Chapter 31: 30. Membersihkan Toilet Sekolah

Aliesha The ProtagonistWords: 9174

Aliesha memasukkan buku-bukunya ke dalam tas saat bel pulang berbunyi. Guru yang mengajar baru saja keluar dari kelas, diikuti oleh para murid yang tidak piket hari itu.

Aliesha menyampirkan tas ke punggungnya, bersiap untuk pulang ke rumah. Baru saja kakinya akan melangkah, bahunya sudah ditahan dari belakang, menyebabkan ia berdiri di tempat.

"Mau ke mana?"

Aliesha memutar kepalanya ke samping. Gadis itu melirik tangan yang menahan bahunya dan si pemilik tangan. Ia mengangkat alisnya tinggi.

"Siapa lo? Ngapain lo nahan-nahan gue?!" balas Aliesha sewot.

Orang yang menahan bahu Aliesha bergegas berdiri di hadapannya. "Lo punya hukuman yang harus dijalankan, lo gak lupa kan?" ucap orang itu mengingatkan Aliesha pada hukuman yang diberikan guru BK padanya.

"Kok lo tahu?" Aliesha memicingkan matanya curiga.

Orang itu tersenyum. "Sorry, gue belum perkenalkan diri. Gue David, ketua kelas di kelas ini."

"Oh, ketua kelas." Aliesha manggut-manggut.

"Gini ya. Ini kan udah waktunya pulang sekolah, jadi gue harus pulang. Kalau lo mau, lo aja gih yang bersihin tuh toilet. Gue sih ogah!" lanjutnya dengan tatapan remeh.

Aliesha menyingkirkan tubuh David dari hadapannya. Tidak menyerah, pria itu menahan tangan Aliesha untuk membuatnya berhenti.

"Lo gak bisa lari dari hukuman. Sekarang, lo ikut gue!" David menarik tangan Aliesha untuk mengikutinya.

Aliesha menepis tangan pria itu kasar. "Dih, siapa lo?! Berani banget lo nyuruh-nyuruh gue!"

Tanpa menghiraukan penolakan yang Aliesha berikan, David kembali menarik tangan gadis itu, menyeretnya menuju toilet di lantai tiga. Aliesha berusaha melepaskan tangan pria itu darinya, namun ia tidak berhasil.

Ketika mereka akan menaiki tangga menuju lantai tiga, pada saat itulah mereka berpapasan dengan Liam, Dhafin, dan Xander. Melihat tangan Aliesha ditarik seperti itu, Liam bergegas menghampiri keduanya.

Pria itu melepaskan tangan Aliesha dari David secara paksa. "Ngapain lo narik-narik tangan dia?"

David tidak menggubris Liam. Pria itu ingin meraih tangan Aliesha lagi, namun gadis itu dengan cepat bersembunyi di belakang Liam.

"Bantuin gue dong, Liam. Tuh cowok mesum mau ngajakin gue ke toilet," adunya dengan wajah ngeri.

Liam membelalak kaget, begitu juga dengan teman-temannya. Ketiga pria itu menatap David tajam.

"Wahh ... kurang ajar banget lo jadi cowok. Gue bakal laporin lo ke guru!" ancam Liam.

David merotasikan matanya malas. Pria itu melirik Aliesha yang bersembunyi di belakang Liam. "Lo mau ikut gue atau hukuman lo bakal gue tambah?"

"Liam!" Aliesha menarik ujung baju Liam untuk meminta bantuannya.

Liam menarik kerah seragam David. "Jangan kurang ajar ya lo! Aliesha ini cewek baik-baik."

David melepaskan tangan Liam dari kerahnya dengan gerakan lembut namun tegas. Pria itu tersenyum tipis.

"Dia lagi dikasih hukuman sama guru BK. Kalian mau kena hukuman juga karena bantuin dia kabur?"

Liam melirik Aliesha yang ada di belakangnya. "Beneran, Lis?" tanyanya.

Aliesha mempoutkan bibirnya dengan wajah cemberut. Ia ingin berbohong, tapi ia takut Liam dan teman-temannya juga akan kena hukuman. Dengan sangat terpaksa gadis itu mengangguk.

Liam menarik napas panjang. "Tenang, Lis. Kita bakal nemenin lo jalanin hukuman. Emang apa hukumannya?"

"Bersihin seluruh toilet di lantai satu sampai lantai tiga," jawab David.

Liam berpikir sejenak, pria itu lalu menjentikkan jarinya.

"Oke, kita bagi tugas. Xander, lo bersihin toilet di lantai satu. Dhafin, lo di lantai dua. Gue sama Aliesha di lantai tiga. Adil kan?"

Dhafin dan Xander mendatarkan wajah mendengar instruksi Liam.

"Adil dari mana, orang dia sendiri yang untung tapi kita kagak," gerutu Dhafin dengan suara kecil.

Xander dengan cepat menutup mulut Dhafin saat Liam melihat ke arah mereka. "Kenapa lo berdua? Gak setuju?"

Kedua pria itu dengan cepat menggeleng. "Kita setuju kok," jawab Xander cepat.

Tanpa merasa bersalah pada teman-temannya, Liam menggenggam tangan Aliesha dan mengajaknya ke toilet di lantai tiga. David mengikuti kedua orang itu dari belakang. Xander juga turun ke lantai satu, sedangkan Dhafin tetap di lantai dua.

Setibanya mereka di sana, telah tersedia pel dan sikat wc yang disediakan khusus untuk Aliesha. Tidak lupa ember berisi air sabun.

David bersedekap dada saat pria itu menyandarkan tubuhnya ke dinding. Aliesha dan Liam mengambil sikat wc dan pel bersamaan, keduanya melihat kedua benda itu secara bergantian.

"Ini, serius?" Aliesha menatap benda di tangannya dengan tatapan tak percaya.

Gadis itu menatap David dengan wajah memelas, berharap pria itu akan merasa kasihan padanya. Tidak peduli dengan tatapan yang Aliesha berikan padanya, David dengan santai menyandarkan tubuhnya pada dinding.

Liam menepuk pundak Aliesha untuk menyemangati gadis itu. "Gak apa-apa, Lis. Kita kerjain bareng-bareng."

"Mending kalian bersihin sekarang, karena kalian gak boleh pulang sampai toiletnya bersih," peringat David pada Aliesha dan Liam.

"Huft!" Aliesha menghembuskan napas panjang. "Lo, pegangin tas gue!" suruh Aliesha seraya menyerahkan tasnya pada David.

"Punya gue juga," timpal Liam sembari menyerahkan tasnya.

Dengan wajah kesal, Aliesha masuk ke bilik toilet cewek untuk menyikat wc. Saat Liam berjalan mengikutinya, Aliesha langsung berhenti. Gadis itu menatap Liam tajam.

"Kenapa lo ngikutin gue?"

Liam menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ya kan gue mau bantuin lo, Lis."

"Kalau lo beneran mau bantuin gue, sana lo ke toilet cowok! Gue bisa bersihin toilet cewek sendirian," ucapnya dengan berkacak pinggang sambil menunjuk toilet cowok yang bersebelahan dengan toilet cewek.

David yang sedang mengawasi keduanya dari luar menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perdebatan keduanya.

Setelah dimarahi oleh Aliesha, Liam bergegas keluar. Pria itu menatap David tajam saat ia masuk ke toilet cowok.

Aliesha menyikat wc sambil menggerutu. Sesekali gadis itu akan mengeluarkan umpatan kasar saat melihat kotoran yang masih tersisa di dalam toilet. Padahal itu adalah sekolah elit, tapi masih saja ada murid yang tidak tahu diri.

Aliesha menjepit hidungnya sembari menahan muntah. Matanya mulai berkaca-kaca akibat bau tak tertahankan yang menusuk hidung.

Ia menutup matanya erat. "Kenapa gue harus ngelakuin ini sih? Padahal dulu gue gak pernah tuh dihukum kek gini," gerutunya pelan.

Lebih dari satu jam, Aliesha akhirnya keluar. Gadis itu menyeka keringat di dahinya. "Gue capek, sumpah!" keluhnya.

Pada saat yang sama, Liam juga keluar dari toilet cowok. Pria itu juga menyeka keringat di dahinya, namun tidak ada keluhan yang keluar dari bibir pria itu.

David tersenyum tipis menyambut keduanya. Pria itu lalu mengembalikan tas mereka. "Ayo! Kita harus cek teman-teman kalian di lantai lain."

Aliesha sudah tidak punya tenaga untuk berdebat. Gadis itu mengikuti langkah David tanpa sepatah katapun bersama Liam.

Pertama-tama, mereka mengecek Dhafin di lantai dua. Pria itu baru saja keluar dari toilet cowok dan akan masuk lagi ke toilet cewek. Aliesha dengan sigap mengambil pel dari tangan pria itu.

"Biar gue yang ngepel, lo bersihin wc aja," katanya. Ia tidak bisa membiarkan orang lain mengerjakan hukuman yang seharusnya miliknya disaat dia duduk berleha-leha.

Selesai membantu Dhafin, keempat orang itu turun ke lantai satu untuk mengecek Xander. Ternyata pria itu sudah selesai membersihkan semua toilet yang ada di sana.

Aliesha bernapas lega. Akhirnya pekerjaan mereka selesai. Tubuh mereka kini sudah bermandikan keringat kecuali David. Seragam yang mereka pakaipun mulai kusut dan berantakan.

"Makasih guys udah bantuin gue," ujar Aliesha tersenyum lega.

Liam, Xander, dan Dhafin mengangguk. "Sama-sama, Lis," ucap ketiganya berbarengan.

"Pulang bareng gue mau gak, Lis?" tanya Liam menawarkan.

Aliesha menggeleng. "Gak, Liam. Makasih udah nawarin. Tapi, gue bawa mobil."

Liam mengangguk mengerti. Pria itu memberikan sebotol minuman pada Aliesha. "Nih, minum dulu."

"Lo dapat ini dari mana?" tanya Aliesha heran.

Liam terkekeh. "Gue punya kebiasaan selalu sediain minuman di dalam tas. Tenang aja, itu masih disegel kok," katanya cepat, takut Aliesha menolak pemberiannya.

Aliesha menerimanya, gadis itu tersenyum kecil. "Makasih."

Tanpa basa-basi, Aliesha langsung membuka tutup botol dan menenggak isinya sampai sisa setengah.

"Haus banget?" Liam terkekeh melihat cara Aliesha saat minum.

"Jangan ditanya!"

Jawaban Aliesha sontak membuat keempat pria itu tertawa. Setibanya mereka di tempat parkir, Aliesha langsung masuk ke mobil. Gadis itu menurunkan kaca jendela mobil dan melambaikan tangannya pada mereka.

"Gue duluan ya. See you!"

Keempat pria itu membalas lambaian tangan Aliesha sampai mobil gadis itu tidak lagi terlihat. Mereka lalu menaiki motor mereka masing-masing. Tanpa salam perpisahan, keempatnya langsung tancap gas meninggalkan pekarangan sekolah.

Sesampainya di rumah, Aliesha langsung membenamkan tubuhnya ke dalam bathtub yang penuh dengan busa. Gadis itu menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Air hangat memang paling tepat untuk berendam.

Setelah cukup lama, Aliesha akhirnya keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi. Selesai berganti baju, ia lalu pergi ke dapur untuk membuat coklat hangat yang akan ia nikmati bersama cookies.