Chapter 5: Part 04

Too Kind • Markhyuck ✓Words: 7258

"MY Honey Bunny Jenonie!"

Seruan milik Jaemin menggema di seisi restauran sesaat setelah sesi pertama yang berbicara mengenai tata peraturan olimpiade di hari ke-dua berakhir.

Pemuda bersurai cokelat madu itu melompat kecil menuju meja dimana Jeno dan Mark duduk bersama dengan teman-teman baru mereka. Senyum lebar terpatri di wajah manisnya tatkala manik hazel-nya bertemu dengan bola mata obsidian milik pemuda yang ia taksir selama enam bulan terakhir.

Sementara itu, Haechan mengikuti keliaran temannya di belakang.

Berdasarkan jarak keduanya, Haechan mampu menyadari jika Jeno sedikit berjengit dan menggeser tempat duduknya mendekat ke arah Mark yang mulai merasa risih. Sejauh ingatannya berkelana, Jeno dan sahabatnya yang sombong itu terdaftar di grup yang berbeda—ia sendiri adalah anggota dari grup kuning.

Sialnya, bersama Na Jaemin.

"F*ck off!" desis Jeno ketika Jaemin semakin mendekatinya. Bahkan, pemuda yang lebih muda itu berani mendekap dirinya dari belakang bagaikan sepasang kekasih mesra. Haechan yang memandang peristiwa itu dari kejauhan hanya bisa terkekeh. Di sekolahnya, hanya sedikit pasangan yang dapat ia temui. Karena itu, jarang sekali ia merasa kesepian begini karena tidak memiliki seorang kekasih.

Di saat itulah manik obsidiannya menaruh atensi kepada sosok pemuda yang duduk anggun di sebelah Jeno.

Mark Lee.

Si juara dua olimpiade fisika tingkat nasional tahun lalu yang ia anggap sebagai malaikat pemberi motivasi—terlalu lugu baginya untuk mengetahui maksud utama pemuda tersebut berkata seperti itu.

"Mark-hyung!"

Pemuda yang tahu jika dirinya dipanggil itu sama sekali tidak menoleh. Pandangannya tetap tertuju kepada tumpukan buku pelajaran yang terbuka di atas meja. Bisa Haechan tebak jika pemuda itu tengah mempersiapkan diri untuk olimpiade yang akan diselenggarakan pada hari Sabtu nanti.

"Hyung," Haechan memanggil kembali. "Sedang belajar, ya?"

Terkadang, Mark tidak habis pikir dengan keluguan Haechan yang tidak sewajarnya dimiliki oleh murid yang duduk di bangku sekolah menengah atas. Entahlah—Mark ingin mendiamkan pemuda itu, sama sekali tidak memberi respon. Tetapi, bagian terkecil dari hati nuraninya berkata jika tidak seharusnya ia berbuat seperti itu.

"Menurutmu saja."

Pada akhirnya, pemuda itu menjawab dengan nada ketus. Beruntung, Jeno tidak menegurnya karena sibuk menjauhkan diri dari serangan asmara adik kelasnya.

"Kalau begitu," dengan seenaknya, Haechan menarik sebuah kursi yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri dan duduk di dekat Mark. "Aku akan menemanimu. Lalu, kau bisa mengajariku."

Apa lagi ini?

Ketimbang diganggu terus-menerus oleh keluguan Haechan, Mark lebih memilih untuk digandrungi oleh seseorang seperti Jaemin.

"Mengajarimu bagaimana?" Ia kembali bertanya sinis. "Belajar saja sendiri sana."

Ah, bodoh, batin Mark. Seharusnya aku tahu jika cara ini tidak ada gunanya—

"Belajar sendiri? Baiklah! Aku percaya, tips yang kau berikan sebagai juara dua pasti lebih baik."

Mark terdiam mendengarnya.

Tunggu sebentar.

"Kalau begitu," Haechan mendorong kursinya kembali dengan wajah yang lebih cerah dari mentari sekalipun. "Aku belajar dulu, ya, hyung. Semangat untuk hari ini!"

Kalimat itu mengakhiri pertemuan keduanya pagi hari ini. Haechan benar-benar pergi dari area restauran dan beranjak menuju kamarnya sendiri. Mungkin ia memang belajar mandiri seperti yang diperintahkan Mark kepadanya.

"—Menyesal, huh?"

Kepala pemuda berdarah separuh Kanada itu menoleh ke arah sahabatnya yang berhasil menenangkan Jaemin dengan menyuapi pemuda itu sepiring mungil puding roti.

"Menyesal apanya?" Ia mendengus.

"Anak itu kembali ke kamarnya. Benar-benar menuruti perintahmu."

Mark membanting gelas miliknya di atas meja. Benda rapuh itu hampir saja pecah jika ia tidak berhati-hati. Kemudian, pemuda tersebut melayangkan pandangan tajam ke arah Jeno yang tetap tenang sambil menyuapi Jaemin yang gembul di sebelah kanannya.

"Aku ikut lomba ini bukan karenanya," Mark berkata.

"Keluguan anak itu benar-benar mengganggu ku untuk menang!"

***

"KAU disuruh ap—"

Chenle hampir menjerit jika Renjun tidak membungkam mulutnya dengan tangan.

Kecuali Yangyang, semua penghuni di kamar ini sedang berkumpul. Pada awalnya, hanya terdapat Renjun dan Chenle yang kelelahan usai sesi. Alih-alih bermesraan, keduanya justru bermain Battlegrounds yang kemudian berujung kepada aksi cakar-mencakar akibat kecerobohan Chenle yang salah mengambil senjata di tengah kondisi yang membahayakan. Namun, Haechan datang secara tiba-tiba dan menghentikan mereka. Hingga kini, mereka melangsungkan sesi tanya jawab dan berbincang santai.

Sampai tiba pada waktunya dimana Haechan bercerita mengenai perintah Mark yang mau saja ia turuti.

"Kau ini," Renjun menepuk jidat. "Sudah minum obat atau belum, 'sih?"

"Aku sehat, kok." Ia tertawa lebar.

Tidak Renjun, tidak Chenle—keduanya berusaha untuk tetap sabar menghadapi keluguan teman baru mereka ini.

"Hyung," yang paling muda mendesah. "Hyung menganggap dia sebagai siapa, 'sih?"

"Motivasi-ku tentu saja."

"Motivasi untuk?"

"Memenangkan olimpiade fisika tingkat nasional ini, lah."

Renjun mendengus. Pemuda itu kini tengah memikirkan cara terbaik untuk menangani kasus yang jarang ia temui seperti ini.

Pertanyaan terbesarnya adalah;

Bagaimana caranya membuat Haechan tersadar jika ia terlalu lugu dan baik untuk seseorang seperti Mark?

***

"JENONIE—my sugar plum fairy—boleh Nana bertanya?"

Pemuda yang hanya bisa merelakan tangan kanannya untuk digandeng oleh seorang penggemar fanatiknya seperti Na Jaemin tersebut mendengus, tetapi satu detik kemudian mengangguk.

"Kenapa," ia menjeda. "Kenapa Mark-sunbaenim sangat terobsesi untuk menang?"

Jeno berhenti sejenak.

Sementara itu, Jaemin mendongak. Menatap lurus ke arah pemuda yang tengah mengisi hatinya selama enam bulan terakhir. Pertanyaan ini benar-benar berasal jauh dari dalam lubuk hatinya.

"Iya," Jeno menghela nafas. "Dia memang... terobsesi."

Pemuda yang duduk di bangku kelas sepuluh itu kemudian memukul pelan tubuh kekar milik Jeno dan membuatnya sedikit goyah.

"Itu tidak menjawab pertanyaan, bodoh!"

"Tunggu, tunggu," Jeno menarik kedua tangan Jaemin dan tanpa sadar menggandengnya—sejujurnya dengan tujuan agar pemuda itu berhenti memukuli dadanya yang mulai terasa nyeri. "Kau tahu... siapa yang mendampingi Mark pergi ke sini?"

"Eh? Bukannya Mr. Johnny?"

Jeno menggeleng sebagai jawaban. "Bukan. Bukan seorang guru."

"Lantas, siapa?" Jaemin meloncat-loncat histeris. Pemuda tersebut berani berbuat seperti itu hanya karena Mark sedang tidak berkeliaran di dekat keduanya.

"Ay—" Jeno menutup mulutnya. "—tidak. Kau tidak perlu tahu."

"Oh, ayolah!"

"Sekali tidak, ya, tetap tidak!"

Lagi-lagi, tanpa sadar Jeno menggenggam tangan Jaemin terlalu erat dan sontak membuat sang pemilik tangan yang lebih mungil mendongak. Wajahnya merah padam—berusaha untuk menyembunyikan rasa malu yang membuncah.

Ditatap selama sepersekian menit seperti itu lama-lama membuat Jeno risih dan berdecak sembari menatapnya balik.

"Ada apa, 'sih? Kau ini—"

"Tanganmu."

"Tanganku kenapa—ah."

Jeno segera menyadarinya. Pemuda yang lebih tua satu tahun itu segera menarik tangannya dan menyembunyikan rona merah muda yang merebak di wajahnya.

"Maaf." []

***

© Rayevanth, 2019