Chapter 10 of 23

Sembilan

Fat And Fabulous1,235 words~7 min read

Aku akhirnya memesan tenderloin steak. Lagi pengin banget soalnya. Emang begini kalau lagi stes. Bawaannya lari ke makanan.

Dan seperti biasa, Firman yang emang sejak dulu doyannya sama warteg kalau nggak gitu nasi Padang, menyerahkan sebagian roasted chicken with rosemary nya padaku sambil menggerutu nggak jelas. "Gue kira rasanya sama kayak ayam bakar yang di rumah makan Padang itu. Entah ya, selera gue kok tetep yang banyak bumbunya. "

Aku mendengus. "Lo emang susah lidahnya diajak maju."

Bukannya ngambek, dia malah mengeluarkan seringai iseng. "Habis ini mau ke mana lagi? Balik kantor?"

"Enggak," ujarku singkat. Piring steakku saja ini belum kosong. Harganya memang bikin meringis. 350 ribu untuk sekali makan. Tapi dua Minggu ke depan sudah pasti aku kapok makan daging.

Dan untung saja perginya sama Firman yang orangnya nggak banyak komentar. Coba kalau dulu pas aku masih bareng Elwan. Aku pesan makanan yang harganya di atas seratus ribu aja matanya udah melotot. Waktu aku bilang aku bayar sendiri, dia malah ngambek.

"Kamu itu jadi perempuan jangan terlalu boros dong, Fen. Mendingan uangnya kan ditabung. Kalau kita nikah itu kebutuhannya banyak. Kok kamu malah enteng- enteng aja buang duit segitu buat sekali makan. Ibuku aja duit segitu bisa buat makan Dua hari. Dan lagi kamu harus mulai belajar masak deh kayaknya. Lihat kamu makan di luar sampai kalap begini, bisa- bisa gajiku nggak bakalan cukup buat sebulan!"

Setelah Erwan ngomong gitu aku pasti feeling guilty banget. Udahannya besok- besok aku nggak berani jajan makan siang di luar. Aku nekat bawa bekal yang hanya berupa bihun kecap dan telur dadar.

"... Fen ... ngelamun pasti. Mikirin apaan sih?"

Aku menatap daging berwarna kecokelatan dengan tingkat kematangan medium itu dengan tatapan nanar. Rasa bersalah bercokol dalam dada. Apa iya aku boros?

"Fen, mikirin apa?"

"Hah?"

"Lo tuh. Masa lo lihatin doang makanannya. Tar kalau udah dingin nggak enak. Makan gih. Tuh lo juga punya tugas habisin punya gue. "

"Menurut lo seporsi steak harga segini apa nggak terlalu mahal?" aku berbisik mendekatkan wajah ke wajah Firman. Takut pramusajinya yang lagi wara- wiri itu dengar kata- kataku.

"Ya kalau lo makan, lo habisin nggak mahal. Kan nggak setiap hari lo ngabisin duit sebanyak itu buat makan steak kan?" Firman merampas garpu dan pisau dari tanganku, kemudian mengiris dengan satu irisan besar, menusuknya dan memasukkannya ke dalam mulut. "Rasanya juga worth it kok. Dagingnya tebel. Matengnya juga pas. Side dish nya juga oke. Salad, sayurnya juga enggak pelit. Gratis lemon infused water segede gentong gitu. Kenapa sih? Dulu lo nggak pernah mikirin ginian kalau lagi makan. "

Firman menautkan alisnya yang lebat mirip ulat bulu itu. Aku tertegun. "Udah deh buruan dimakan. Habis ini mau pergi ke mana lagi gue anterin."

***

Rumah mendadak heboh karena melihat kedatangan Firman yang sudah lama banget nggak muncul. Ibu sampai meluk Firman dengan penuh haru. Macam lelaki itu adalah anak bujang ibu yang sudah lama hilang dan kini kembali pulang.

Fira malah berusaha memonopoli Firman. Pake sok- sok an nanya tentang tugas kuliah segala! Padahal setahuku Firman itu DO semester enam. Katanya lebih suka cari duit.

Manalah dia ingat tentang perilaku konsumen kalau dulu kuliahnya adalah teknik industri di Depok?

Aneh- aneh aja emang si Fira ini.

Tapi nggak heran sih. Sejak dulu Fira memang ngefans berat sama Firman. Baginya lelaki itu adalah superheronya. Penyebabnya adalah Firman jago main gitar, enak diajak ngobrol dan suka jajanin Fira di minimarket depan gang sana.

Aku sudah selesai berganti baju dengan daster berbahan kaus selutut bergambar Angry Bird, dan lagi otw duduk di sofa depan televisi, menggeser bapak yang lagi lihat tayangan tarung bebas alias MMA, ketika samar- samar aku mendengar suara mendayu milik Dessy.

Bapak menyipitkan mata ke arahku. "Ke depan sana. Masa teman datang dianggurin!"

Aku mencibir. Bapak dan aku memang nggak pernah akur kalau kami berdua lagi dekat - dekat sama televisi. Beliau selalu berusaha menyembunyikan remot tv supaya aku nggak seenak perut ganti- ganti channel.

Seperti kali ini. Matanya menatapku curiga. Mendengus. "Bapak lagi nonton."

"Siapa bilang lagi mancung?"

"Sana tuh. Bantu ibumu. Masa kamu yang punya tamu malah ibumu yang repot- repot bikin suguhan!"

"Ya bapak ada tamu malah nonton ginian! Emang nggak ada yang laen apa? Bosen tiap hari kalau bukan tinju, pasti Moto GP, kalau enggak gitu  bolaaaa mulu. Gantian kek sekali- sekali nonton apa gitu yang menarik!"

"Ya kamu saja nonton Yutub. Nggak usah gangguin kesenangan bapak."

"Wah, MMA nih, Pak?" Entah sejak kapan si Kodok ini tahu- tahu sudah muncul di ruang tengah rumah keluargaku.

Si bapak yang ngerasa punya tim pendukung langsung tersenyum cerah. Senyum yang biasanya cuma terbit tanggal 26. Alias tanggal gajian. Aku mencibir.

Kalau udah ketemu bapak sih Firman bisa sampai subuh nongkrong di rumah. Lebih- lebih kalau ada Ferdi. Dulu pas waktu aku masih kos di Kampung Melayu, seluruh penghuni kos, bapak kos, ibu kos, sampai satpam kos dan para tetangga kos bahkan sampai tukang nasi goreng, warteg, ayam Madura, semuanya pokoknya, selalu happy kalau Firman mampir.

Ibu kos bahkan sempat pengin jodohin anaknya yang janda kembang sama Firman!

Pengaruh Firman di rumahku juga nggak jauh beda sih. Kalau datang, ibu pasti mengeluarkan apapun makanan yang dimasaknya buat Firman.

***

Pagi ini aku terbangun dengan kepala pusing bukan main. Rasanya kepala berat banget. Sampai- sampai nggak kuat bangun.

Saat menoleh ke jam di atas nakas, aku panik bukan buatan. Sudah jam tujuh lewat! Padahal ada meeting sama klien di Mangga Besar! Ya ampun gimana ini!

Mau bangkit susahnya minta ampun. Sementara rasanya aku sudah kepingin jackpot. Di lantai atas sini tidak ada kamar mandi dalam. Ada kamar mandi di antara kamarku dan kamar Fira. Kamar Ferdi dan kamar ortuku sama satu kamar tambahan ada di bawah.

Lalu kudengar langkah kaki. Aku berteriak memanggil nama Bude Is, yang membantu ibu di rumah sehari- hari.

Namun Bude Is sepertinya nggak mendengar suaraku. Yang makin lama makin tenggelam ditelan kegelapan.

***

Aku terbangun perlahan. Aroma karbol khas rumah sakit langsung menyergap indera penciumanku. Tajam menusuk.

Mataku masih merem- melek. Kurasakan ada sesuatu yang menancap di pergelangan tanganku. Rupanya jarum infus.

"Fen, gimana? Sudah enakan?" suara panik ibuku langsung terdengar berada di sisiku. "Bu..." aku merengek mirip balita. "Aku lagi di mana ya?"

"Di klinik umum dokter Tirto! Kamu pingsan di kasur. Bude Is panik. Langsung ibu nelepon si Rahmat buat tutup toko dan bawa kamu ke klinik!"

"Kok pusing ya?"

"Lha gimana nggak pusing?" nada bicara ibuku berubah sewot campur khawatir. "Lha wong kolestrolmu naik. Tensi juga ikut naik. Kata suster yang meriksa kamu tadi 140/ 120. Untung nggak strok!" Ibu terus mendumel.

"Fen, kamu ini kenapa? Sampai kayak gini? Apa makanan yang kamu makan nggak sehat? Ibu tuh khawatir kamu kenapa- napa. Umur sudah mau lewat tiga puluh tahun. Nikah gagal, sekarang harus mengalami hal begini," tangan ibu bergerak-gerak ke sembarang arah. Wajahnya pun kini tampak gelisah. "Sampai kapan kamu mau kayak begini? Empat tahun yang lalu kamu masih langsing. Makin tahun makin membengkak. Ibu nggak larang kamu makan apapun. Tapi mbok ya kesehatannya sendiri tuh dijaga. Buat masa depan juga. Apalagi kamu masih gadis, Fen. Ibaratnya masih dagangan lah. Nah kalau setiap Minggu melar begini, siapa yang mau sama kamu? Bapak sama ibu sudah khawatir."

Aku tertegun. Sepanjang  hampir 31 tahun hidupku, belum pernah ibu mengomentari berat badanku. Entah itu terlalu kurus atau terlalu gemuk. Namun nasehat yang disampaikan ibuku barusan mau nggak mau membuatku berpikir.

Mungkin aku harus mulai berkomitmen untuk menurunkan berat badan.

Oke. Mulai besok aku bakalan diet.

***

Contents
Contents