Chapter 14: Part 13

Too Kind • Markhyuck ✓Words: 10808

"TERIMA kasih atas partisipasinya dalam olimpiade fisika tingkat nasional ini!"

Ketua panitia berujar sembari tersenyum lebar kepada para peserta yang kini tengah berkumpul di hall utama guna melaksanakan upacara penutupan olimpiade yang sekiranya hanya berlangsung selama satu jam-tidak kurang dan tidak lebih.

Haechan duduk manis di bangku beserta dengan kedua kaki yang dirapatkan. Sementara itu, Yangyang duduk di samping kirinya dan Jaemin di sisi sebaliknya. Seperti biasa, Chenle dan Renjun duduk di sebelah Yangyang. Dapat kalian duga jika keduanya tidak menaruh atensi pada pidato sang ketua dan justru mengalihkan pembicaraan dengan memainkan rambut satu sama lain dengan posisi kepala Chenle tertidur di pundak sempit milik kekasihnya.

Sedikit banyak Haechan bersyukur-berkat penghangat ruangan milik Mark yang ia pinjam selama lima belas menit, kini tubuhnya tidak lagi merasa kedinginan.

Ah, tentang hal itu.

Sebenarnya tidak ada sesuatu yang terjadi. Hanya Haechan yang menggunakan penghangat ruangan milik Mark dan situasi di dalam kamar yang benar-benar sunyi. Bahkan, pemuda itu tidak bersamanya. Ia justru pergi menghilang keluar dari kamar-mungkin bertemu dengan Jeno, mungkin saja tidak.

Yah, walaupun Mark sempat bertanya apakah Haechan ingin ditemani atau tidak dan mendapatkan sebuah gelengan tegas sebagai jawabannya.

Hanya seperti itu.

Mark yang berusaha untuk menghormati privasi Haechan tersebut memilih untuk tersenyum dan keluar dari kamar, meninggalkan Haechan yang berubah menjadi ketus dan sang pemanas ruangan di dalam.

"-chan!"

Pemuda itu menoleh ke arah sumber suara dan segera menemukan sosok Taeyong di hadapannya. Kemudian, ia menyeringai.

"Namamu dipanggil!" Tanpa berbasa-basi, Taeyong berujar. "Naik ke atas panggung! Cepat, cepat!"

"I-iya, iya-"

Haechan tidak melanjutkan kalimatnya dan memilih untuk segera berjalan menuju panggung dengan langkah yang begitu cepat. Selagi ia berjalan, ia juga sempat mendengar namanya kembali diserukan.

"Lee Haechan, second place!"

Gemuruh sorak sorai dari para peserta kembali meramaikan suasana di sekitar Haechan sehingga pemuda itu kini berjalan sedikit limbung. Tetapi, pemuda itu terus berjalan maju hingga pada akhirnya, ia pun sampai di atas panggung dengan peluh yang terus bercucuran karena gugup memegang piala perdananya pada masa sekolah menengah atas. Sebuah medali perak juga tercantum di kemeja putih yang ia kenakan.

Perak, ya?, Haechan bergumam. Ya sudahlah, tidak terlalu buruk juga.

"Dan kini," ketua panitia pelaksana kembali membuka suara dan membuat sorak sorai di antara para peserta terdengar begitu riuh.

"First place-"

Haechan berani bersumpah.

Ia memandangi pemuda yang kini tengah berjalan menuju panggung itu. Namun, wajahnya sama sekali tidak menampilkan sebuah senyuman. Padahal-

"Mark Lee!"

Ini kemenangan yang ia dambakan itu, bukan?

***

HAECHAN keluar dari dalam taxi dengan senyuman lebar terukir di wajahnya yang manis.

Pasalnya, pemuda itu baru saja mendapatkan beberapa pesan dari teman-teman barunya yang kini sudah kembali ke sekolah mereka dengan bus. Kelimanya memang sempat bertukar nomor ponsel sesudah sesi upacara berakhir dan sekarang, mereka sibuk bertukar pesan di dalam grup obrolan yang mereka buat. Sebagai pesan selamat tinggal, mereka mengirimi Haechan berbagai pesan yang cukup spesial.

nanazoo

Bye bye, pudu

I'm gonna miss ya :(

13.10

Itu dari Jaemin.

yangsquared

Chan-ah

Jangan lupakan kami di Busan!

Sehat selalu, ya

13.09

Itu dari Yangyang.

chenlezhong

halo, ini aku dan gege

Karena gege sedang tidak ingin bermain ponsel, jadi kami mengucapkan bersama-sama di sini.

Sehat selalu, ya, hyung!

Kau akan selalu kami ingat.

13.12

Kalau itu, dari sepasang kekasih sejoli yang menurut Haechan sangat serasi.

Pemuda itu tersenyum lebar kala matanya memandangi pesan-pesan tersebut. Sedikit banyak ia merasa beruntung jika penyakit paru-parunya kambuh di saat yang tidak tepat. Kalau tidak, ia ragu jika akan menjadi sedekat ini dengan teman-temannya tersebut.

"Kenapa?"

Tiba-tiba Taeyong bertanya. Kedua tangan pria itu sibuk membawa dua buah koper dari dalam bagasi karena sedari tadi, Haechan tidak mengulurkan tangannya sedikit pun untuk membantu pria tersebut.

"Tidak apa-apa," Haechan menjawab sambil tersenyum. "Hanya beberapa pesan perpisahan dari teman-teman."

Keduanya beranjak menjauh dari area drop off dan segera melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam bandara.

Mungkin ini adalah kali terakhir Haechan berada di wilayah ibu kota-siapa tahu.

Tetapi, rasanya cukup berat meninggalkan Seoul. Kota metropolitan yang menjadi saksi di antara semua jerih payah Haechan untuk meraih juara dalam olimpiade fisika tingkat nasional yang akan menjadi batu loncatannya kelak. Kota dimana ia dapat bertemu dengan beberapa teman yang mampu membuatnya tertawa sampai jatuh ke lantai karena lelucon yang Jaemin atau Chenle lontarkan. Kota dimana ia dapat bertemu dengan beberapa kompetitor yang haus akan kemenangan dan bersedia menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan trofi emas yang mereka dambakan sejak tahun pertama.

Haechan menghela nafas, tetapi langkahnya tidak berhenti begitu saja di area pemeriksaan yang penuh akan anak-anak sebayanya beserta pendamping mereka yang hendak kembali ke daerah masing-masing.

Sejujurnya, ia tidak bermaksud menyindir seseorang di kalimat terakhirnya.

Hanya saja, Haechan pikir akan sangat menyenangkan berteman dengan Mark. Tetapi, mendengar penuturan Renjun membuatnya berpikir ulang. Kalau boleh jujur, ia merasa kecewa terhadap dua hal-akan dirinya sendiri yang terlalu lugu sehingga tidak bisa membaca makdud terselubung seseorang dan akan pemuda itu yang memanfaatkan keluguannya tersebut untuk menjauhkannya dari jalan kemenangannya.

Ah, benar.

Omong-omong tentang Mark, tiba-tiba saja Haechan melihat seseorang yang mirip dengannya di sebuah toko di dalam ruang tunggu.

Haechan yang tengah duduk di bangku ruang tunggu segera menyipitkan kedua matanya. Wajah milik pemuda yang ia duga tampak seperti Mark tersebut tidak begitu terlihat jelas karena terhalangi oleh topi hitam yang ia kenakan. Tetapi, well, proporsi tubuh dan pergerakannya benar-benar mirip dengan Mark yang sedikit kikuk.

"Seonsaengnim," Haechan memanggil pria di sebelahnya dan sukses membuat Taeyong mengalihkan pandangannya dari ponsel. "Bolehkah aku pergi membeli beberapa keperluan di toko yang terletak di sana?"

"Keperluan apa?"

"Kebetulan aku ingin membeli sesuatu yang dingin dan menyegarkan seperti es limun. Boleh?"

Taeyong tampak berpikir sebentar. Tetapi satu detik kemudian, pemuda itu mengangguk memperbolehkan. "Asalkan kau perhatikan waktu. Lima menit lagi kita harus masuk ke dalam pesawat."

Haechan mengangguk bersemangat sembari memberikan senyum termanisnya kepada Taeyong. "Aku janji, aku janji!" Serunya sebelum melangkah pergi dari area tunggu dan memasuki toko yang ia maksud.

Warna merah mendasari ornamen dari toko tersebut. Sepertinya sebuah minimarket. Karena dilihat bagaimanapun, toko ini menjual berbagai macam keperluan yang dibutuhkan oleh penumpang sebelum pergi dengan pesawat. Mulai dari peralatan mandi hingga makanan dan minuman ringan disediakan dengan baik oleh toko yang murah hati ini.

Klontang!

Haechan membuka pintu dari toko tersebut dan segera disambut oleh pemuda di balik meja kasir yang tengah sibuk melayani beberapa kustomer.

"Selamat datang di toko kami. Selamat berbelanja!" Katanya sebelum Haechan memasuki toko lebih dalam dan beranjak menuju area yang menjual minuman-minuman di dalam mesin pendingin.

Tepat di belakang mesin tersebut, Haechan menemukannya.

Ia menemukan sosok yang ia duga tampak seperti Mark Lee itu. Pemuda dengan topi hitam yang menutupi wajahnya dan jaket hitam yang melengkapi busananya. Pemuda yang berhenti di depan rak yang menjual berbagai jenis makanan ringan sembari bermain ponsel—yang sejujurnya cukup membuat beberapa orang yang ingin membeli produk makanan tersebut cukup jengkel.

Tanpa sadar, pandangan Haechan terus-menerus jatuh pada sosok itu.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Lima detik.

Sepuluh detik—

"Sampai kapan kau mau memandangiku, Haechan?"

Kedua bola mata Haechan sontak terbebelalak kaget ketika pemuda di hadapannya itu berkata tanpa membalik badannya.

Yang jelas, ia tahu benar suara siapa itu.

"Sedang apa kau di sini?"

"Aku?" Pemuda itu membalik tubuhnya hingga kini Haechan dapat melihatnya dengan jelas. "Mengantar ibuku yang pergi dinas ke Nagoya."

Haechan berhenti berbicara. Entah dorongan apa yang membuatnya enggan bertanya lebih jauh kepada Mark yang ia temui secara tidak sengaja di dalam toko. Pemuda itu justru berbalik dan mengambil sebuah limun kalengan dari dalam lemari pendingin, kemudian berlalu meninggalkan Mark di sana.

Beruntung baginya sebab ia tidak perlu mengantri karena tidak ada pelanggan lain di hadapan meja kasir.

"Tidak ada barang tambahan?" Sang penjaga kasir bertanya kepada Haechan yang tersenyum di hadapannya.

"Tidak ad—"

"Ada," tiba-tiba saja sebuah suara menginterupsi di belakangnya. Dapat dilihatnya jika Mark tengah menyodorkan sekaleng minuman susu bersoda kepada penjaga kasir yang gugup melihat perubahan ekspresi Haechan.

"Apa maumu?"

Mark yang tengah membuka dompetnya segera mengalihkan atensi pada Haechan yang bertanya.

"Aku hanya ingin membeli sebuah soda," ia berkata sembari mengeluarkan lembaran lima ribu won dari dalam dompet kulitnya.

"Lantas, urusi belanjaanmu sendiri. Untuk apa membayarkan barangku?"

Haechan menyingkirkan kaleng soda milik Mark dari pandangannya dan membuat sang petugas di balik kasir terbelalak. "Tuan, sodanya—"

"Itu miliknya, bukan—"

Tetapi Mark kembali menyodorkannya.

"Saya yang akan membayar dua barang tersebut," katanya santai, membuat Haechan kembali memandanginya dengan sebal.

"Sudah ku bilang, tidak!"

Kaleng soda itu kembali bergeser.

"Tapi ku bilang, iya!"

Dan bergeser ke tempatnya semula.

"Tidak!"

Bergeser lagi.

"Iya, biar aku saja."

Bergeser lagi.

"Tidak, tidak, dan tid—"

"Perhatian. Panggilan terakhir bagi penumpang pesawat Korean Air dengan nomor penerbangan KA918 tujuan Busan dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu C12. Harap segera naik ke pesawat udara dalam dua menit."

Haechan terbelalak.

Raut wajahnya berubah drastis. Peluh mulai bercucuran di sekujur tubuhnya. Kondisi menjadi semakin parah ketika ia tersadar jika sudah lima belas menit ia habiskan di dalam toko ini hanya untuk berdebat dan bertemu sapa dengan sosok yang paling tidak ingin ia temui.

Drrrrrt.

Selekas mungkin, Haechan menerima panggilan dari ponselnya itu.

"Lee Haechan, kau dimana?! Pesawat akan segera berangkat!" []

***

© Rayevanth, 2019

[a/n]

aku kurang tahu tentang pengumuman boarding di bandara hehe. jadi aku hanya sedikit menyalin dari internet dan mengubahnya sedikit :)

by the way,

jangan lupa share dan vomment ya guysss. love you!