Setelah keluar dari rumah sakit, ibu menyeretku ikut senam di kompleks perumahan tempat salah satu langganannya tinggal.
Tentu saja hal itu mulai dilakukan begitu masa bed rest ku usai seminggu setelah pulang dari rumah sakit.
Soal kerjaanku semuanya di handle sama Kaylila, agen yang baru tiga tahun belakangan masuk Stardust.
Kay ini tipe cewek cabe rawit. Umur baru 24. Bodi boleh mungil. Tapi gerakannya gesit mirip angin puyuh. Mulutnya pedas, tapi agak sembrono. Punya pacar yang manut setengah mati bernama Adit. Yang nota bene dua tahun lebih muda dan belum juga lulus kuliah.
"Kalau mau sih sebenarnya kakak ipar gue juga ikut gituan." Sambil ngomong gitu matanya piknik melihat kondisi kamarku.
Kebetulan sore itu aku baru pulang aerobik di kompleks perumahan sebelah. Tempat langganan ibu tinggal dan daftarin aku masuk ke kelab aerobik ibu- ibu.
Yah hari ini aku dapat pengalaman baru. Anggota klub aerobik itu kan terdiri dari 65 orang. Agak- agak eksklusif juga. Sebab mereka mendatangkan instruktur dari pusat aerobik terkenal.
Cuma karena bayarnya patungan kan jadi lebih murah. Per bulan para anggotanya diminta buat bayar iuran sebanyak 30 ribu. Senamnya tiga kali seminggu. Dapat air mineral dan gosip gratisan.
Aku yang bukan pecandu gosip ibu- ibu yang isinya nggak jauh- jauh dari membicarakan menemukan chat mesra suami sama rekan kerja, penyakit stroke mertua yang menyusahkan, ribut sama saudara ipar, anak yang mulai ganjen dandan, sampai jengkel sama ART sendiri- sendiri.
Itu sih sebenarnya wajar- wajar aja.
Tapi anehnya si ibu- ibu itu pada saling mengungguli satu sama lain soal membeberkan kesusahan masing- masing.
Hadeuh!
"Kok kamar lo jorok banget sih, Kak?" kening Kay mengernyit jijik.
Aku memutar bola mata dengan keki. Mulai deh, komentar nyinyirnya keluar. "Kayak gini sih penyakit pasti pada nempel nih. Makin lama dong sembuhnya!"
Aku mencibir. Gaya ini cewek udah mirip emak- emak- nyinyir. Bikin tambah keki. Mendingan Disa deh yang jenguk.
"Ya gue belum sempat beresin."
"Nah itu dia!" cetusnya mirip guru bimbingan konseling di SMA. "Langkah pertama sebelum ikut olahraga atau diet metode apapun itu, mendingan Kak Fen beres- beresin ruangan ini dulu. Banyak gerak bisa bikin tubuh lebih sehat. Bisa langsing. Bisa keluar keringat. Bikin tubuh sehat. Nggak pake keluar duit!" Telunjuk si Kay bergerak-gerak mirip mbak- mbak di konter kosmetik dalam mal.
Halah!
Tambah pusing aku tuh. Tadinya lihat muka Kay saja udah kliyengan kok. Karena langsung bayangin kerjaan. Kay ini tipe- tipe yang totalitas tanpa batas. Kebanyakan klien yang didampingi cewek itu pasti ngeluh.
Kata mereka Kay itu mirip teroris. Kerjaannya nguber- nguber klien. Telpon nggak kenal waktu sampai- sampai si klien nyaris sinting dibuatnya.
Tapi nggak dipungkiri juga, kalau hasil kerja si Kaylila ini adalah yang paling perfect.
"Udah deh buruan mo ngomongin apaan nih. Keburu pusing gue!"
"Klien lo yang Vera itu. Bisa- bisanya jas nya mesti dijahit ulang. Aneh aja sih, dia dikenal sebagai instruktur aerobik terkenal! Tapi lihat calon suaminya bikin orang nggak bakalan percaya kalau seorang instruktur aerobik bisa bersanding dengan gajah Dumbo itu!"
"Mulut lo ya?"
"Tapi aku nggak bohong kok. Mana nyempilin jadwal ke SAS Groomsmen itu susaaaaahhhh banget sekarang! Lagi musimnya orang kawin sih. "
"Ya udah sih. Yang itu biar gue aja yang urus. Dua hari lagi kan gue masuk kerja. Lo hendel yang lain aja!"
Anak ini tuh sebenarnya bakalan cocok disandingkan sama Kiana yang sama- sama perfeksionisnya. Giling memang. Kepalaku mulai mumet lagi deh.
Padahal tadinya udah agak mendingan. "Nggak bisa gitu lagi, Kak. Kalau lo tunda- tunda, malah bakal berantakan schedule nya. Udah gue susun rapi-rapi juga. Besok tuh harusnya udah bisa test food. Belum lagi nanganin si penyiar radio itu. Aduh, calon suaminya itu sibuknya udah ngalahin presiden Amerika deh pokoknya!"
Yaelah sis... sis ... Tembak aja nih kepala gue. Udah pusing tambah pusing lagi!
***
Dua hari kemudian, dengan diantar sopir Grab, aku sudah masuk kerja. Disambut oleh sorakan para kacung- kacung kurang belaian. Terlebih si Deo yang mulutnya lemes itu. "Ealah Fen ... gue kira opname seminggu badan lo udah kempes. Tapi kayaknya malah tambah melendung ya?"
Aku mengerucutkan bibir sambil mendengus. "Ngomong aja lo. Camilan yang lo embat dari gue balikin sini! Gue gibeng juga lo!"
"Iiiih! Takuuuuut!"
"Deo rese!"
Bertepatan saat itu, Disa masuk. Mukanya tampak keruh. "Kenapa Dis?" tanyaku.
Biar kata aku orangnya cuek, tapi kalau ada perilaku orang- orang terdekatku yang kelihatannya agak aneh, aku pasti langsung notice.
Apalagi, Disa ini tergolong yang paling lama kenalnya sama aku. Berempat sih sebenarnya. Aku, Kiana, Firman, dan Disa. Tapi sekarang Kiana udah nggak kerja di Stardust.
"Mbak Kiana katanya udah mau operasi pengangkatan miom," ujarnya seraya meletakkan map yang tadi ditentengnya. Disusul kemudian tote bag hitam besarnya. Lalu dia sendiri mendudukkan diri atas kursi.
Biasanya ruangan ini ditempati maksimal sepuluh orang. Tapi yang lainnya pada keluar. Tinggal aku dan Disa yang ngepos sambil mengecek detail- detail sebelum final meeting sama klien.
"Itu yang lagi lo pikirin?" selidikku.
Disa diam saja. Membuatku semakin curiga. "Dis ..." Aku bukannya mendesak. Tapi penasaran. Biarpun pembawaan Disa itu kalem dan bersahaja, tapi biasanya dia nggak menyembunyikan masalahnya. Terutama dariku, setelah Kiana resign lima tahun yang lalu.
Entah aku betulan peduli atau ketularan emak- emak kompleks Bu Hasna yang langganan ibu itu, tapi Disa itu jarang sedih. Maksudnya tuh lagi sedih atau nggak, dia tetap kelihatan gitu- gitu saja.
Nggak yang ceriaaa banget. Giliran sedih diumbar ke mana- mana. Ke medsos lah, ke seluruh teman- teman kantornya lah. Disa ini memang adem aja orangnya.
"Menurut Mbak Fen... kalau ada yang deketin aku. Udah serius juga, tapi..."
"Oh, ini masalah Sienna, ya?" tembakku.
Disa langsung mematung kemudian mengangguk sekali.
"Yah menurut gue sih nggak perlu lo pertimbangin. Lo udah bikin komitmen mau jagain Sienna setelah ibunya meninggal kan? Jadi ya udah. Lo mesti tegas. Lagian yang rugi tuh orang juga. Sienna kan pinter banget gitu. Nggak ngerepotin."
Disa tercenung sesaat.
Aku tahu banget gimana dilemanya seorang Paradisa Aulia. Sudah enam kali semenjak meninggalnya Mbak Putri, kakak kandung Disa yang mengalami kecelakaan empat tahun yang lalu di tol Cipularang. Suaminya selamat. Tapi pria nggak bertanggung jawab itu malah pergi meninggalkan Sienna dalam pengasuhan keluarga mertuanya.
Masalahnya, orangtua Disa sendiri juga sudah nggak lengkap. Ayah Disa sudah pergi karena penyakit jantung ketika Disa baru berusia 22 tahun, kini tinggal Ibunya yang momong Sienna.
Ibu Disa yang membuka toko grosir sembako di depan rumahnya di daerah Jatinegara.
Sebenarnya ibu Disa juga sudah meminta Disa buat berhenti kerja di Stardust dan mencari pekerjaan tetap yang bisa pulang agak sorean.
Tapi Disa sepertinya sudah kadung jatuh cinta pada pekerjaan yang telah memberikannya banyak pengalaman itu. Lagipula fee Disa di Stardust juga lumayan tinggi. Jam terbangnya udah hampir tujuh tahun. Kepercayaan konsumen sama dia juga hampir seratus persen.
Saat kami sedang tertegun dengan pikiran masing- masing, kepala Oji, office boy di Stardust nongol dari celah pintu yang sedikit terbuka. "Ada tamu Mbak Feeennn!"
Kontan kulemparkan kotak tisu berbentuk bus double decker warna merah khas London ke arah pintu.
Kebiasaan emang si Oji ini. Memang dia pikir ini kerja di hutan apa!
***