Chapter 6 of 23

Lima

Fat And Fabulous1,256 words~7 min read

Mobil yang dibawa Firman malam itu adalah Kijang Innova warna hitam yang tampak masih great.  Aku mengernyit memberikan tatapan menuduh.  "Lo nyolong punya siapa nih. Masih kinclong gini. Dari showroom ya? "

Dia mencibir. "Lo mah. Ditolongin juga responnya gitu. Nyenengin dikit kek."

"Oh, lo nggak ikhlas nih ceritanya ngajakin gue?"

"Kok jadi ribut sih?" dia garuk- garuk kepala. Rambutnya yang gondrong itu kali ini diikat jadi satu di belakang kepala. Jadinya lebih rapi.

Aku mengangkat bahu. Lalu naik ke dalam mobil.

***

Setiap pergi bareng Firman, aku nggak  perlu mengkhawatirkan  apapun. Firman adalah tipe cowok yang easy going. Diajakin ke mana aja jarang komentar. Nggak  pernah cerewet, apalagi ngeluh  kalau aku keluar- masuk konter kosmetik, atau pernak- pernik cantik sampai kaki gempor.

Meskipun pada akhirnya nggak  satupun barang yang kubeli, dan kami selalu berakhir di Pepper Lunch. Sama seperti lima tahun yang lalu.

"Kedoyanan elo tetep di sini, ya?"

"Habis cuma di sini yang cocok dan sudah pasti enak." Aku mengangkat bahu. Pepper Lunch selalu jadi pilihan saat aku mati gaya atau buntu nggak tahu harus makan apa, selain McD sih.

"Lo sendiri nggak sibuk ya?"

Firman hanya garuk- garuk kepala sambil ikut ngantri makanan. "Udah tadi sibuknya kok. Sekarang lagi gabut aja." Ujarnya dengan nada bosan.

"Gabut?" ulangku heran. "kayak lo masih sempet  gabut aja. Kebanyakan duit kali lo,"

"Usaha gue nggak segede itu kali. Cuma percetakan sama cuci mobil motor. Biasa aja. Kalau lagi rame ya sibuk. Sekarang ini kan lagi gini- gini aja. Rencananya gue mau melihara kambing apa domba gitu. " Katanya dengan tatapan menerawang.

Sementara aku sudah sibuk mengaduk- aduk nasi black pepper yang hampir aja gosong.

"Lo nggak bisa lihat duit nganggur ya?"

Firman cuma garuk- garuk kepala dengan muka memerah. "Katanya juga ada bisnis pakaian?"

Dia mengangguk. Aku mulai suapan pertama. " Ibu tuh gue minta resign dari konveksi. Sekarang jahit buat toko pakaian. Bukan cuma gue yang punya modal. Join sama teman SMA gue sih." Firman mulai memindahkan dagingnya ke hot plate ku. Kini jumlah daging di piringku jauh lebih banyak ketimbang nasinya sendiri.

Meskipun bentuk tubuhku sudah sedemikian besarnya, Firman jarang banget berkomentar tentang menyuruhku supaya diet atau apa. "Gue nggak terlalu suka daging," ujarnya ketika kepalaku menengadah dan menatap ke arahnya dengan penuh tanya.

Lagi asyik makan terdengar suara seruan yang bikin aku kesal. Sampai hampir keselek sisa daging. Untung aja Firman buru- buru nyodorin minuman.

"Mbak Fen!" wangi parfum beraroma manis langsung menusuk indera penciumanku. "Nggak nyangka ketemu di sini!" seru suara mendayu yang dibuat- buat itu. Aku langsung mendongak salah tingkah.

Sepasang penghianat kini berdiri di hadapanku. Dessy dalam balutan dress biru kobalt menggandeng mesra lengan Erwan yang juga masih pakai kemeja dan celana hitam. Pakaian yang biasanya dikenakan saat dia kerja.

"Iya nih. Laper." Jawabku asal. Dalam sekejap, aku  merasa nggak enak. Kakiku bergerak- gerak di bawah meja. "Eh, ada Bang Firman juga. Kok lama nggak kelihatan, Bang. " Aku melengos. Dessy mulai beraksi.

Tapi Firman cuma nyengir bego. "Iya nih. Sibuk kerja. Pacar lo?" tanya Firman balik.

Dia memang nggak tahu kok kalau cowok yang lagi digandeng Dessy itu delapan bulan yang lalu masih jadi pacarku. Aku sendiri malas ngasih tahu.

"Iya. Kita udah mau nikah. " Ujar gadis itu riang banget. Seolah- olah mau menabur garam ke atas lukaku yang masih belum sembuh benar. Si Erwan sih cuma berdiri canggung dan salah tingkah.

"Nggak mau gabung aja? "

Dessy celingukan. Tatapannya tertuju padaku kemudian kembali ke Firman. "Emang boleh? Nggak ganggu kalian kah?"

"Boleh aja sih."

"Kita kan ada janji sama ibu, Des. " Bisik Erwan gugup di samping Dessy.

Gadis itu berlagak terkejut. Menutupi mulutnya yang tipis dan berseru dibuat- buat, "Astaga, Sayang. Aku lupa!" Lalu dia kembali menatap Firman dengan tatapan menyesal. Yang juga dibuat- buat.

Entah karena ini aku yang lagi sensi atau apa, tapi bagiku gerak- gerik, kata-kata, dan senyuman yang keluar dari bibir sepupuku itu palsu. Semuanya palsu.

"Sori nih, Bang. Nggak bisa. Lain kali deh kalau ketemu. Aku pasti senang banget bisa ngobrol sama Bang Firman!" katanya kelewat ceria. Hingga kesannya centil banget. Aku langsung melengos. Muak.

Dan si Erwan yang cuma diem bae di samping calon istrinya itu seperti mendadak kena penyakit bisu. Dia bahkan nggak mau menyapaku.

"Eh Mbak Fen, jangan lupa segera jahit kebayanya, ya. Buat bridesmaid nikahanku tuh. Kata Fira Mbak Fen belum jahit. Padahal acaranya dua bulan lagi, lho!"

"Masih lama,"

"Ih, dua bulan sih nggak lama, Mbak!" sergahnya kayak nggak terima dengan jawabanku. "Atau Mbak Fen masih belum ikhlas kalau akhirnya Mas Erwan lebih milih aku ketimbang Mbak?"

***

"Beneran lo mau balik? Nggak mau beli apa dulu gitu. Susu yang asem itu? Krispy Kreme?" Firman terus nyerocos, aku terus melangkah pasti ke arah parkiran mobil. Pengin balik aja.

Dasar Dessy sialan! Apa sih maksudnya ngomong gitu di hadapan Firman? Pakai acara sok- sok nanya segala! Dan si Erwan, demi Tuhan! Nggak bisa ya dia jagain mulut bawel calon bininya! Sebel banget. Pengin deh rasanya gue sumpel pakai kaus kaki bekas itu mulut si Dessy!

"Fen,"

Aku berhenti mendadak. "Kenapa jadi lo yang bawel sih? Gue mau balik aja. Ngantuk tahu. " Kataku sewot.

Sebenarnya nggak enak juga. Niat si Firman ngajakin aku ke sini kan biar aku happy  gitu. Bukan malah uring- uringan kaya begini.

"Habis lo diam aja."

"Emang gue mesti ngomong melulu?"

"Ya enggak gitu, Fen..."

"Terus apa? Oh, lo pasti kepo sama omongan si Dessy tadi?"

Firman pasang tampang bego. "Asal lo tahu aja nih, ya!" ujarku gemas, "cowok yang digandeng Dessy tadi itu dulunya pacar gue. Tapi dia akhirnya milih Dessy cuma karena merasa mencintai gue terlalu berat!" semburku tanpa ampun.

Setelah itu aku diam. Kami hampir sampai di parkiran.

Ingatanku kembali melayang pada momen- momen itu. Ketika aku akhirnya memergoki mereka jalan bareng di Mal, dan nonton bioskop berduaan di CGV.

"Semua ini tuh nggak masuk akal, Fen," ujar Erwan. Waktu itu kami nggak sengaja ketemu di gerai Cha Time. Dia dengan mesra menggandeng Dessy. Nggak cuma itu, dia tampak percaya diri mengelus mesra rambut perempuan kuntilanak itu di depan umum.

Saat itu berat badanku sudah berada di angka 82 kilogram. Dan kata- kata Erwan membuatku merasa jelek. "Apa kamu nggak lihat, Dessy lebih segala- galanya dari kamu. Dia perhatian sama aku, Fen, dia jaga dirinya buat aku. Manjain aku. Nggak kaya kamu," matanya menyapu ke seluruh tubuhku yang membengkak bagai gajah di kebun binatang.

"Tapi katamu dulu nggak keberatan kalau aku gendut?!" tuntutku. "Kenapa kamu jadi gampang banget berpaling cuma karena ada yang lebih langsing? Dan kenapa mesti sepupuku, Wan? Kenapa mesti Dessy," saat itu tanganku mulai bergerak-gerak nggak terkendali. Begitupun dengan perasaanku.

Hubungan yang sudah terjalin selama tiga tahun kenapa harus dirusak dalam sekejap?

Aku malah mendapatkan tatapan iba dari Erwan. "Aku memang kasih kamu kebebasan. Tapi menurutku kamu kelewatan, Fen. Kalau aku ngizinin kamu jadi begini," tangannya melambai ke arah tubuhku yang kala itu sudah berdiri gemetar di hadapannya. Akibat perkataannya yang sama sekali nggak masuk akal itu. "Aku berharapnya kamu juga mikirin perasaanku. Apa menurutmu aku pantas jalan sama perempuan yang nggak menghargai dirinya sendiri?"

Saat itu aku nggak mengerti. Bahwa kata- kata yang diluncurkan oleh Erwan padaku adalah dalihnya untuk membuatku menerima keputusannya tentang hubungan kami.

Dasar kacrut!

"Fen,"

"Apa?!"

"Udah nyampe nih."

Aku mengedarkan pandangan ke sekitar. Di hadapanku memang rumah bercat kuning lemon berlantai dua itu tampak menunggu. "Oh, thanks."

Aku menegakkan punggung. Membuka pintu mobil dan berusaha untuk turun dari mobil. Kaki kananku mendadak kram. Aku mengernyit kesakitan dan menoleh ke samping. Rupanya Firman sedang melihatku dengan tatapan was- was. "Mau gue bantuin?"

***

Contents
Contents