Chapter 22: Part 21

Too Kind • Markhyuck ✓Words: 11015

RENJUN berkacak pinggang ketika pemuda di hadapannya menghalangi keinginannya untuk keluar dari kelas karena ia menghadang pintu.

"Kau mau apa?"

Sudah tiga kali Renjun mencoba untuk menyingkirkan seniornya itu, tetapi miris. Tidak ada satupun percobaan yang membuahkan hasil menyenangkan. Semuanya hanya mampu membuat pemuda di hadapannya ini semakin mendesak.

Ia sudah lelah, sungguh.

Kekasihnya pasti tengah menunggu kedatangannya bersama Yangyang di kafetaria. Jika kalian penasaran, ya. Kelas keduanya terpisah. Si anak Jerman bersama Chenle sementara Renjun berada di kelas yang sama dengan Jaemin si penggila Jeno.

Rasanya Renjun lebih memilih untuk turun kelas ketimbang mendengar jeritan Jaemin setiap harinya.

Beruntung, pemuda yang ia sebut itu sudah keluar dari kelas sejak denting pertama bel istirahat ke-dua berbunyi. Jadi, ia tidak perlu repot-repot menutup telinganya lagi.

Namun, sial.

Pemuda di hadapannya ini justru menghadangnya di depan pintu.

"Bisa cepat tidak?" Renjun mengumpat tertahan. "Aku sedang terburu-buru. Chenle pasti akan mengomel jika aku terlambat menemuinya di kafetaria."

"Kau tidak akan terlambat jika kau meladeni ku sejak awal aku mendatangi kelasmu ini, Huang Renjun yang terhormat."

Tidak ada murid lain di dalam kelas itu selain Renjun dan Mark. Keduanya sibuk saling menatap—seolah melakukan pertandingan untuk membuktikan pandangan milik siapa yang lebih menakutkan. Tetapi, aksi itu segera diputus secara sepihak oleh Renjun yang menghela nafas dan memundurkan tubuhnya dari ambang pintu, merasa percuma jika ia tetap berdiri di sana karena kakinya hanya akan menjadi semakin pegal kalaupun ia memaksa.

"Baiklah," ia menatap pemuda itu dengan tajam. "Apa yang kau inginkan dari ku, sunbaenim?"

Mark menghela nafas.

Sejujurnya ia tidak pernah menyangka jika hari ini akan tiba.

"Anu itu—"

"Boleh minta nomor Haechan?"

Renjun bergeming. Kalau boleh jujur, ia tidak tahu harus berkata seperti apa sebab ia tidak memperkirakan hal ini untuk segera terjadi.

Sejauh ingatannya berkelana, terakhir kali ia menyaksikan drama antara Mark dan Haechan adalah kejadian pada hari terakhir proses karantina berlangsung. Itu pun tidak berakhir bahagia—menurut pandangan Renjun yang tidak tahu menahu mengenai kelanjutan cerira keduanya di dalam kediaman Lee.

"Kau meminta nomornya?" Renjun bertanya, masih tidak dapat memercayai sosok di hadapannya.

Sementara itu, Mark mengangguk.

"Ya, aku butuh," katanya bersemangat. "Bisakah kau memberikannya kepada ku? Aku tahu kau menyimpan nomor ponselnya, Huang Renjun. Ku mohon."

Pemuda berdarah Tiongkok tersebut hanya bisa menghela nafas lagi. Sebenarnya, ia mau saja memberikan nomor Haechan kepada Mark secara cuma-cuma mengingat kondisinya yang seolah dikejar oleh waktu. Tetapi, separuh dari dirinya memberontak—menolak memberikan nomor pemuda lugu itu kepada senior di hadapannya. Takut kejadian dimana Haechan menangis terulang kembali dan Renjun tidak menginginkan hal itu terjadi lagi.

"Kau... serius?"

Mark mengangguk.

Ia tidak bodoh. Ia tahu dengan jelas jika Renjun enggan memberikan nomor sahabatnya karena pemuda itu pernah menyaksikan suatu kejadian tidak menyenangkan di antara keduanya.

"Aku berjanji tidak akan berbuat sesuatu yang menyakiti hatinya kembali. Kau bisa memegang janjiku," Mark berujar dengan nada serius. "Jika aku berbohong kepadamu dan membuat Haechan menangis lagi, kau bisa merampas semua peralatan elektronik di rumah ku sepuasmu! Aku bersumpah, Huang Renjun, aku tidak akan mengulanginya lagi."

Pada awalnya, pemuda itu tampak berpikir keras. Ia tidak ingin bertindak gegabah seperti dahulu.

Tetapi pada akhirnya, Renjun berdecih. Ia tidak percaya jika ia segera meraih ponsel miliknya dan mencari kontak bernama 'Lee Haechan' di dalam daftar penghubungnya. Setelah berhasil mencari kontak tersebut, Renjun menyodorkan ponselnya ke arah Mark yang segera diterima dengan baik oleh sang pemohon.

"Jangan bilang pada Haechan jika aku yang memberikan nomornya," pinta Renjun sembari memutar kedua bola matanya dengan tidak sabar.

"Aku berhutang budi padamu, Huang Renjun," Mark berujar sebelum ia sibuk menyalin sederet nomor milik Haechan di dalam opsi kontak barunya. "Terima kasih, sungguh."

Renjun menahan diri untuk tidak tertawa. Sejujurnya, ia tidak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi.

Seorang Mark Lee dan Haechan.

Dua anak Adam yang sekiranya cukup berbeda. Yang satu merupakan tipe pemuda yang gila belajar dan bersedia menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Yang lainnya adalah tipe pemuda lugu yang terlewat polos sehingga banyak orang mampu membodohinya dengan memanfaatkan keluguannya. Mereka adalah dua tipe orang yang berbeda.

Dan itu membuat Renjun tersenyum kikuk sembari membuang nafas.

"Hei, sunbaenim."

Mark mendongak.

"Jaga Haechan, ya?"

***

PEMUDA manis itu tampak begitu menikmati keindahan alam yang tersaji di halaman belakang kediaman keluarga Lee yang sangat besar.

Menikmati sore hari di dekat kolam renang memang menyenangkan. Rasanya begitu sejuk, membuatmu betah berlama-lama di sini. Haechan duduk di tepi kolam renang dengan kaki yang digoyangkan sehingga terdengar bunyi kecipak-kecipuk di sela merdunya suara para burung yang terbang di atasnya. Belum lagi suasana yang menenangkan akibat banyaknya pohon di sekitar kolam renang membuatnya ingin tidur.

Saking terlenanya dengan pesona alam di sekitar, Haechan tidak sadar jika pintu kaca di belakangnya terbuka, menampilkan seorang pemuda berseragam putih yang menyilangkan kedua lengannya.

Pemuda manis itu justru bersiul mengikuti cuitan para burung yang ia gemari belakangan ini.

Mark tidak berniat untuk mengusiknya sama sekali. Ia hanya ingin memerhatikan pemuda lugu itu dari kejauhan. Jika ia mendekat, perilakunya akan sedikit berubah seolah ia menjaga sikap di hadapan Mark. Tetapi tiba-tiba saja—

"Oh, hyung?"

—pemuda itu menoleh dan segera menyadari kehadirannya di sana.

"Sejak kapan kau berada di situ?" Haechan bertanya dengan riang gembira. Ia segera bangkit dari posisinya dan berdiri menghadap ke arah sosok yang lebih tua darinya.

"Apa sudah sedari tadi? Lalu, kalau begitu, kenapa kau tidak memanggil aku saja, hyung?" Haechan semakin rajin bertanya ketika Mark tidak memberinya respon apapun. "Oh, kau pasti berniat untuk menjahiliku. Benar begitu, bukan, hyung?"

Haechan tertawa miris.

Mark sama sekali tidak merespon perkataannya. Kejadiannya persis seperti adegan dimana Haechan meminta Mark untuk bersalaman tetapi pemuda itu justru meninggalkannya.

"Hyung, kau tahu tidak?" Ia kembali mencoba untuk mendapatkan atensi dari sosok tersebut. "Tadi aku memasak kue untukmu. Kata ahjumma, aku diminta untuk meletakannya di dalam lemari pendingin untukmu agar ketika pulang sekolah nanti, kau dapat menikmatinya selagi dingin!"

"Hyung, kau kenapa? Sakit?"

Mark masih tidak merespon.

"Hyung, kau benar-benar sesakit itu? Apa aku perlu membawamu ke dokter dan menanyai obat apa yang dapat menyembuhkanmu—hyung, perhatikan aku, hyung!"

Haechan sudah tampak putus asa dengan percobaannya tersebut. Tetapi, tidak ada salahnya juga jika ia tetap berusaha meminta perhatian kepada sosok berhati dingin itu.

"Mark-hyung, kau—JANGAN! JA—"

BYUR!

Mark sengaja mendorong Haechan dan dirinya sendiri ke arah kolam renang sehingga menyebabkan keduanya tercebur ke dalamnya.

Kolam itu cukup dalam. Bahkan Mark saja tidak mencapai dasar dari kolam berukuran raksasa tersebut. Hanya Ayahnya saja yang sanggup menyentuhnya karena tubuhnya yang nyaris setinggi dua meter.

Karena kolam itu dalam, keduanya mengambang—tidak mengapung dan tidak tenggelam di dasar kolam.

Haechan kesulitan membuka matanya karena berada di bawah air. Begitu pula dengan Mark yang menggenggam lengannya. Tetapi, ketika ia hendak menggerakkan kelopak matanya—

CUP.

—Mark menciumnya.

Tidak, tidak. Bukan di pipi atau di dahi. Pemuda itu benar-benar mencium bibir-nya. Tepat di bibir.

Haechan membelalakan kedua bola matanya ketika kedua tangan milik Mark menahan tubuhnya agar tetap melayang di dalam air. Tidak ada lagi jarak di antara keduanya sehingga membuat Haechan gugup ketika matanya bertatapan langsung dengan kedua kelopak Mark yang tertutup.

Kecupan itu tidak segera berhenti.

Memang Mark yang memulainya. Tetapi ia tidak ingin menghentikannya barang satu detik.

Haechan benar-benar terbuai olehnya sehingga pemuda itu memutuskan untuk mengikuti permainan dan mengalungkan kedua lengannya di sekitar leher milik yang lebih tua. Ia juga memiringkan kepalanya agar Mark dapat memperdalam.

Ketika keduanya merasa pasokan oksigen semakin menipis, Mark melepas ciuman terlebih dahulu dan membawa Haechan agar tubuh pemuda mungil itu mengapung.

Pandangan mereka tidak lagi memburam. Oksigen dapat pula mereka terima dengan baik. Itu semua terjadi karena keduanya tidak lagi melayang di dalam air.

Belum sempat Haechan menikmati indahnya udara sore itu, Mark sudah menariknya ke dalam pelukan.

"H-hyung, ada apa—"

"Aku menyayangimu."

Pemuda berdarah separuh Kanada itu setengah berbisik di telinga Haechan.

"Maaf. Aku ingin minta maaf atas segala perilaku tidak menyenangkan yang selama ini kau dapatkan dari ku," ia berujar. "Namun, terima kasih. Kau membuka mataku terhadap berbagai kesalahan yang ku lakukan. Kau membuat ku menyadari perasaan ini hari demi hari."

"Hyung—"

"Aku mencintaimu, Haechan."

Wajah pemuda itu merona. Ia dapat mendengar detak jantung Mark yang kecepatannya bertambah sepersekian kali lipat ketika ia berada di dekatnya.

Belum sempat Haechan berkata sesuatu mengenai pernyataan yang lebih tua, Mark sudah terlebih dahulu menyambar sebuah kecupan di bibir ranum milik pemuda tersebut.

Hanya kecupan yang tulus.

Tidak ada lumatan. Tidak ada gigitan. Tidak ada desahan. Hanya ada perasaan cinta yang tulus di antara kedua manusia tersebut.

Tetapi sayang, Mark melepas kecupan itu secara tiba-tiba.

"Lee Haechan-ah."

Sosok itu tidak berani mendongak, membuat Mark terkekeh kecil.

"Jadi kekasihku, ya?"

Mark tidak mendapatkan respon apapun dari lawannya selama lima detik sebelum ia menerima sebuah kecupan lagi dari Haechan.

Kali ini disertai dengan lumatan dan beberapa gigitan kecil.

Tetapi, Haechan dan Mark tidak mempermasalahkannya. Mereka menikmati hal tersebut.

Matahari tenggelam dalam diam, menjadi saksi bisu atas terjalinnya cinta di antara mereka. Para burung bercuit bahagia melihat keduanya. Rumput yang bergoyang dan Hugo si anjing besar turut merasa bangga.

Pada akhirnya, jika memang sudah ditakdirkan, kita bisa berbuat apa?

Hanya tinggal menunggu alam menyatukan kita saja.

Semua adalah tentang waktu.

Jika ditanya apakah Haechan dan Mark ingin mengulang waktu mereka, keduanya akan menjawab tidak dengan cukup lantang walaupun mereka telah melalui berbagai memori yang indah dan membahagiakan.

Tetapi, tidak.

Karena faktanya, mereka sudah bahagia. []

.

.

.

[ f i n ]

© Rayevanth, 2019

stay tuned for epilogue and special chapter(s)! thank you for your support, vote, and comment, guys. I really love y'all 💚

- ray, 2019