Chapter 2: Part 01

Too Kind • Markhyuck ✓Words: 8238

"ER wachte auf!"

Haechan dapat mendengar sebuah seruan yang dilontarkan dalam bahasa asing menggema di ruangan yang cukup besar ini. Perlahan namun pasti, kelopak matanya terbuka dan berusaha untuk menerima rangsangan cahaya di sekitarnya.

Pemandangan ini asing. Tidak terasa familiar sama sekali baginya.

Tak lama kemudian, terdengar sebuah suara yang menginterupsi kesunyian kembali. Sontak, Haechan menengok pelan ke arah sumber suara.

"Halo," sapa pemuda bersurai pirang di sebelah ranjang. "Hyung sudah siuman?"

"... Hyung?"

Haechan kira ia akan menjadi yang termuda di dalam olimpiade nasional ini karena statusnya sebagai murid kelas sepuluh. Namun, tampaknya fakta berkata sebaliknya. Lantas, berapa usia dari pemuda bersurai pirang di sebelahnya ini? Mana mungkin ia murid sekolah menengah pertama.

"Murid akselerasi," pemuda itu berkata lagi, seolah mampu membaca pikiran Haechan yang berkelana ke sana dan kemari. "Melompati tahun ke-dua sekolah menengah."

Kemudian, pemuda itu terkekeh pelan. Kesadaran yang merambati Haechan mulai menyatakan jika di samping kiri pemuda bersurai pirang tersebut berdirilah seorang pemuda lainnya. Tampangnya mesum dan tubuhnya cukup tinggi. Jelas anak ini bukan berasal dari Korea Selatan.

"Aku Chenle," si rambut pirang mengulurkan tangannya. "Di sebelah ku ini Yangyang-hyung. Orang Jerman yang menetap di Korea Selatan."

Membalas sapaan pemuda manis tersebut, Haechan turut mengulurkan tangannya dan balik menjabat. Tetapi, satu detik kemudian, sebuah bantingan pintu terdengar dan membuat dirinya berjengit. Sementara itu, Yangyang memisuh dalam bahasa asing dan Chenle terlihat sudah terbiasa dengan kondisi ini.

"Jangan sentuh Chenle!"

Seruan itu menggema. Berasal dari seorang pemuda bertampang tidak bersahabat yang memaksa masuk ke dalam kamar dengan sekantung penuh roti melon di tangan kanannya.

"Gege. Sudahlah."

Mendengar kalimat itu meluncur dari mulut mungil milik Chenle membuat Haechan yakin seratus persen jika kedua pemuda yang baru saja ia lihat ini memiliki darah Tiongkok yang cukup kental.

"Aku tidak menyentuh-"

"Ya, kau menyentuhnya," pemuda bertampang garang itu mendengus. "Jangan pernah menyentuh properti milik ku, sialan!"

Cepat-cepat pemuda tersebut mendaratkan bibirnya di atas milik Chenle dan melumatnya sedikit. Yangyang menjerit dalam bahasa asing entah untuk kali ke-berapa dan meninggalkan tanda tanya di dalam benak Haechan yang masih belum bisa memahami apa yang terjadi.

Semua terasa begitu cepat.

"Sudah!" Chenle mendorong kecil pemuda yang menciumnya dan membersihkan bibirnya dari noda sekecil apapun. Hancurlah sudah kesan pertamanya di hadapan Haechan.

Sementara itu, pemuda yang membawa roti melon ke dalam kamar itu menyeringai menang.

"Huang Renjun," Chenle berucap. "Kekasihku."

Pantas saja.

Walau kesannya terpaksa, namun Haechan tidak melihat adanya pemberontakan berasal dari Chenle ketika pemuda bernama Renjun itu masuk ke dalam kamar dan menciumnya begitu saja di hadapan seseorang yang bahkan tidak mengenal mereka.

"Oh, kalau begitu, maaf," Haechan membungkuk di hadapan Renjun dan segera mendapatkan pelototan dari kekasih pemuda tersebut.

"Tidak! Tidak perlu minta maaf."

"Tetapi, nanti kekasihmu-"

"Dia memang seperti itu," terang Chenle sembari tertawa kecil. "Seolah ada pengingat setiap kali aku bersentuhan dengan orang lain selain dirinya sendiri."

Mendengar penuturan tersebut mau tak mau membuat Haechan yang belum memiliki seorang kekasih merasa asing. Tidak begitu mengerti bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Tidak benar-benar paham mengenai rasa cemburu yang baru-baru ini dirasakan oleh Renjun tatkala menyadari jika Haechan tengah berpegangan tangan dengan kekasihnya yang sama-sama mungil.

"Hng, maaf-" sebuah suara terdengar dari Yangyang. "-sebaiknya jangan terlalu ribut. Dia ini orang sakit, lho."

Chenle mengangguk, membenarkan kalimat yang dilontarkan temannya. Bagaimana pula ia dapat melupakan fakta sepenting itu?

"Benar juga," katanya. "Tetapi, rasanya berada di ruangan ini tidak terlalu nyaman."

"Lantas?"

"Ayo, kita keluar saja. Berjalan-jalan mengitari hotel karantina."

***

"TADI itu ruangan apa?"

Haechan bertanya. Kedua tungkai jenjangnya berusaha untuk mengimbangi langkah ketiga pemuda di sebelahnya yang cukup cepat.

"Anggap saja seperti unit kesehatan sekolah," Renjun menjawab sembari mendesah. Roti melon yang ia beli sudah habis setengahnya dari total tujuh buah roti. Chenle berkata jika kekasihnya tersebut belum mengisi perutnya dengan sarapan sehingga tidak heran jika manusia pencemburu itu merasa lapar.

"Kau pingsan," giliran Yangyang mengambil alih pembicaraan. "Lalu, guru pendampingmu memanggil ambulans. Kau tiba di hotel lebih cepat dari kami. Serangan panik, kata dokter. Penyakit paru-parumu kambuh juga."

Haechan ber-oh ria. Tidak pernah menyangka jika penyakitnya akan bangkit kembali di saat yang sama sekali tidak tepat. Beruntung guru fisikanya berada bersamanya. Jika tidak, bisa-bisa kondisinya menjadi semakin gawat dan tidak tertolongkan. Membayangkannya saja Haechan tidak mau.

"Lalu... kalian ini-"

"Teman sekamarmu."

Lagi-lagi, Haechan hanya membulatkan mulutnya. Sedikit banyak ia merasa beruntung telah bertemu teman-teman sekamarnya lebih awal.

"Kamar kita berada di gedung nomor dua. Bukan di sini," Chenle menjelaskan. "Ini gedung para perempuan genit nan menyebalkan."

"Lantas kenapa kita di sini?"

Haechan memandang ke sekelilingnya dan benar saja. Para gadis yang berjuang di dalam olimpiade yang sama itu menatap mereka. Beberapa dari mereka bahkan menjerit saat mendapatkan empat orang anak lelaki berjalan santai di gedung penginapan milik para gadis.

"Ruang medis hanya terdapat di gedung nomor satu," Yangyang menjawab. "Es ist nicht gut."

"Apa yang dia bilang?"

"Itu tidak bagus," salah seorang dari kedua pemuda berdarah Tiongkok itu menerjemahkan kalimat yang dilontarkan oleh Yangyang dalam bahasa Jerman. Entah pemuda yang mana-Haechan tidak terlalu menaruh perhatian pada perbincangan.

"Oh, benar," Chenle menepuk tangannya. "Barang-barangmu sudah diangkut oleh guru pembimbing. Ada di dalam kamar kita."

Haechan tersenyum sambil mengangguk.

"Omong-omong, kau-" berusaha mengamati pemuda di sebelahnya secara lebih saksama, Renjun mendongak. "-Lee Haechan?"

"Iya. Aku bahkan baru menyadari jika sedari tadi kalian tidak memanggil namaku."

"Kami tahu namamu. Aku hanya memastikan saja."

"Sudah sekamar, satu grup pula. Bagaimana kami tidak mengenalmu, Lee Haechan-hyung?" Chenle bertanya dengan nada guyon. Pemuda itu tertawa nyaring dan membuat Haechan harus menutup telinganya akibat polusi udara.

"Siapa tahu kalian hanya-"

BRUK.

Tubuh yang limbung membuat Haechan menabrak sesuatu-atau bahkan lebih parah lagi, seseorang.

Sebelum menyadari kesialan yang menimpanya, Haechan dapat melihat jika beberapa buku yang pemuda itu bawa kini terjatuh di atas lantai dengan posisi yang berantakan.

"Astaga, maaf!"

Sontak, Haechan membungkuk dan mengambil empat buku yang terjatuh. Rasa takut mulai menggerayanginya. Pemuda itu menjadi ragu untuk mendongak.

Kala manik obsidian milik keduanya bertemu, Haechan mampu menangkap sirat rasa sebal di mata lawan bicaranya.

"Kau membuang waktuku, brengsek."

Haechan mengerjapkan matanya. Lima detik kemudian, barulah ia tersadar jika punggung pemuda yang ia tabrak itu kini berjalan menjauh. Tidak lama, sebuah tepukan pelan di bagian bahu dapat ia rasakan.

Seorang pemuda lainnya.

"Maafkan temanku," ucapnya sembari melipat bibir. "Dia memang-eung-frontal."

Setelah itu, pemuda tersebut pergi menyusul temannya yang sekarang kembali disibukkan dengan berbagai buku yang ia bawa. Satu buah di tangan kanannya, terbuka. Sisanya ia genggam seolah beban ketiganya ringan bagaikan ranting pohon.

"Haechan-hyung," Chenle mencolek punggung teman barunya sambil berdecak. "Hyung!"

"Itu-"

Alih-alih membalas, Haechan terdiam dalam posisinya.

"-siapa?" []

***

© Rayevanth, 2019

[a/n]

for 'if you seek amy', i will republish it after the loooooong weeks of national exam, graduation preparation, and other things that keep bothering me.

i'm really sorry :')

and for your information, i probably will start writing fiction in English soon. YEAY!💕

oh iya, jangan lupa vomment dan share work ini yaa. thank you

-ray