Vera Sanjaya adalah perempuan berusia pertengahan tigapuluhan dengan tubuh mungil dan ramping. Khas seorang perempuan yang banyak menghabiskan waktunya di kelas gym dan zumba.
Mukanya cerah, pembawaannya ramah, bahkan cenderung ceriwis. Bodinya yang ramping, sempat membuatku merasa insecure. Terlebih kulitnya yang bening tanpa minyak membuatku meringis.
Semenjak bobotku terus ke naik, kulitku seperti ladang penghasil minyak. Badan juga jadi cepat bau karena produksi keringat lebih melimpah ketimbang produksi ASI para ibu- ibu. Hal itu yang membuatku kadang agak segan kalau ada meeting full team di kantor.
Di saat rekan- rekan kerjaku pada wangi semua, hanya aku yang bau asem. Kalau kusemprot parfum berlebihan, yang ada baunya malah minta ampun anehnya. Bikin mabok!
"Maaf, nih Mbak Fen," ujar Vera, setelah memindai tubuhku dengan tatapan seperti seorang dokter bedah yang menemukan pasien potensial,  membuatku sempat merasa ngeri dengan tatapannya yang setajam laser itu.
Kami sudah duduk di tempat ini selama hampir lima belas menit. Obrolan tentang konsep pesta pernikahan sudah selesai. Mulai dari tempat acara, katering, MUA, dekorasi, band, suvenir, gaun, hiburan, MC, hingga undangan.
Aku berharapnya setelah ini bisa langsung cabut ke mana kek, asal cepat- cepat pergi dari orang ini. Aku benar- benar merasa sangat terancam kalau melihat caranya memandangku. "Kalau boleh nanya bobot Mbak Fenita itu berapa ya?"
Aku melongo mendapatkan pertanyaan seperti itu. Bukankah itu diluar konteks? Apakah Vera ini semacam instruktur gym bersertifikat khusus yang menangani lost weight? Sehingga nggak cukup hanya aku yang memprospek dia. Malah sekarang aku diprospek balik.
Dan tujuannya minta ketemuan di McD itu apa ya? Mau ngeledek gitu?
"Yah, kayaknya terakhir saya timbang baru sembilan puluh tujuh," jawabku agak malas, sambil garuk- garuk kepala. Mungkin sekarang ini penampakanku sudah lusuh banget. Sebab, kurasakan kulit kepalaku juga mulai berminyak. Mudah- mudahan saja ketombeku nggak berguguran seperti salju bulan Desember di Inggris.
"Wah," ujarnya seraya memasang mimik serius di wajahnya yang kalau kuamat- amati agak mirip kucing itu.
"Betah banget ya? Apa nggak kesusahan waktu geraknya, Mbak? Dulu saya aja baru 80 rasanya udah kayak bola. Nggak bisa jalan. Bisanya menggelinding!"
Aku berjengit. Jangankan jalan, napas aja susah. Tapi kebiasaan ngemil sambil nonton drakor sama Netflix itu susah banget buat ditinggalin. Apalagi kalau serialnya lagi seru. Pokoknya, yang sedih- sedih lewat deh!
Buktinya aku saja bisa lupain si buaya satu itu. Asal jangan disengaja baca mantra kuchiyose no jutsu, si buaya buntung  sialan itu nggak bakalan muncul tiba- tiba juga.
"Gimana kalau Mbak Fenita gabung sama tim saya. Sanggar senam Havera. Dijamin bisa turun delapan kilo dalam satu bulan!"
Aku mengernyit mendengar ini. Setengahnya juga tersinggung banget.
Oke, orang- orang terdekatku boleh saja bilang kalau aku ini gemuk, gembrot, gendut, atau kasur air, pesut Mahakam. Terserah. Toh yang panggil aku dengan sebutan- sebutan itu paling orang- orang yang kenal dekat sama aku. Sahabatku si Disa saja nggak pernah lho panggil aku begitu.
Ini yang baru ketemu beberapa kali saja sudah seenaknya ngomong begitu sih. Untung aku orangnya easy going gitu. Kalau aku gampang ngambek gimana dong?
Biarpun setiap Minggu jarum timbangan selalu geser ke kanan melulu, aku nggak pernah putus asa. Apalagi sakit hati!
Tapi yang ini? Biarpun cara Vera mengatakannya bisa dibilang cukup sopan, tapi hatiku rasanya kok cekit- cekit ya. Semacam ditusuk- tusuk jarum gitu ya?
Aku nggak tahu deh mukaku kayak apa sekarang. Yang jelas, kupingku sekarang rasanya panas mendengar penawaran Vera barusan.
Apa orang gendut memang sesensitif ini ya?
"Tenang saja," ujar Vera, seraya mendekatkan kepalanya ke arahku. Seolah- olah kami sedang melakukan persekongkolan jahat. Merencanakan penculikan atau pembunuhan. "Gratis tiga bulan pertama buat Mbak Fenita,"
Ya ampun. Orang ini masih tega mau lanjutin ngomongin soal senam? Aku saja nggak berminat lho. Tapi demi kelancaran urusan--- lagipula Vera ini adalah calon klienku--- kukedipkan mata dengan tatapan penuh minat. "Emang seharusnya bayar berapa, Mbak?"
"Oh, jangan panggil saya Mbak. Cukup Vera saja. Saya mudah akrab dengan orang baru. Lagipula, sepertinya kita seumuran kan?"
Aku hanya bisa menelan ludah.
Memangnya aku kelihatan setua itu ya?
***
Setelah urusan dengan Vera kelar dengan damai, karena aku berjanji akan mendatangi sanggar aerobik dan zumba yang dipimpin oleh wanita itu, aku memutuskan untuk jalan- jalan sejenak mengitari Mal.
Belakangan, nggak banyak butik yang menyediakan ukuran baju yang plus size. Sementara baju- bajuku mulai kesempitan. Beli di marketplace, seringnya malah berakhir dengan menyedihkan.
Entah model nggak sesuai, atau nggak cocok dengan bentuk tubuhku.
Ketika melewati sebuah toko olahraga, nggak sengaja aku menabrak seseorang karena keasyikan melamun. "Eh, sorry, sorry!" Aku segera berjongkok demi membantu orang yang nggak sengaja kutabrak itu untuk memunguti barang- barangnya yang berserakan di atas lantai. Sebuah sneakers warna putih yang cantik keluar dari goodie bag cokelat berlogo brand sepatu terkenal.
Kutengadahkan kepala. Seorang pria jangkung yang mengenakan jaket bomber dan berkacamata menatapku balik dengan alis berkerut. Kuangsurkan goodie bag berisi belanjaannya. Tapi pria itu tetap diam saja. "Udah nggak ada yang jatuh kan?" tanyaku. Soalnya dia tetap diam dalam posisi yang sama.
Dan sekarang aku punya problem lain yang lebih serius dan urgent. Aku kesulitan berdiri. Lututku beradu dengan lantai Mal yang berkilat, dan aku yakin, sebentar lagi celanaku pasti robek di bagian lutut.
Saat aku berusaha, bersusah payah untuk menjejakkan kaki dan berdiri, hal yang lebih memalukan kemudian terjadi. Membuatku benar- benar kehilangan muka di depan cowok ganteng itu.
"Kraaaaakkkk!"
Rupanya bukan bagian lutut yang menyerah pada aksiku untuk berusaha berdiri. Melainkan bagian selangkangan celanaku. Mungkin mukaku mestinya ditaruh di dalam tote bag yang kubawa.
***
"Kamu?"
"Kamu yang setiap hari neror Iwan kan?" tanya pria ganteng berkaca mata yang kini duduk di hadapanku itu.
Dia akhirnya meminjamkan jaketnya padaku. Untuk menutupi bagian selakanganku yang robek.
Kamu duduk berhadapan di kantin Mal itu. Dia memesan es jeruk. Aku pun sama. Kantin Mal itu terlihat tak kalah ramai dari food hall atau food court di dalam Mal.
Banyak orang yang makan di sini juga. Dan kelihatannya makan yang disajikan juga lumayan enak. Nggak kalah dengan yang di dalam.
Samar- samar hidungku menangkap harum ayam bakar dan soto sulung. Mataku berbinar- binar. Seperti menemukan surga.
Dan pria yang kini duduk di hadapanku itu menatapku dalam diam. Mengamatiku seolah- olah kelakuanku sangat menarik untuk ditelaah lebih lanjut.
"Jadi lo pemilik ayam geprek Jotos itu?" tanyaku ragu- ragu. Palingan dia setua Ferdi. Wajahnya bersih, berkarisma dan tentu saja ganteng banget. Siapa sih yang nggak kesengsem kalau sama yang begini modelnya? Udah ganteng, kelihatannya smart pula. Terus memikirkan orangnya ramah banget gitu lho.
Kayak nggak pandang bulu. Meskipun bentukanku kayak begini juga dia sepertinya nggak keberatan duduk di dekatku. Kalau orang lain sih sudah pasti belum tentu mau kan kelihatan lagi bareng aku. Apa lagi di tempat ramai begini.
Dia mengangguk- angguk.
"Tapi kok lo tahu kalau gue sering mampir ke tempat lo?"
"Gue emang pernah lihat lo, kok. Tapi mungkin lo belum pernah lihat gue sih. "
"Jadi lagi ngapain nih di sini?"
"Cari kado buat adek gue sih."
"Ulang tahun?"
"Nggak. Baru sembuh dari tipes aja sih. "
"Oh. Umur berapa?"
"Dua belas. Cewek. Dia minta sepatu olahraga tuh."
"Eh, dari tadi ngomong terus tapi belum kenalan, kan? Gue Alvin."
"Fenita. Gue kerja di Stardust,"
"Oh."
Pria itu mengangguk-angguk. Kemudian menunduk.
Satu hal yang membuatku agak heran. Sebenarnya apa pengaruh pertemuan ini bagiku? Selain untuk menyenangkanku?
Well, aku sih senang- senang saja. Alvin enak kok diajak ngobrol. Lagipula dia ganteng banget. Andai saja aku bisa menyembuhkan patah hatiku pada Erwan dengan cara menggaet cowok ini, pasti asyik banget kan?
Hmmmh, tapi apa mungkin sih pria seganteng dan kelihatan punya masa depan cerah begini punya pikiran buat naksir aku?
Tapi sekedar punya mimpi bukan masalah dong!
Aku tersenyum- senyum sendiri.
Mungkin ini awal yang bagus buatku. Daripada terus memikirkan Erwan yang jelas- jelas tukang selingkuh itu!
***