Chapter 21 of 23

Dua Puluh

Fat And Fabulous1,220 words~7 min read

Sebenarnya, aku selalu bahagia saat sedang makan. Sejak dulu, saat sedang sedih karena banyak hal, entah itu masalah di sekolah dengan guru, PR, tugas sekolah, teman sekolah, bahkan gebetan yang gagal kugaet, larinya selalu ke makanan.

Pulang sekolah biasanya aku akan beli mie ayam di dekat sekolah makan di tempat semangkuk, lalu bawa pulang semangkuk. Aku nggak pernah merasa bersalah. Dan karena dulu hal itu belum membuatku cukup gemuk, jadi aku santai saja.

Sewaktu masih duduk di SMA, aku masih aktif ikut banyak kegiatan. OSIS, Pramuka, PMI dan termasuk rajin donor darah juga. Maka dari itu, bobot tubuhku tetap terjaga.

Begitu masuk ke dunia kerja dan jadi sibuk, jadi aku melupakan aktivitas luar ruangan. Seringnya kalau capek ya langsung rebahan aja udah di kasur. Sambil nonton drakor, ngemil, apalagi kalau di luar pas hujan. Beuh, rasanya tuh syahdu banget. Kayak di surga banget.

Satu demi satu lauk dihidangkan di hadapan kami. Entah mengapa Firman perlu banget ngajak aku ke restoran padang yang kelihatannya mahal ini. Interiornya saja mirip restoran fine dining begini. Stafnya  banyak dan mereka semua pakai seragam.

Firman mulai menyendok nasi. Sementara aku masih seperti orang udik yang asyik terlongong- longong dengan kemewahan restoran tersebut. "Segini cukup nggak?" seruan Firman membuatku kembali mengalihkan perhatian ke arahnya. Terheran-heran ketika lelaki itu menyodorkan piring berisi nasi ke arahku. "Segini cukup?" ulangnya. Kali ini lebih lembut.

Aku akhirnya hanya mengangguk . "Cukup deh." Aku menerima piring itu.

"Lauknya terserah mau ambil apa. "

Aku akhirnya membuka plastik wrap gulai tunjang yang sejak tadi membetot perhatianku. Warnanya yang merah merona menggoda mata hedonku, belum lagi bayangan betapa kenyalnya tunjang sapi favoritku itu.

Selain tunjang, aku memilih sambal hijau, rendang jengkol, sambal goreng ati ampela pete, ayam gulai, rendang,  dan gulai daun singkong. Lalu mulai makan dengan lahapnya.

"Lo cuma ngambil itu aja?" tanyaku dengan mulut penuh makanan. Melihat ke piring Firman yang hanya berisi nasi, kuah- kuahan, sayur kol kacang, ayam bakar,  rendang jengkol, sambal ijo dan sayur daun singkong.

"Ini juga  udah enak kok." Jawab Firman enteng sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. "Siapa tahu lo kurang entar lauknya."

"Ah enggak kok."

"Habis ini mau ke mana?"

"Nggak tahu," aku kembali mengurap nasi dengan lauk-pauknya. "Balik kayaknya. Emang kenapa?"

"Lari gimana?"

"Lari?" sepasang alisku bertaut. "Ini panas banget. Lo gila kali kalo ngajakin gue lari jam segini."

"Lari sore itu bagus. Gampang ke luar keringat. Makanan lo udah kayak gini berlemaknya."

Aku mulai merasa bahwa Firman kembali akan mengatur-aturku. Sama kayak waktu itu pas waktu dia menyarankan aku untuk ikut program diet dengan olahraga.

"Fir ..."

"Ini demi kebaikan lo juga, Fen. Umur lo udah berapa?"

Oke. Aku mulai kesal. Dan aku bisa saja ngamuk di sini dan akan berakhir dengan mempermalukan diri sendiri. Lagi pula semua yang kumakan ini adalah traktiran Firman. "Jadi lo traktir gue di sini cuma biar bisa ceramahin gue soal berat badan gue?"

Rasanya kok aku mau nangis aja ya? Sesak banget rasanya dadaku ini. Makanan yang tersisa di piringku kini terlihat menjijikkan. Dan aku merasa diriku sendiri juga menjijikkan. Jadi aku berhenti makan.

Ternyata Firman juga. Tapi bedanya, piring lelaki itu sudah tandas licin. Dia kemudian meraih gelas berisi es tehnya. Sementara aku tetap terdiam.

"Fen,"

"Udahlah, Fir." Aku menyergah. Pada saat ini, entah kenapa aku merasakan perasaan malu yang luar biasa. Rasanya buruk sekali. Setiap hari, setiap aku mulai membuka mata dan menyeret tubuh turun dari ranjang, aku berhenti untuk berdiri di atas timbangan yang aku tahu pasti akan terus bergerak ke kanan. Lalu aku juga berhenti berdiri di depan kaca rias terlalu lama. Karena sebanyak apa pun produk perawatan kulit, tetap saja selama berat badanku belum turun, kulitku akan tetap jadi pabrik minyak. Belum lagi pakaian- pakaianku yang jumlah dan jenisnya semakin terbatas. Belakangan ini aku hanya bisa mengenakan kaus longgar dan celana ban karet yang nggak ada menarik- menariknya sama sekali.

Dan sekarang aku diingatkan kembali pada fakta bahwa aku sudah kelebihan berat badan oleh orang yang kuanggap sahabat. Di tengah-tengah acara makan siang yang kukira menyenangkan ini.

"Semuanya belum terlambat, Fen." Ujar Firman. "Bukan gue mau sok-sokan mau ikut campur urusan lo. Atau mau sok menasihati lo. Atau risih sama penampilan lo. Tapi semuanya demi kesehatan lo."

"Udah ya, Fir. Lo nggak usah repot-repot mikirin masalah kesehatan gue. "Sori gue nggak habisin makanannya. Napsu makan gue udah ilang." Dengan susah payah aku bangkit dari kursi. Tertatih-tatih menyeret langkah menjauh dari sosok Firman yang menyebalkan itu. Dasar! Emang dia pikir dia itu siapa sih?

Dan dia pasti nggak bakal mengejarku. Aku sendiri juga nggak berharap untuk dikejar kok. Tapi kalau dipikir-pikir kok rasanya sakit banget ya?

****

Salah satu masalah yang nggak terhindarkan dari badan gemuk adalah sembelit dan wasir. Sudah tiga hari aku nggak nongkrong di WC. Dan rasanya perutku begah banget. Padahal aku sudah minum air putih banyak-banyak. Sampai-sampai bawa botol yang dipopulerkan oleh Kim Kardashian itu. Botol minum isi dua liter yang bisa digunakan untuk menggelonggong sapi itu.

Akibat dari sembelit itu, moodku pun dengan cepat berubah jadi jelek. Makan pun rasanya nggak enak. Minum lama-lama aku bisa kembung. Akhirnya aku ngacir ke warung ayam geprek. Siapa tahu makanan pedas bisa bikin perutku mulas dan perkara buang air besar ini bisa cepat kelar.

Di warung ayam geprek yang sepi itu, aku hanya meringis. Perut bagian kiri atas rasanya sakit. Ini pasti maagku juga ikutan kambuh. Iwan datang menghampiri dengan muka datar. Alisnya terangkat melihat wajahku yang seolah-olah menahan nyeri itu. "Muka lo tuh kenapa sih? Meringis- meringis gitu? Lagi sakit?"

"Kayaknya maag gue kambuh deh, Wan. "

"Terus lo mau makan yang pedas-pedas gitu? Nyari mati kali. " Gumamnya keki.

"Tapi udah tiga hari gue nggak BAB, Wan. Siapa tahu habis makan ini gue jadi mules. Terus perjalanan----"

"Hmmmh!" Iwan menyela gemas. Wajahnya kini tampak semakin gusar. "Dapat ilmu kayak gitu tuh dari mana coba? Kebanyakan makan micin sih begini jadinya! Gue bikinin jus pepaya deh!" ujarnya kemudian. "Tunggu bentar yak, jangan ke mana-mana!" Iwan segera ngacir ke belakang.

Sementara aku menunggu dengan pasrah. Buka- buka Instagram dan coba cari siapa tahu nemu obat pelangsing yang  bisa langsung nurunin berat badan secara drastis tapi nggak ada efek samping ke organ seperti ginjal atau lambung gitu.

Ternyata nggak ada. Maksudku, aku sudah pernah mencoba semua obat diet yang ditawarkan di Instagram. Jadi aku meletakkan kembali ponsel ke atas meja dan menunggu Iwan balik dengan jus pepaya yang dijanjikannya.

Beberapa remaja berseragam putih abu-abu masuk bergerombol. Celingukan mencari-cari Iwan. Barangkali mau nanya password Wi-Fi atau apa. Anak zaman sekarang kan memang suka begitu. Belanja makanan cuma sedikit, tapi numpang wifi berjam-jam. Itu lah kenapa banyak usaha tempat nongkrong terancam bangkrut. Soalnya tagihan Wi-Fi nya jebol.

Saat aku nggak sengaja mengedarkan pandangan kembali ke jalanan, satu pemandangan membuat mataku menyipit tajam. Itu kan ... Disa? Dia lagi dibonceng dengan motor Vixion putih yang aku hafal banget. Itu adalah motor Alvin. Dan sudah pasti bahwa yang membonceng Disa adalah lelaki yang kukira selama ini menyukaiku itu.

Rasanya hatiku seperti baru saja dihantam dengan batu sebesar truk. Rasanya sunggun sesak.  Sakit. Nyelekit. Aku nggak mengira kalau ternyata di belakangku, dua orang itu diam-diam jalan bareng.

Padahal aku merasa bahwa Disa adalah orang yang paling klop sama aku. Dia selalu dengar curhatanku selama ini. Mendukungku dan membelaku. Dan Alvin? Kukira semua perhatiannya padaku itu tulus. Rupanya mereka berdua telah bersekongkol untuk membuatku merasa hancur berkeping-keping.

****

Contents
Contents