longgar karena resletingnya yang ku buka seolah ingin lepas, namun segera ku rapikan lagi. Raven kemudian bangun dari duduknya, kedua tangannya kemudian memegang kedua sisi pinggangku, mata kami bertemu, aku merasa sedikit malu saat menatapnya.
perlahan, Raven memutarkan diriku yang kini menghadap meja rias kecil yang ada di kamar hotel tempatku itu. Aku sengaja sedikit m3nun991n9, menonjolkan bentuk p4nt4tku padanya. Tidak menunggu lama, sebelum meletakkan Ragnirnya itu ke celah b0k0n9ku yang berlapis jubah, aku dapat merasakan kerasnya dan padatnya Ragnir miliknya itu kini berada di celah b0k0n9ku.
"Ahh... ustadzah..." 3r4n9nya.
Perlahan, dia mulai bergerak, men993s3kkan Ragnirnya keatas dan kebawah, membenamkan sang Ragnir ke celah d4g1n9 p4nt4tku yang berlapiskan jubah. Dia juga perlahan tangannya mulai naik ke pinggang sesaat, lalu naik lagi dan menggapai buah persikku di luar jilbab, dia m3r3m4snya perlahan sambil terus m3ng93s3kkan Ragnir miliknya.
"Emmmhh... Raveennn..." d3s4hku. Terasa nikmat dir3m4s dan di g3s3k seperti itu.
Aku melihat pantulan diriku dan dirinya di cermin rias kecil itu. Dimana badan kami berdua seolah m3ny4tu, dimana Raven seolah ikut sedikit nun991ng di atas tu_bu_hku, melihat bagaimana tangannya dari arah belakang tengah asik m3r3mas-r3mas buah persikku dari luar jilbab, membuatku semakin b3rn4f5u.
Dapat ku rasakan dia mempercepat gerakan sang Ragnir di belakang sana, serta mulai merasakan juga napasnya di samping leherku meski aku masih memakai jilbab panjang dan lebar ini. 3r4nganku dan dirinya juga semakin lama semakin cepat dan kencang, dan kami tahu jika kami berdua mau mendapatkan hal yang lebih dari yang biasanya kami dapatkan bersama.
Mata kami berdua bertemu di cermin, dia tersenyum padaku, akupun sama, ekspresi kami berdua juga seolah sangat b1n4l saat ini. Perlahan, tangannya ia lepaskan dari buah persikku menuju ke p4ha. Perlahan tapi pasti, dia mulai menarik jubahku sampai keatas. Seinchi demi seinchi jubahku mulai terangkat, memamerkan kakiku, dan aku dapat melihat matanya sedikit membulat kala melihatku tak memakai apa-apa yang menutupi kakiku kali ini.
Tangannya terus mengangkat jubahku keatas, hingga akhirnya melewati b0k0ngku yang bulat dan tanpa ada kain penghalang apapun, sementara bagian depanku masih tertutupi c3l4h p4h4ku. Aku menggigit bibir bawahku karena malu.
"Oh... lembut sekali kulit ustadzah... ahhh..." ucapnya, masih diposisi yang sama. Dapat kulihat karena mungkin ini s3ns4si pertama untuknya dan untukku, dia memejamkan matanya di pundakku. Aku sadar betul melakukan ini, aku juga merasakan bagaimana p4n4snya Ragnir miliknya, dan mungkin dia juga merasakan sama sepertiku, bagaimana p4n4snya celah p4nt4tku itu.
"Emmmhh..." d3s4hku pelan.
Perlahan, dia men99e5ekkan kembali Ragnirnya, kali ini tanpa adanya penghalang, sk1n to sk1n. Dig3s3kkannya kedepan dan belakang, bisa kurasakan bagaimana k3r4snya Ragnir miliknya disana, bahkan ur4t-ur4tnya yang ber9es3kkan langsung dengan c3lah kulit p4nt4tku. Aku mulai memegang meja rias kecil didepanku ini sebagai tolakan, karena n4f5uku yang semakin membuncah ini, lututku mulai merasa lemas, seolah kakiku mulai tak memiliki tenaga untuk menopang diriku.
"Eemmmmhhh... Raven... Raven suka ya dengan rasa disana? Raven suka ya bagaimana s3ns4s1 hangat c3lah p4nt4t ustadzah?" tanyaku yang semakin tak bisa mengontrolnya.
Raven hanya mengangguk, tangannya terus m3r3mas salah satu p4nt4tku, sementara tangan yang satunya lagi memegang p1ngg4ngku beserta jubahku yang ditariknya tadi.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!