Chapter 7: Part 06

Too Kind • Markhyuck ✓Words: 8122

HANYA beberapa jam tersisa bagi para peserta untuk mempersiapkan diri mereka demi mengikuti olimpiade.

Tidak heran jika ketua panitia pelaksana mengadakan pertemuan kembali di dalam sebuah ruangan yang cukup besar untuk menampung lebih dari seratus peserta olimpiade yang mengikuti ajang tersebut.

Sesi terakhir—dapat dibilang seperti itu.

"Selamat siang," ucapnya dengan tampang berseri menyertai eksistensinya di atas panggung. Suaranya sedikit lebih lantang ketimbang sebelumnya guna mendapatkan lebih banyak atensi dari para peserta yang akan mengikuti olimpiade di keesokan hari.

Tetapi, nihil.

Para peserta itu sibuk dengan kondisinya masing-masing sehingga tidak begitu menaruh peduli pada pihak yang berbicara di atas panggung.

"Selamat siang," katanya, percobaan ke-dua. Namun, lagi-lagi gagal.

"Selamat siang, anak-anak!"

NGIIIIIIIIIIING.

Akibat mengeluarkan suara yang terlalu besar, mikrofon yang ia gunakan pun berdenging dan mengeluarkan suara yang sangat bising sehingga para peserta berhenti melakukan aktivitas mereka dan memberikan atensi penuh kepada si ketua panitia pelaksanaan yang menatap sebal ke arah para murid sekolah menengah di hadapannya.

Kemudian, hening menguasai atmosfer di dalam ruangan—sebelum pada akhirnya pria di atas panggung tersebut melontarkan sebuah kalimat peringatan.

"Mohon didengarkan baik-baik," katanya. "Ini adalah sesi terakhir kita. Besok adalah hari pelaksanaan olimpiade dan Minggu adalah hari terakhir kita menginap di hotel ini. Karena itu, ada beberapa pengumuman yang harus diperhatikan dengan saksama."

Haechan yang kebetulan duduk bersebelahan dengan Chenle hanya terdiam. Kegugupan semakin merajai dirinya sendiri sehingga peluh tidak dapat berhenti mengalir di pelipisnya.

Ia tidak akan berbohong—Haechan benar-benar kehilangan kepercayaan dirinya.

Menyadari jika ia bukanlah satu-satunya sosok yang disebut orang sebagai pemuda pintar di tempatnya menetap selama seminggu ini, semangat Haechan menjadi semakin turun. Entahlah. Ia menjadi sosok yang pesimis dan takut akan kekalahan.

Beban itu berada di pundaknya.

Jika ia kalah, maka ia akan membuat kedua orangtuanya dan pihak sekolah merasa kecewa. Apalagi Taeyong yang telah berusaha keras mengajarinya materi-materi ilmu fisika lanjutan dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas dalam kurun waktu yang relatif singkat.

Ia pasti akan merasa sangat kecewa.

"Hei," tiba-tiba saja sebuah tepukan dapat ia rasakan. "Kau baik?"

Haechan tersenyum samar. "Iya—"

"Tahun ini sedikit berbeda."

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, perkataan Haechan kini terputus oleh suara lantang milik sang ketua panitia pelaksana.

"Tahun sebelumnya, olimpiade hanya dilakukan dalam satu sesi—jenis olimpiade fisika pada umumnya," beliau menerangkan. "Tetapi, tahun ini berbeda karena kami menambahkan sebuah sesi lagi."

Kondisi di sekeliling Haechan kini menjadi riuh—termasuk Chenle di sebelahnya.

"Tidak lagi hanya menjawab berbagai macam soal, tetapi kalian juga akan mengikuti sesi cerdas cermat. Hal itu yang menyebabkan kalian dibagi menjadi beberapa kelompok," pria tersebut menjeda. "Setiap kelompok terdiri dari kurang lebih empat belas peserta. Kami akan membelah kelompok kalian menjadi dua kubu yang akan dipertandingkan esok hari pada saat sesi cerdas cermat."

Lagi-lagi, riuh semakin menjadi.

"Soal akan diberikan dan tim yang lebih cepat menjawab dengan jawaban yang tepat akan mendapatkan skor. Tentu saja—akan ada pembatasan waktu pengerjaan di setiap soal yang diberikan tergantung dengan tingkat kesulitannya."

Haechan dapat mendengar Chenle dan Renjun yang memisuh dalam bahasa Mandarin—sementara Yangyang melakukan hal yang sama dalam bahasa Jerman.

Kondisi benar-benar menjadi semakin riuh. Beberapa aksi protes segera dilayangkan oleh para pembimbing yang tidak menyetujui adanya penambahan sesi. Panitia pelaksana juga menjadi semakin kacau karena harus mengklarifikasi beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh beberapa pihak.

Suara di sana, suara di sini.

Jeritan di sana, jeritan di sini.

Seruan di sana, seruan di sini.

Dan Haechan pun menutup telinganya.

***

"BOLEH belajar bersama?"

Haechan tertawa manis di hadapan Mark dengan beberapa buku bersampul tebal yang ia genggam sepanjang perjalanannya menuju perpustakaan kota.

Hari ini ia mengenakan kacamata berbingkai bundarnya sehingga Mark hampir tidak mengenalinya.

Pemuda yang berusia satu tahun lebih tua itu mendesah dan menggelengkan kepalanya. Pandangannya kembali menuju ke arah tumpukan buku yang sedang ia pelajari saat ini. Mulai dari yang sederhana hingga materi paling rumit, hampir seluruhnya sudah ia kuasai.

"Boleh 'kan?" Haechan memelas.

"Kalau aku menolak, kau juga akan tetap berada di sini," Mark mendengus. "Jadi, percuma."

Haechan terkekeh dan duduk di hadapan si juara dua dengan tangan yang direntangkan ke atas.

Ia benar-benar menginginkan posisi sebagai juara pertama di dalam olimpiade tingkat nasional ini sehingga ia meluangkan waktunya untuk belajar setiap saat dan melupakan rutinitas perawatan kulitnya. Bahkan, sudah tiga hari Haechan tidak memberikan orangtuanya kabar terkini mengenai dirinya sendiri. Semoga saja keduanya tidak merasa begitu khawatir.

Tidak apa, Haechan menepuk kedua pipinya. Semua usahamu akan segera terbayarkan.

Pemuda itu menguap. Siapapun dapat melihat kantung matanya yang membesar hari demi hari akibat belajar larut malam. Bahkan, Renjun dan Chenle—sepasang kekasih yang tinggal bersamanya di kamar yang sama itu—mengkhawatirkan kesehatannya. Terkadang, Yangyang juga berbaik hati menemaninya belajar walau tidak jarang pula pemuda itu jatuh tertidur terlebih dahulu dan meninggalkan Haechan belajar larut malam sendirian dengan lampu pijar yang terus menyala semalaman.

"Belajar larut malam, huh?"

Mark bertanya dengan nada sinis tanpa menatap Haechan sekalipun.

"Iya," jawab pemuda di hadapannya sembari tertawa lugu. "Setidaknya, aku yakin jika usaha keras-ku akan terbayarkan pada saatnya."

Haechan tersenyum lebar dengan tampang yang kelelahan. Namun, apa yang ia harapkan dari seorang Mark Lee si juara dua?

Pemuda itu hanya diam dan mengeluarkan sedikit respon.

"Usaha-mu itu," ia menjeda. "Sia-sia, tahu."

Haechan tersenyum lagi, tetapi kini Mark melihatnya dengan mata kepala sendiri—menyadari jika pemuda di hadapannya benar-benar kelelahan.

"Sia-sia kenapa?" Ia bertanya.

"Karena aku yang akan memenangkan kompetisi ini."

Haechan tertawa.

"Tidak ada salahnya juga aku mencoba, bukan?" Katanya. "Aku dan kau, hyung—kita bersaing. Tetapi, ku harap salah seorang dari kita berhasil meraih juara pertama dalam olimpiade ini."

Mark menoleh ke arah pemuda di hadapannya yang kini hanya mampu tersenyum.

"Mama berkata jika hasil tidak akan mengkhianati usahamu," Haechan kembali melanjutkan kalimatnya.

"Karena itu, aku percaya jika aku dapat meraih medali emas nantinya."

***

"HI, Dad."

[Halo.]

"Ada keperluan apa malam-malam begini menelepon—"

[Jangan pura-pura tidak tahu. Besok adalah hari besar dan kau tahu itu dengan jelas.]

Mark menghela nafas.

"I know, I know."

[Karenanya, kau sudah belajar?]

"Sedang, lebih tepatnya."

[Baiklah.] Pria di seberang telefon itu mendengus. [Lebih baik kau belajar dengan keras agar kau memenangkan olimpiade ini atau aku akan menyuruhmu untuk tinggal di Australia bersama nenek.]

Mark mengumpat tertahan. Ia lebih memilih untuk berada bersama Haechan yang sangat berisik ketimbang hidup bersama neneknya yang kejam di Australia.

"I understand," katanya lesu.

[Please, Mark. Don't make me worry.]

"I won't—"

PIIIIIIIIP.

Sambungan telefon itu diputus secara sepihak oleh pria yang lebih tua dan membuat Mark mengerang frustrasi.

Pemuda itu menutup mata.

Sekilas, sosok mungil Haechan menghiasi memorinya dan membuat pemuda tersebut menggeram. Tangannya meremat sebuah kertas kosong hingga kini benda berwarna putih itu menjadi tidak berbentuk.

Dung.

Pemuda itu membuang kertasnya ke tong sampah dan tersenyum licik.

"You and your dream about being the winner—"

Mark tertawa.

"—semua itu akan segera menjadi sampah." []

***

© Rayevanth, 2019

[a/n]

aku gemes sendiri sama karakter mark di sini. minta dipites :(