Chapter 26: Special Chapter #2

Too Kind • Markhyuck ✓Words: 12700

"GOOD afternoon, my honey bunny Jenonie!"

Na Jaemin berseru. Tingkahnya tersebut berhasil memecah keheningan yang menyelimuti atmosfer di tengah kantin para mahasiswa di gedung tersebut. Bahkan tidak sedikit pula pasang mata yang memelototinya dengan pandangan heran. Sepertinya mereka bertanya dalam hati bagaimana mungkin seorang mahasiswa memiliki perilaku berisik layaknya bocah sekolah dasar ingusan?

Pemuda itu benar-benar eksentrik.

Jeno yang mendengar seruan nyaring kekasihnya tersebut justru tersedak. Mengencaninya selama nyaris tiga tahun tidak membuatnya terbiasa dengan suara lantang milik Jaemin itu. Beruntung Yangyang berada di sampingnya sehingga pemuda berdarah Jerman itu segera menyodorkan sebotol air mineral kepada sosok yang kini terbatuk-batuk itu.

Jangan heran.

Keduanya berubah menjadi dekat karena mereka mendaftar di fakultas yang sama—sastra Perancis. Yang satu ingin menjadi jurnalis di negara tersebut sementara yang lainnya berniat untuk menjadi seorang penerjemah. Pada awalnya, Yangyang dan Jeno sama sekali tidak akrab. Tetapi lambat laun, Jeno dapat menerimanya dan kini keduanya menjadi teman yang lumayan akrab.

Melihat perilaku sepasang kekasih di hadapannya yang tidak berubah sejak mereka masih duduk di bangku sekolah menengah itu, Haechan tertawa manis di belakang.

Sejujurnya, ia hanya berniat menemani Jaemin untuk pergi mencari makan siang di kantin.

Jika Jeno dan Yangyang berada di fakultas yang sama, hal serupa terjadi pula pada Jaemin dan Haechan. Keduanya sama-sama belajar di fakultas ilmu kedokteran. Mungkin kalian tidak dapat membayangkan, tetapi perjalanan sedari gedung fakultas ilmu kedokteran menuju kantin milik fakultas sastra terbilang sangat teramat jauh. Butuh waktu sekitar dua puluh menit jika Jaemin dan Haechan nekat berjalan kaki. Tetapi, untung saja keduanya masih waras sehingga Jaemin berbaik hati memberikan tumpangan kepada Haechan dengan mobil sedannya.

"Jaemin, sudahlah!" Jeno mencoba untuk menghentikan kekasihnya yang mulai menghujani wajahnya dengan kecupan-kecupan ringan. "Bibirmu lengket sekali! Menyingkirlah dari ku, Jaemin!"

Pemuda bermata sipit itu menghela nafas, kemudian menggenggam tangan Jaemin dan menariknya agar anak itu duduk di sebelahnya. Tindakan itu mampu membuat Jaemin duduk diam dengan senyum lebar terpatri di wajah manisnya.

"Begitu saja," Jeno berujar sebelum ia menyesap secangkir kopinya.

"Kalau diam, kau ini manis."

Usai mendengar kalimat tersebut, Jaemin terkekeh. Dengan gerakan secepat kilat, pemuda itu mengecup sekilas bibir milik kekasihnya.

"Aku mencintaimu, Lee Jeno."

"Nado saranghae."

"Aku lebih mencintaimu.

"Aku lebih, lebih, lebih."

"Tidak, aku yang lebih—"

"Menjijikkan."

Tiba-tiba saja Renjun datang menghampiri keempatnya dengan Chenle mengekorinya di belakang. Pemuda berdarah Tiongkok yang semakin hari ucapannya semakin pedas itu menarik bangku di sebelah Jaemin dan mendudukinya. Ia membiarkan Chenle duduk di samping kirinya sementara pemuda yang terlalu cepat bersekolah itu menyerukan nama Haechan dan menyuruhnya untuk duduk bersama dengan mereka tanpa canggung.

"Kalau mau pacaran, jangan di kampus," Renjun menasihati dengan mulut penuh bakso. "Mengotori suasana di sekitar saja, tahu tidak?"

"Tidak apa-apa, Renjun-ah," Haechan menengahi. "Aku senang melihatnya."

"Kau merasa senang karena kau tidak pernah memergoki mereka di toilet dengan aksi saling menindih satu sama lain, berciuman, dan—"

Chenle menutup telinga Haechan di sebelahnya dengan bergegas.

"Gege!" Ia menjerit. "Biarkan dia menjadi sosok yang polos saja!"

Renjun melirik sekilas ke arah Chenle sebelum pemuda itu menyeringai dan melanjutkan kalimatnya yang sempat tertunda. "Bertukar saliva hingga menggantung di sudut bibir entah milik siapa. Menghisap, melumat, menggerayangi tubuh satu—"

"Gege!"

"Baiklah, baiklah! Aku berhenti."

Renjun kembali mengunyah bakso ikan miliknya sehingga habis hingga setengahnya. Sementara itu, Chenle sibuk meminum segelas es teh yang ia beli sebelumnya. Di sisi lain, Yangyang, Jeno, dan Jaemin hanya memandangi sepasang kekasih itu.

Seolah memikirkan hal yang sama, Jeno dan Jaemin saling melirik.

"Omong-omong," pemuda bermata sipit itu berbicara, memutus pandangannya dengan Jaemin.

"Kalian sudah melakukannya, ya?"

Baik Renjun maupun Chenle, keduanya tersedak. Pemuda yang lebih tua hampir mengalami sesak nafas karena bakso yang belum ia kunyah tersebut nyaris tertelan utuh-utuh. Sementara itu, Chenle tersedak ketika ia hendak memakan es batu di dalam minuman yang ia pesan. Setelahnya, wajah milik kedua anak Adam tersebut memerah.

Di lain sisi, Jaemin dan Jeno tertawa.

"Pakai pengaman, bukan? Hati-hati, ya. Jangan sampai jebol duluan."

"Selamat. Kami saja belum pernah melakukannya sampai sekarang."

"Oh, kau mau?"

"Boleh saja. Hanya kau yang tidak pernah memintanya, Jeno."

"Baiklah. Nanti malam, rumahku."

"Nafsumu besar, sial—"

"Sudahlaaaah!"

Renjun membuat sepasang kekasih frontal di hadapannya tersebut bungkam. Terkadang ia heran. Semasa sekolah menengah, kedua pemuda itu benar-benar sering berseteru. Setiap hari ia menyaksikannya di koridor lantai dua. Tetapi, kini? Bahkan sama sekali tidak memiliki malu untuk membahas perihal seperti itu.

"Begini," ia terbatuk lagi. "Aku dan Chenle—kami belum pernah!"

Jeno menaikkan salah satu alisnya, membuat Renjun menggeram tertahan. "Masa? Tidak percaya."

"S-serius! Hanya sebatas berciuman di atas ranjang, made out, selesai! Tidak ada hal yang lebih dari itu."

Kali ini giliran Jaemin menguji kesabaran pemuda berdarah Tiongkok itu dengan menepuk pelan pundak kekasihnya sembari berkata, "Sudahlah, sayang. Kita minta saja rekaman kamera pengawas di kamarnya melalui petugas."

Wajah Renjun memerah drastis. "Tidak, tidak, tidak! Kau tidak boleh!"

"Benar, bukan? Ia memang melakukannya bersama Chenle, jadi—"

"Kalian membicarakan apa, 'sih?"

Semua pasang mata di meja tersebut kini tertuju kepada Haechan yang sedari tadi memilih untuk diam dan mencoba untuk mencerna—walaupun ia gagal paham. Pemuda manis itu memiringkan kepalanya, membuat para temannya menjerit di dalam hati akibat keluguannya.

"Kau tahu," Jaemin menjawab. "Bermesraan. Perihal kekasih."

Haechan merajuk. "Terus terang saja tidak bisa, ya? Aku tidak suka diberi kode-kode seperti itu, Jaemin!"

Kalimat itu membuat kelima temannya saling berhadapan dan menatap satu dengan yang lain, seolah berniat untuk meyakinkan diri mereka masing-masing saat itu.

"Berhubungan badan," Renjun berkata.

"Saling memuaskan."

"Pemuas nafsu."

"Saling menyentuh."

"Cinta yang berkobar."

"Panas semalaman."

Haechan terdiam. Kemudian, pemuda itu menyandarkan dirinya ke belakang dan mendesah resah.

"Aku sama sekali tidak mengerti," katanya dengan bibir yang dikerucutkan. Persis seperti anak kecil yang merajuk meminta sang Ibu untuk membelikannya permen di taman bermain yang besar.

Kali ini, Jaemin yang menghela nafas. Entah mengapa ia merasa bertanggung jawab untuk menghilangkan keluguan kawannya.

"Kau sudah pernah, eung, menonton tayangan dewasa belum?"

Haechan menggeleng polos.

"Membaca majalah dewasa?"

Lagi-lagi menggeleng.

"Menyentuh dirimu sendiri?"

Gelengan lagi.

"Digerayangi oleh Mark—ADUH!"

Pemuda yang namanya baru saja disebut oleh Na Jaemin itu tiba-tiba muncul di kantin dengan berbagai macam buku di tangannya. Seperti biasa, kacamata berlensa bundar bertengger di batang hidungnya. Kedua bola mata milik pemuda itu melotot ke arah Jaemin dengan pandangan menyeramkan.

"Aku tidak pernah berbuat sekotor itu pada Haechan!" Bentaknya. "Jangan samakan aku dengan kalian."

"Slow, bro. Slow," Jeno menjauhkan tangan Mark dari bahu kekasihnya, baru kemudian ia tersenyum. "Sudah satu minggu tidak bertemu, datang-datang malah marah."

Mark berdecak.

"Lebih baik kau memperbaiki pikiran kekasihmu yang kacau itu."

Kemudian, tanpa memberi salam kepada teman-temannya yang lain, Mark segera menarik tangan Haechan hingga pemuda itu mau tidak mau mengikutinya dengan pasrah. Haechan menyempatkan diri melirik ke belakang dan melambaikan tangannya yang bebas kepada teman-temannya yang masih duduk di sana dengan makanan di atas meja.

Setelah keduanya keluar dari area kantin fakultas sastra, Mark menghentikan langkahnya.

"Masih ada kelas lagi?" Ia bertanya sambil tersenyum ke arah Haechan. Pertanyaan itu segera dibalas dengan gelengan oleh sang penjawab.

"Tidak. Tidak ada lagi."

Mark mengambil tangan Haechan dan mencium punggung tangannya. "Kalau begitu, kita pulang, ya?"

Haechan mengangguk saja. Beruntung ia juga membawa ranselnya sehingga keduanya tidak perlu kembali ke wilayah gedung fakultas ilmu kedokteran lagi hanya untuk memgambil benda tersebut.

Tungkai milik Haechan dan Mark segera membawa keduanya menuju lahan parkir yang berada tidak jauh dari kantin. Kunci otomatis langsung dibunyikan oleh Mark ketika mereka sampai di sana.

Seperti biasa, pemuda berdarah separuh Kanada itu duduk di bangku pengemudi dan Haechan di sebelahnya.

"Tidak ada yang tertinggal?"

"Tidak. Tidak ada."

Mark mengangguk. Ia segera membiarkan mobilnya melaju sesuai dengan navigasi menuju apartemen Haechan. Selama kekasihnya itu berkuliah di Seoul, Mark merekomendasikan Haechan untuk menyewa apartemen yang letaknya cukup dekat dengan kediaman Mark sehingga ia dapat mengantar-jemputnya dengan mudah.

Mobil pun berhenti melaju ketika lampu merah menghadang. Mark mengetuk jarinya, menunggu dengan tidak sabar.

Tiba-tiba saja, Haechan bersuara.

"Mark-hyung?"

Sang pemilik nama hanya menoleh dan berdeham, tidak berniat untuk menjawab dengan pertanyaan.

"Kau mengerti apa yang dimaksud oleh Jaemin?" Tanyanya dengan polos. "Aku sama sekali tidak, lho."

Mark memilih untuk bungkam sejenak. Sejujurnya, ia sudah lelah dengan keluguan Haechan. Sejak kali pertama ia bertemu—tiga tahun yang lalu—hingga saat ini, keluguan itu sama sekali tidak berkurang maupun bertambah. Benar-benar sama. Padahal, umur Haechan semakin bertambah sehingga keluguan itu lambat laun menjadi kekurangannya yang mungkin dapat dimanfaatkan oleh kebanyakan orang untuk kepentingan tertentu yang tentunya bersifat negatif dan merugikan Haechan di satu belah pihak.

Ia ingin sekali melunturkan keluguan kekasihnya tersebut demi kebaikan pemuda itu juga.

Hanya saja, ia tidak tega.

"Aku mengerti. Tapi belum waktunya bagimu untuk mengerti—"

"Jelaskan, jelaskan, jelaskan!"

Mark merutuk dirinya sendiri. Jika Haechan sudah memulai aksi merajuknya, dapat dipastikan jika ia akan kalah. Mengapa? Karena ia begitu lemah jika dihadapkan dengan wajah dan bibir yang mengerucut seperti itu.

"Belum bisa, Haechan. Belum cukup umur," Mark berbohong.

"Tetapi aku sudah dua puluh tahun, hyung! Bukan anak-anak."

Mark terdiam.

Benar juga. Menurut perhitungan umur di Korea Selatan, pemuda itu termasuk sudah legal. Ia bukan lagi anak-anak yang harus dibimbing.

Tetapi, bagaimana, ya?

Rasanya Haechan belum cocok jika disandingkan dengan berbagai perihal menjijikkan seperti itu.

"Sekali tidak, tetap tidak boleh—"

"Mark-hyung, sekaliiiiii saja!"

Pemuda itu masih merajuk seperti anak kecil sehingga membuat Mark heran sendiri. Bagaimana cara mengatasinya? Di satu sisi, ia benar-benar ingin menghilangkan keluguan Haechan. Sementara di sisi lain, ia tidak yakin mengenai hal itu.

Tetapi, ia juga tidak ingin kekasihnya dimanfaatkan karena keluguannya.

Karena itu, Mark menghela nafas. Hatinya benar-benar bimbang. Namun, ia yakin—kali ini, ia memilih jawaban yang sekiranya tepat.

Pemuda itu membuka mulut,

"Apartemenmu kosong?"

Mark bertanya sambil memalingkan wajahnya yang kini berhadapan dengan sisi kanan dari mobilnya.

"Apartemenku?" Haechan bertanya dengan nada polos. "Kosong."

Mark merasa jika nafasnya mendadak tercekat. Entah mengapa, ia merasa benar-benar gugup saat ini. Tetapi, ia mencoba untuk tetap terlihat tenang di hadapan kekasih manisnya.

"Do you mind if I stay with you for one night?" Tanyanya. "Aku akan menjelaskannya padamu."

Kedua bola mata Haechan berbinar.

"Serius, hyung?" Ia justru melempar sebuah pertanyaan kembali. "Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Aku tidak keberatan jika kau mau menginap satu bulan, pun. Tidak apa!"

Mark tertawa kecil sebelum pemuda itu menyeringai dalam diam.

"Jangan terlalu bersemangat dulu,"

Katanya, menyeringai.

"Nanti tenagamu habis, sayang." []

.

.

.

——fin——

special chapter #2

© Rayevanth, 2019

[A/N]

ini benar-benar terakhir ya :)

untuk special chapter edisi lain aku belum tau ada engga hehe.

terima kasih atas support dan vommentnya 💚🙌 i love you all. rencananya aku akan membuat novel bergenre horror+thriller+paranormal+mystery yang masih ada sangkut pautnya dengan fanfiction... silahkan dibaca ya nantii 💚 hehe

Love you all~!

- Ray Evanth,

calon pacar markonah 2019.