Chapter 23 of 23

Dua Puluh Dua

Fat And Fabulous1,135 words~6 min read

Kamarku yang berada di lantai dua, dekat dengan balkon yang biasanya menjadi tempat Ibu menjemur pakaian. Balkon itu lumayan luas dengan lantai keramik berwarna biru, atapnya yang terbuat dari baja ringan sama sekali nggak bisa menghalau panasnya sengatan matahari pada siang hari.

Kami, aku, kakak lelakiku dan kadang Fira serta teman-temannya suka nongkrong di balkon sambil ngerjain tugas . Sementara aku mager banget kadang. Malas beranjak dari kasur. Lebih suka rebahan sambil nontonin para suami online beradu akting dengan wanita-wanita cantik.

Tentu saja nggak sendirian. Selalu ada sekotak martabak Pecenongan, atau mie Aceh jalan Bangka, atau gultik blok M, bakso beranak mercon, seblak, atau mie instan.

Sekarang setelah zat-zat micin dan gula itu mengendap di tubuhku dan membuat kolestrol jahat dalam tubuhku naik, mau nggak mau aku harus melepaskan diri dari jerat mereka.

Sambil melamun di pagar balkon, mengamati jalanan kompleks padat penduduk, serta rumah-rumah tetanggaku yang anak perawannya lagi diapelin cowok naik Mobilio berwarna abu-abu. Aku nyengir sendiri. Mobilio menempati kasta terendah di bawah Honda Jazz,  untuk standar mobil cowok yang bakal dipilih oleh para tetanggaku .

Maksudnya ( ini berdasarkan fakta yang diungkap dan dibeberkan si tukang gosip bernama Safira Khairunnisa, alias adikku) para tetanggaku yang punya anak gadis yang cantik, biasanya memilih calon menantu yang mobilnya keren. Standarnya adalah Kijang Innova keluaran terbaru.

Alasannya apa? Tentu saja supaya pamor atau derajat keluarga mereka terangkat dengan memiliki menantu yang ke mana-mana naik mobil seharga 350 jutaan itu.

Memang agak nggak masuk akal bagi sebagian orang. Tapi menurut mereka hal itu sah-sah saja. Mereka telah melahirkan dan membesarkan seorang anak gadis yang cantik, tentu mereka ingin kalau anak gadisnya itu dipinang oleh orang yang mapan dan pantas.

Dan pantas menurut kriteria mereka adalah yang berpenampilan parlente, punya mobil bagus, dan bekerja di perusahaan yang bonafit .

Aku jadi ingat ketika awal-awal membawa Erwan ke rumah. Semua orang terpesona karena pacarku itu bekerja di tempat yang mentereng. Ada pula yang iri setengah mati dan mencoba untuk mengalihkan perhatiannya. Aku pikir dulu Erwan nggak akan menanggapi ulah para tetanggaku yang punya anak perawan. Namun nyatanya dia kecantol juga. Tidak lain dan tidak bukan adalah oleh sepupuku sendiri.

Entah apa motivasi Dessy mendekati Erwan. Padahal dia tahu bahwa lelaki itu adalah pacarku. Enteng saja buat dia melenggang sambil menggandeng pacarku. Lalu setelah Erwan mengatakan bahwa dia nggak bisa melanjutkan hubungan kami, Dessy malah dengan bangga memamerkan bahwa ia berhasil merebut Erwan dariku.

Waktu itu aku sedih. Tapi lebih dominan ke marah karena merasa dipecundangi. Aku nggak pernah merasa iri ataupun berkeinginan untuk merebut milik sepupuku. Akan tetapi dia sendiri nggak keberatan melakukannya padaku.

Mengingat peristiwa tersebut, kini dalam hati aku bertekad untuk serius menjalankan diet. Ditinggalkan oleh tunanganmu, lalu ditolak oleh lelaki yang kamu taksir, seharusnya cukup untuk melecut semangat agar menjadi lebih baik.

Maka dari itu, aku langsung balik kanan dan mencari ponselku di kamar. Sepertinya salah satu klienku pernah menawariku untuk member di sanggar senamnya atau apa. Itu bisa dicoba. Kalau berat badanku turun, siapa tahu keberuntungan akan menghampiriku. Meskipun aku nggak tahu apa hubungannya.

***

Vera langsung bergerak cepat untuk mengukur berat badanku. Alisnya berkerut, tapi menurutku seharusnya dia nggak perlu heran kalau bobotku sampai menginjak 106 kilogram.

Padahal aku sudah mengempiskan perut, tapi dasar timbangan memang nggak pernah bisa dibohongi. Sama seperti kalau datang ke dokter dan mengaku hanya pusing. Tapi dokter itu tahu kalau pusing itu lantaran kolesterol atau tekanan darah yang melonjak. Kemudian dokter pasti menuduh kita makan jeroan sapi, meski berbusa-busa mulut kita membantah, bahwa itu nggak benar, dokter nggak akan percaya.

"Kayaknya kamu harus mulai dari latihan dasar. Tiga kali seminggu kamu datang ke sini. Nanti habis itu aku akan hubungi teman aku yang punya gym buat latihan lebih lanjut. Dan sepertinya aku harus bikin menu diet buat kamu."

Tunggu, berapa kali dalam seminggu aku harus berolahraga?! Dan apa tadi? Menu diet? Ini namanya penyiksaan sih.

Setelah menggiringku ke kantor, dengan semena-mena tangan Vera bergerak lincah dengan bolpoin dan kertas. Dalam waktu kurang dari setengah jam aku mendapatkan hasil dari pemikiran Vera yang sangat jenius baginya tapi neraka buatku!

Alis dan dahiku otomatis berlomba-lomba untuk mengernyit horor. Dua butir telur dan susu rendah lemak untuk sarapan plus pepaya. Makan siang bebas. Makan malam hanya pisang, atau jus tanpa tambahan pemanis sama sekali.

"Kalau mau bikin jus enak, kamu bisa beli juicer yang biasanya dipakai sama tukang jual pressed juice di mal- mal itu. Soalnya kalau tiap hari kamu beli, ntar stress. Mahal itu. Mendingan uangnya buat beli bahan baku jus yang organik saja. Selain bikin berat badan kamu turun, itu juga bisa melancarkan pencernaan. Di situ aku sudah lampirkan tentang jus apa saja yang bisa kamu bikin sendiri di rumah."

Ada nanas, seledri, buah naga, lemon, broccoli ... sebelah alisku terangkat. Brokoli? Memang itu bisa dijus ya? Tomat, wortel, kiwi, markisa, pome, beri- berian. Wah, apa-apaan ini!

"Usahakan agar kamu jogging sore-sore dua kali seminggu."

Astaga. Aku mulai menyesali keputusanku untuk menyambangi sanggar senam Vera. Kukira dia cuma khusus melatih aerobik saja. Tapi ternyata dia juga punya bakat untuk menyiksa orang!

"Setiap Minggu sore ada kelas yoga di sini." Ujarnya lagi. "Kamu juga bisa join. Karena Yoga mungkin bisa mengalihkan pikiran kamu dari keinginan untuk makan secara membabi-buta. "

Brengsek!

Memangnya aku punya waktu sebanyak itu ya? Kayak jadi wedding planner itu kerjanya cuma duduk-duduk santai mengangkat telepon atau mengundang klien untuk duduk-duduk santai sambil ngobrol disuguhi teh.

Bukan seperti itu! Yang kulakukan selama ini lebih daripada itu. Meski punya tim, tapi jumlahnya juga terbatas. Otomatis saja aku harus turun tangan sendiri. Seperti yang kemarin kulakukan. Harus mendatangi tempat Firman dan mendiskusikan soal undangan pernikahan sepupuku yang menyebalkan itu.

Speak about the devil cousin, beberapa hari ini aku lihat postingan IG nya kayak yang mau bikin aku panas. Dia pamer cincin, makan malam di restoran bintang lima, ditraktir skincare sama Erwan di Sephora, lalu berpose dengan boneka beruang raksasa.

Belum lagi hasil dari foto-foto prewedding- nya yang mengambil lokasi di Bogor. Melihatnya aku hanya ingin mengasihani diri sendiri. Aku ditinggalkan dalam kondisi paling buruk. Gemuk. Kulit berminyak. Dan terancam terkena stroke usia dini.

"Ini memang sulit," suara serak-serak basah Vera kembali menyeretku ke masa kini. "Tapi kamu harus yakin, ini investasi yang bagus. Selain untuk kesehatan kamu, untuk menurunkan berat badan, berolahraga dengan rutin juga bisa membuat kulitmu sehat."

Aku tahu. Tapi rasanya untuk semua hal yang sudah dijabarkan di berlembar-lembar kertas itu, aku merasa bahwa mungkin harus memikirkan opsi yang lebih mudah. Misalnya, memakai sabuk sebesar Obi yang gunanya untuk mengecilkan perut dengan efek getar. Atau mau yang membuatku bangkrut dengan cepat plus bakal dikutuk jadi anak durhaka, karena opsi kedua ini sangat mahal sekali biayanya; liposuction. Sedot lemak atau apalah istilahnya itu.

Aku rasa prospek menjadi kurus ini sudah membuat salah satu organku menyusut. Yaitu otakku. Karena mendadak aku menjadi sangat pusing dan lemas dan berkunang-kunang.

***

Contents
Last Chapter
Contents
Next