Chapter 22 of 23

Dua Puluh Satu

Fat And Fabulous1,312 words~7 min read

Selama ini kupikir Alvin naksir aku. Karena aku juga sejujurnya naksir dia. Bayangkan saja, dia itu ganteng, manly, gagah, dewasa, serta mandiri. Itu tipeku banget. Dan dia juga perhatian sama aku. Tapi rupanya di tengah-tengah semuanya itu ada yang namanya plot twist.

Masalahnya aku nggak tahu kalau Disa juga dekat dengan Alvin. Entah kapan pendekatannya. Atau bagaimana prosesnya. Kepalaku rasanya macet untuk diajak berpikir dan menerka-nerka. Mungkin karena tersumpal lemak apa gimana. Yang jelas aku merasa kalah telak.

Disa cantik. Kulitnya putih mulus, tubuhnya langsing dan wangi. Ia berhijab. Kelihatan anggun dan elegan. Pantas kalau Alvin jadi tertarik padanya. Lain denganku. Tubuh yang kian lama kian membengkak ini adalah lahan penghasil minyak. Dan karena minyak itu aroma tubuhku jadi kurang sedap. Sementara timbangan terus bergeser ke kanan. Aku nggak sanggup membayangkan harus menurunkan bobot tubuh hingga ke berat ideal. Yang mana untuk tinggiku  seharusnya 60 kilogram sudah masuk kategori berisi.

Tapi ketika pagi ini aku bangun tidur, jarum timbangan sudah berada di angka 98 kilogram. 38 kilo harus kuhanguskan dari tubuhku. Jangankan 38, menurunkan 5 kilo saja rasanya minta ampun.

Karena tubuh yang sudah jadi seberat gajah Tingti ini, aku otomatis jadi semakin malas untuk bergerak. Juga malas olahraga. Tapi maunya makan enak.

Ya Tuhan, seandainya aku punya alat penyedot lemak instan. Kenapa buat langsung aja nggak bisa semudah buat jadi gendut. Misalnya saja kalau aku mau langsing, cukup nggak usah makan nasi selama tiga hari gitu. Ini aku saja malas banget bayangin harus lari, atau pergi ke gym, atau diet. Pusing.

Sedangkan aku sudah nggak punya daya buat menjerit lagi. Aku sudah bosan. Aku bosan banget harus terbangun dan diteror oleh angka yang terus merangkak naik setiap harinya. Kenapa Giselle Bundchen bisa selangsing itu. Gimana caranya Sora Choi dan Liu Wen bisa punya badan setipis itu? Ah rasanya mau nyemplung ke laut saja.

Tubuhku langsung terjerembab, begitu turun dari timbangan. Aku menggelepar di atas lantai keramik yang dingin. Seperti ikan paus yang terdampar dan menyedihkan.

**

"Makanya ibu bilang kamu harus olahraga. Bukan demi langsing, tapi biar sehat. Baru juga 30. Belum nikah. Sudah kena penyakit macam-macam." Ibuku nggak berhenti mengomel.

Jadi aku berteriak-teriak dan menangis ketika menggelosor menyedihkan di lantai. Ibu bahkan sampai minta tolong tetangga buat mengangkatku ke mobil ambulance milik lingkungan. Aku dibawa ke klinik dokter Bambang. Dokter internis yang memvonisku dengan kejam. "Kolesterol sama hipertensi."

Vonis itu seolah-olah membuat duniaku hancur seketika. Sudah cowok inceran ternyata naksir sahabat sendiri, pekerjaan belakangan banyak yang kacau. Tubuhku membengkak. Dan terancam terkena stroke di usia muda. Mana belum kawin pula.

"Nanti ibu bawa kamu ke rumah Mbak Agnes," ujarnya. Kami lagi-lagi pulang diantarkan oleh ambulans. Karena mobil normal sepertinya sudah tidak dapat menampung bobot tubuhku. Bahkan beberapa bulan ini aku nggak bisa naik ojek. Semuanya lagi-lagi karena bobotku.

Ya Tuhan, aku juga kepingin bisa langsing macam Park Min Young. Tapi rasanya kok mustahil banget ya.

Omong-omong soal Mbak Agnes, dia adalah langganan ibu-ibu kompleks kalau mau ngadain senam aerobik di kelurahan. Bodinya sip. Mirip Vicky Burki. Walau usianya sudah menginjak kepala empat. Konon katanya, Mbak Agnes juga biasa melatih perempuan-perempuan dengan bobot tubuh berlebih untuk mendapatkan berat badan ideal.

Ambulan tiba di rumah. Mataku menangkap Mazda hijau milik Firman. Si empunya sendiri sedang duduk santai di teras rumah. Aku turun dipapah Mas Yanu, sopir ambulans. Aku menyodorkan uang lima puluh ribu rupiah pada ibu untuk diberikan pada Mas Yanu yang sudah rela memapahku turun dengan susah payah.

Firman menyongsongku. Dahinya berkerut dengan sorot mata dipenuhi tanda tanya. "Lo sakit?" tanya Firman.

"Biasa Mas Firman. Ini bandel banget. Disuruh diet ada saja alasannya. Tadi pagi jatuh di kamar. Ibu bawa ke klinik, dokter bilang kadar kolesterolnya tinggi. Tensinya juga lumayan. " Ibu sepertinya suka rela mengumbar aibku pada Firman.

Lelaki itu kemudian menatapku tajam. Aku memutar bola mata. Nggak peduli kalau karena tubuh gembrotku, hal itu nggak bisa bikin aku jadi tambah seksi. "Apa? Mau ceramah?!" gertakku.

"Fen, nggak boleh gitu sama Mas Firman. Dia udah baik mau jenguk kamu. Masa galak gitu sama tamu."

Lagi-lagi aku hanya bisa melengos. Lagi-lagi aku hanya bisa pasrah.

Karena mendadak sakit, semua pekerjaan yang seharusnya aku handle, kualihkan pada Kay.  Dia menggerutuiku yang mana hal itu membuatku semakin pusing saja.

Pukul lima sore Firman mengantar kami--- ibu dan aku--- ke Sanggar Senam Singset. Sanggar itu milik Mbak Agnes. Ketika aku ke luar dari mobil, banyak cewek-cewek berkeringat yang berkumpul di depan garasi rumah bercat krem yang ada di hook jalan itu.

Mata mereka menatapku. Ada yang cuek. Ada yang takjub. Takjub karena melihat orang segede gajah melintas di muka mereka. Ada yang tersenyum simpati, ada yang terang-terangan meremehkan.

Firman menarik daguku. Memaksaku untuk menghadap lurus ke depan, dan agar aku mengabaikan tatapan - tatapan itu. "Udah deh, " ia berbisik di telingaku. "Nggak usah lo ladenin yang kayak gitu. Fokus."

Aku hanya merengut. Rasanya dilihatin kayak kita itu tontonan memang nggak dan tentu saja nggak enak banget. Please lah. Aku tuh juga nggak mau kalau tubuhku membengkak macam adonan dikasih fermipan. Mengembang sempurna.

Aku maunya tetap langsing walau makan sebanyak apa pun. Aku maunya sehat terus tanpa harus cape- cape olahraga. Tapi sayangnya yang kayak gitu kan mustahil terjadi di dunia nyata. Kecuali kamu punya ibu peri pengabul permintaan.

Mbak Agnes menerima kedatangan kami dengan hangat. Orangnya memang humble banget sih. Pertama-tama kami ngobrol- ngobrol dulu. Dia ingin tahu kebiasaan makanku. Aku jujur mengatakan bahwa aku memang hobi makan. Bahkan sampai ke level nggak tahu aturan. "Berarti suka ngemil martabak malam-malam kayak Mbak dong, " ujar perempuan itu.

"Itu sih saya doyan banget, Mbak. Apalagi sambil nontonin Cha Eun Woo sama Lee Junho. Habis gimana dong ...."

"Sah- sah aja kalau mau gitu sebenarnya. Tapi seharusnya diimbangi sama olahraga. Kamu tetap bisa makan apa aja dan kapan saja asal bisa mengimbangi itu semua. " Papar wanita yang sudah sebelas tahun ini menyandang status janda cerai. Konon katanya, suaminya kabur bersama sahabat Mbak Agnes sendiri.

Mbak Agnes sekarang hidup dengan dua orang anak lelaki. Yang sulung berusia 15 tahun, yang bungsu 12 tahun. Juga bersama seorang asisten rumah tangga. Selain menjadi pelatih senam, dia juga menyambi menjual alat-alat olahraga. Termasuk pakaian senam. Tokonya ada di sebelah rumahnya. Selain itu, beliau juga kerap dimintai advis tentang metode diet yang aman.

Gosipnya juga belakangan dia lagi dekat dengan seorang polisi. Aku sendiri nggak begitu paham sama dunia pergosipan di sekitar rumahku.

Yang paham soal begituan sih biasanya Fira atau Dessy. Aku? Ngurusin klien sama suami-suami onlineku aja udah ribet banget kok. Apalagi mau ngurusin segala yang terjadi sama tetangga.

"Mbak harus kasih menu diet buat kamu. Sekalian olahraga yang cocok buat kamu. " Ujar Mbak Agnes akhirnya.

Dia kemudian beranjak dari sofa single yang sejak tadi didudukinya. "Kamu nanti harus disiplin olahraganya Fen. Biar cepat langsing. Cepat sehat. Masa ibu belum ngerasain punya cucu dari kamu udah harus ngerawat kamu yang kena stroke. Tuh liat bapakmu saja masih sehat-sehat begitu walau hampir pensiun. Masa anaknya udah KO aja. " Ibu menceramahiku.

"Nggak malu kamu  sama Mas Firman? "

Apa hubungannya sama Firman?

"Dia itu sudah baik banget sama kamu. Sama ibu dan bapak juga dia baik. Ngeladenin Fira yang cerewetnya minta ampun itu juga dia sabar. Seharusnya lelaki seperti itu yang kamu jadikan suami."

Lah kok malah jadi ke calon suami sih.

"Ibu dan bapakmu setuju kalau kamu akhirnya sama Firman. "

"Tapi masalahnya aku enggak naksir dia, Bu!" segera kuhentikan angan- angan ibu yang kurasa amat ngawur itu. "Lagian dia juga udah punya cewek!" kataku asal saja.

Alasan yang sebenarnya aku mengeliminasi Firman jadi target adalah karena aku sudah tahu busuk-busuknya dia sejak dulu. Termasuk rahasia bahwa sebenarnya dia pernah diam-diam naksir sama Kiana.

Entah mengapa, rasanya kalau aku misalnya menerima dia jadi--- ekhem--- calon suami--- seperti kata ibu tadi, seolah-olah aku menerima bekas Kiana.

Biar bagaimana pun, kalau Kiana nggak menikah sama Sangga, pasti sampai saat ini Firman bakalan tetap mengejar- ngejar sahabatku itu.

***

Contents
Contents