Udara sore di kontrakan terasa sejuk dan tenang. Sinar matahari sore menyelinap masuk melalui jendela kaca, menciptakan suasana hangat dan nyaman. Aroma masakan yang sedang aku masak menyeruak di udara, menambah kehangatan suasana di kontrakan ini. Aku berdiri di depan kompor, memutar kenop kompor dengan keahlian yang sudah familiar. Seolah aku sedang menciptakan suasana hangat bagi teman seperjuanganku yang akan segera pulang dari kerja.
Beberapa bulan yang lalu, Rani berhasil meraih mimpinya. Setelah lulus kuliah, ia langsung diterima di perusahaan besar yang sudah lama ia idamkan. Aku sangat senang mendengar kabar itu. Aku tahu betapa kerasnya Rani berusaha untuk mencapai mimpi itu. Rani selalu bersemangat dan tekun dalam belajar, dan akhirnya usaha kerasnya itu membuahkan hasil.
"Rani benar-benar hebat!" gumamku, sambil menaruh sayuran ke dalam panci. "Dia bisa langsung bekerja di perusahaan besar setelah lulus kuliah."
Beberapa saat kemudian, pintu kontrakan terbuka dan mengungkapkan sosok Rani yang sedang menenteng tas kerjanya. Wajahnya terlihat lelah, tetapi senyumnya tetap terpancar cerah. Rani meletakkan tasnya di sofa ruang tengah dan menatapku yang masih sibuk memasak.
"Capek, Ran?" tanyaku, suaraku lembut menyapa Rani.
"Capek banget," jawab Rani sambil menghela napas. Ia kemudian berjalan menuju meja pendek ruang tengah dan duduk di kursi.
Aku mengambil piring dan meletakkan makanan yang baru aku masak di meja. "Makan dulu, Ran. Aku sudah lapar. Makanannya sudah mau dingin nih."
"Terima kasih, Fa. Kamu baik banget," kata Rani sambil tersenyum. Ia kemudian menyeruput sup yang aku masak dengan lahap.
Setelah selesai makan dan membereskan semuanya, Rani masih belum beranjak dari kursinya. Ia masih terlihat lelah dan menyeruput teh hangat yang aku siapkan.
"Jadi, ada kabar apa nih hari ini?" tanya Rani, suaranya agak lemah.
Aku terdiam sejenak, mencoba untuk mengatasi perasaan ku yang masih bercampur aduk. Aku merasa berat untuk menceritakan tentang pertemuan ku dengan Raven dan keputusannya untuk kuliah di Jogja. Tapi aku tahu aku harus menceritakannya pada Rani.
"Aku ketemu Raven tadi," kataku, suaraku bergetar sedikit.
Rani mengerutkan keningnya, penasaran. "Ketemu di mana? Di sekolah?"
"Iya, di ruang konseling," jawabku, "Dia... dia akan pergi jauh untuk kuliah."
Rani mengangkat alisnya. "Jauh? Di sini kan banyak universitas, kenapa harus jauh-jauh?"
"Sebenarnya, dia ingin kuliah di sini saja. Dia nggak mau jauh dariku." kataku, suaraku sedikit bergetar. "Dia akan kuliah di Jogja."
Rani menunduk, memahami rasa sedihku. "Kenapa harus ke Jogja?"
"Karena ayahnya yang minta," jawabku, suaraku terbata, "Dia bilang Jogja punya universitas yang bagus untuk jurusan Raven."
Aku menunduk, berusaha untuk menahan tangis. Aku merasa sangat sedih dan takut. Aku tak pernah membayangkan akan berpisah dengan Raven untuk waktu yang lama.
Rani meletakkan cangkir tehnya ke meja, tangannya kemudian memegang tanganku, "Fa, kamu jangan sedih. Raven pasti akan baik-baik saja. Dan dia pasti akan selalu mencintai kamu."
"Tapi aku takut, Ran," kataku, "Aku tak pernah merasakan hubungan jarak jauh. Aku takut dia akan lupa padaku. Kamu tahu sendiri kan ini cinta pertamaku?"
Rani tersenyum lembut, "Fa, kamu jangan berpikir negatif begitu. Raven sayang banget sama kamu. Dia pasti akan selalu mengingatmu, aku yakin itu setelah mengenalnya."
"Iya, sih. Tapi aku tetap takut," jawabku, "Aku takut..."
Rani menenangkan ku dengan lembut, "Fa, kamu harus percaya padanya. Raven akan selalu ada untukmu."
"Terima kasih, Ran," kataku, suaraku sedikit lebih tenang. "Aku tahu kamu benar."
"Oh ya, ngomong-ngomong soal Raven," Rani mengubah topik percakapan. "Kamu sudah bertanya kepadanya soal pria misterius yang kamu lihat di pernikahan Lia?"
Aku menangguk, sedikit gugup. "Tadi sudah kutanyakan, tapi sepertinya Hendra itu bukan dia, deh."
"Kenapa kamu merasa begitu?" tanya Rani.
"Aku juga kurang fokus, sih. Tadi aku tidak menanyakannya secara detail karena aku tidak terlalu fokus dan fokusku tertuju pada rapat untuk persiapan tour," jelasku.
Padahal aku tidak bertanya secara detail karena aku terlalu larut ketika melakukan itu bersama Raven tadi, karena tingginya nafsuku saat melepas rindu dengannya, aku sampai tak bisa mengontrol pertanyaanku dengan jernih.
"Oh ya, ngomong-ngomong soal tour," Rani kembali membuka suara, "Raven ikut tour kan?"
Aku mengangguk, "Iya, dia ikut." Rasa lega memenuhi dadaku. Meskipun sedih akan perpisahan, setidaknya aku masih bisa menghabiskan waktu bersama Raven sebelum dia pergi.
"Baguslah kalau begitu," kata Rani. "Nah, kita bahas persiapan tournya, yuk! Apa aja yang sudah kamu siapkan?"
"Aku sudah bikin daftar barang-barang yang akan kubawa," jawabku. "Pakaian, perlengkapan shalat, perlengkapan mandi, obat-obatan, dan beberapa buku untuk dibaca di perjalanan."
Rani mengangguk, "Oke, itu sudah bagus. Tapi, jangan lupa bawa juga power bank, charger, dan mungkin beberapa baju tambahan, siapa tahu nanti ada acara dadakan." katanya, "Dan jangan lupa abadikan momen-momen indah selama di Bali, ya! Kirim foto-fotonya ke aku, aku nggak sabar lihat foto kamu dan Raven berjejer!"
"Benar juga," kataku sambil menambahkan beberapa barang ke dalam daftar bawaanku. "Aku juga perlu menambahkan beberapa perlengkapan P3K, dan mungkin beberapa camilan untuk perjalanan."
"Ngomong-ngomong soal camilan," Rani menyela, "Bagaimana kalau kamu ajak Raven untuk membeli makanan dan camilan untuk perjalanan nanti? Sekalian menghabiskan waktu bersama sebelum perpisahan. Kan sayang banget kalau momen-momen kayak gitu dilewatkan."
Aku tersenyum, ide Rani memang bagus. "Benar juga, Ran. Sekalian aku bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama sebelum dia pergi. Terima kasih atas sarannya."
"Sama-sama, Fa," jawab Rani. "Aku cuma ingin kalian bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama sebelum berpisah. Meskipun aku sendiri belum pernah merasakan LDR, aku tahu betapa pentingnya menghabiskan waktu bersama sebelum terpisah jarak. Kamu harus menikmati waktu yang tersisa bersama Raven."
Aku mengangguk, merasa sedikit lebih tenang. Rani selalu bisa membuatku merasa lebih baik meski Lia tak bersama kami lagi. "Terima kasih, Ran. Kamu selalu tahu cara menenangkanku."
Rani tersenyum, "Sama-sama, Fa. Sekarang, aku mau bersih-bersih dulu, nih. Capek banget hari ini."
Rani pun beranjak dari kursinya untuk membersihkan diri dan beristirahat setelah seharian bekerja keras. Aku menatapnya, merasa bersyukur memiliki sahabat sebaik Rani. Aku akan segera berangkat ke Bali bersama murid-muridku, dan aku akan selalu mengingat dukungan Rani. Dan aku akan mengirimkan banyak foto kepadanya.
Aku beranjak dari ruang utama, meninggalkan Rani yang masih sibuk membersihkan diri. Sesampainya di kamarku, aku langsung mulai menyiapkan barang-barang tambahan yang telah Rani sarankan: power bank, charger tambahan, dan beberapa pakaian. Setelah semua tertata rapi, aku menunaikan shalat. Shalat membuatku merasa lebih tenang dan damai, menenangkan hatiku yang masih dipenuhi rasa cemas akan perpisahan dengan Raven. Aku siap menghadapi hari esok dan perjalanan ke Bali nanti.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!